Berita

Keputusan Final! Peserta Seleksi DPRK Otsus Wamena Desak Pelantikan, Tolak Provokasi

WAMENA, TOMEI.ID | Polemik hasil seleksi Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) jalur Otonomi Khusus (Otsus) di Wamena, Papua Pegunungan, kian mengemuka, memicu perhatian serius berbagai pihak terkait dan masyarakat luas.

Di tengah dinamika tersebut, para peserta seleksi menegaskan sikap tegas bahwa keputusan Gubernur Papua Pegunungan bersifat final, mengikat, dan harus segera ditindaklanjuti melalui pelantikan tanpa intervensi maupun politisasi.

Dalam konferensi pers, Kamis (9/4/2026), sejumlah perwakilan wilayah adat seperti Lukas Italay, Agustina Huby, Agus Huby, Paulus Kosay, dan Unas Ginia menyatakan sikap bersama untuk menolak segala bentuk provokasi yang berpotensi memperkeruh situasi.

Mereka menegaskan seluruh tahapan seleksi telah melalui mekanisme resmi dan sah, sehingga tidak lagi membuka ruang tafsir atau perdebatan di ruang publik, serta wajib dihormati dan segera ditindaklanjuti tanpa penundaan lebih lanjut.

Unas Ginia menegaskan bahwa instruksi Gubernur sudah jelas dan Surat Keputusan telah terbit serta memiliki kekuatan hukum penuh. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk memperlambat atau menggagalkan proses pelantikan demi kepentingan tertentu.

“Instruksi Gubernur sudah jelas, Surat Keputusan sudah terbit. Siapa pun yang ditetapkan adalah keputusan final. Jangan ada upaya menggiring opini yang memperkeruh keadaan, apalagi mengganggu stabilitas yang telah ditetapkan secara sah,” tegasnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi respons atas beredarnya berbagai opini di media sosial dan ruang percakapan digital yang dinilai berpotensi memecah belah masyarakat serta mengganggu stabilitas daerah.

Para peserta seleksi juga menegaskan bahwa DPRK jalur Otsus bukan ruang politik praktis, melainkan representasi wilayah adat yang lahir dari proses seleksi khusus. Setiap upaya menggiring isu ke arah konflik kepentingan dinilai sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab.

Sementara itu, di tempat yang sama, Agus Huby dari wilayah Useloma menegaskan bahwa seluruh peserta telah melalui proses seleksi secara bersama dan terbuka, transparan, akuntabel, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada publik dan masyarakat adat.

“Proses ini sudah selesai dan sah. Jika ada yang terpilih, itu adalah perwakilan bersama. Jangan ganggu stabilitas hanya karena kepentingan tertentu. Keputusan gubernur tidak dapat digugat di ruang opini publik,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan, mekanisme hukum melalui Pengadilan Tata Usaha Negara merupakan satu-satunya jalur yang sah sesuai ketentuan, bukan melalui mobilisasi opini atau aksi di luar prosedur hukum.

Hal senada disampaikan Lukas Italay yang menilai seluruh tahapan seleksi telah berjalan sesuai mekanisme yang berlaku. Ia mendesak pemerintah daerah, khususnya Bupati, untuk segera menindaklanjuti dan melaksanakan pelantikan.

“Proses sudah selesai, Surat Keputusan sudah ada. Tidak ada alasan untuk menunda. Bupati harus segera melantik agar polemik tidak berlarut dan tidak mengganggu stabilitas pemerintahan,” tegasnya.

Lebih lanjut, para peserta menyoroti dampak keterlambatan pelantikan terhadap pengelolaan dana Otsus yang disebut telah mulai dicairkan. Tanpa kehadiran DPRK yang definitif, fungsi pengawasan dinilai tidak berjalan optimal dan berpotensi membuka celah persoalan baru dalam tata kelola anggaran.

Dalam pernyataan bersama, para peserta menegaskan bahwa Tim Seleksi hanya menjalankan fungsi administratif, sementara keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Gubernur sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 106.

Di tengah situasi yang sensitif, mereka mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap tenang, menahan diri, dan tidak terprovokasi oleh narasi yang dapat memicu konflik horizontal, perpecahan sosial, serta ketegangan berkepanjangan di tengah masyarakat.

“Jika tidak puas, tempuh jalur hukum. Jangan membangun kegaduhan, jangan memecah belah masyarakat, serta jangan mengorbankan stabilitas demi kepentingan sesaat yang tidak bertanggung jawab,” tutup Unas Ginia.

Dengan sikap tersebut, para peserta seleksi DPRK jalur Otsus dari Jayawijaya dan wilayah adat lainnya menegaskan bahwa proses telah mencapai tahap final. Saat ini, yang dibutuhkan adalah pelaksanaan keputusan, bukan polemik berkepanjangan yang justru menghambat stabilitas dan merugikan kepentingan masyarakat luas. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

KNPB dan NGR Sebut 122.931 Warga Sipil Mengungsi, Desak PBB Tangani Krisis Kemanusiaan di Papua

NABIRE, TOMEI.ID | Komite Nasional Papua Barat (KNPB) bersama Nieuw Guinea Raad (NGR) Wilayah Intan…

2 jam ago

Polda Papua Tengah Buka Dua Lomba Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Total Hadiah Rp16 Juta

NABIRE, TOMEI.ID | Polda Papua Tengah resmi membuka pendaftaran Lomba Fotografi Bhayangkara dan Lomba Konten…

2 jam ago

Youth Camp GPI se-Tanah Papua Ditutup di Jayawijaya, 41 Pemuda Siap Dibaptis dan 16 Nyatakan Diri Jadi Hamba Tuhan

WAMENA, TOMEI.ID | Youth Camp Baliem Valley Gereja Pekabaran Injil (GPI) Jalan Cuci se-Tanah Papua…

3 jam ago

Pemprov Papua Tengah Lepas Peserta Bimbel Sekolah Kedinasan, Siapkan SDM OAP Hadapi Seleksi Nasional

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah terus memperkuat investasi di sektor sumber daya…

6 jam ago

Pemkab Mimika, Freeport dan YPMAK Satukan Kekuatan, Dorong Pembangunan Terintegrasi untuk Kesejahteraan Masyarakat

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika, PT Freeport Indonesia (PTFI), dan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat…

6 jam ago

BOSDA Rp14,6 Miliar Digelontorkan, Pemprov Papua Tengah Perluas Program Pendidikan Gratis bagi Ribuan Siswa

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah mengalokasikan Rp14.629.475.000 melalui Bantuan Operasional Sekolah Daerah…

8 jam ago