Berita

KNPB Kutuk Eskalasi Kekerasan di Papua, Desak Penghentian Operasi Militer dan Investigasi HAM

NABIRE, TOMEI.ID | Badan Pengurus Pusat Komite Nasional Papua Barat (BPP KNPB) mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi memburuknya situasi kemanusiaan dan eskalasi konflik bersenjata di Papua dalam beberapa pekan terakhir.

KNPB menyoroti adanya korban jiwa, luka-luka, serta meningkatnya jumlah pengungsi akibat operasi militer, kontak senjata antara TPNPB dan aparat keamanan, serta konflik horizontal antarkelompok masyarakat.

Dalam pernyataannya, KNPB menyebut dua remaja, Listin Sam (17) dan Sisa Dapla (18), menjadi korban ledakan di Yahukimo. Listin dilaporkan meninggal dunia, sementara Sisa mengalami luka serius. KNPB menuding ledakan tersebut berasal dari “bom yang dijatuhkan drone militer,” klaim yang hingga saat ini belum terkonfirmasi secara independen.

Selain itu, KNPB menyoroti bentrokan di Kapiraya, perbatasan Kabupaten Deiyai dan Mimika, terkait sengketa penambangan emas ilegal. Insiden itu menewaskan seorang warga bernama Neles Peuki dan melukai tujuh orang lainnya. Situasi di lokasi masih dinilai tegang, sementara beberapa korban belum mendapatkan penanganan medis yang memadai.

BPP KNPB merilis 11 poin sikap politik dan kemanusiaan terkait eskalasi konflik di Papua.

Pertama, KNPB mendesak Presiden Prabowo Subianto menghentikan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dianggap mengancam keberlanjutan hidup masyarakat adat. Kedua, KNPB meminta Kementerian Pertahanan dan Panglima TNI menghentikan operasi militer di pemukiman warga, yang berpotensi menimbulkan korban sipil.

Ketiga, mereka mengajak lembaga HAM nasional maupun internasional memfasilitasi pemulangan warga pengungsi akibat konflik di berbagai kabupaten. Keempat, KNPB menuntut negara bertanggung jawab atas lebih dari 100 ribu pengungsi internal, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar mereka.

Kelima, KNPB mendesak TNI–Polri mengembalikan fasilitas publik, seperti sekolah, gereja, balai desa, dan rumah warga, yang disebut digunakan sebagai pos militer. Keenam, mereka menyerukan semua pihak bersenjata mematuhi hukum humaniter internasional dan melindungi warga sipil.

Ketujuh, KNPB meminta penyelesaian konflik horizontal Mee–Kamoro melalui mekanisme adat. Kedelapan, mereka mengimbau kelompok Kei agar menghormati hak masyarakat adat Papua.

Kesembilan, KNPB mendesak pemerintah membuka ruang bagi penentuan nasib sendiri sebagai solusi politik konflik Papua. Kesepuluh, mereka meminta negara membuka akses bagi lembaga HAM internasional untuk melakukan investigasi.

Kesebelas, KNPB mengutuk penggunaan senjata yang disebut “bom drone” dan “senjata kimia,” yang dinilai bertentangan dengan Protokol Jenewa 1925, Konvensi Senjata Kimia 1993, dan Statuta Roma.

Ogram Wanimbo, Juru Bicara Nasional KNPB, menegaskan bahwa situasi di Papua membutuhkan pengawasan internasional dan penyelesaian akar masalah politik agar kekerasan tidak terus berulang.

“Tanpa dialog politik yang nyata dan perlindungan hak asasi manusia, konflik ini akan terus menimbulkan korban di kalangan warga sipil,” ujar Wanimbo dalam keterangan pers resmi yang diterima tomei.id. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

IMPT Cup 2026 Resmi Dibuka, Jadi Ajang Kaderisasi dan Seleksi Tim

MANOKWARI, TOMEI.ID | Turnamen Persahabatan IMPT Cup 2026 resmi dibuka di Lapangan IMPT Paptu Cris…

9 jam ago

BERITA FOTO: Sidak Puspem, Deinas Geley Pastikan Pembangunan Dikebut hingga Akhir Tahun

NABIRE, TOMEI.ID | Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, bersama jajaran pemerintah daerah meninjau langsung…

9 jam ago

Sidak Puspem, Deinas Geley Tegaskan Pembangunan Tiga Tower Tuntas 31 Desember

NABIRE, TOMEI.ID | Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, menegaskan pembangunan tiga tower rumah ASN…

10 jam ago

Victor Fun: Ibu Rumah Tangga Perlu Diperkuat untuk Bangun Ekonomi Keluarga

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah, mendorong peningkatan kapasitas ibu rumah tangga dan…

11 jam ago

Kepala Suku Besar SIMPAPITOWA Tutup Layanan Penyelesaian Adat di Jayanti

NABIRE, TOMEI.ID | Kepala Suku Besar SIMPAPITOWA Tota Mapia, Fabianus Tebai, secara resmi menghentikan layanan…

15 jam ago

Kontrakan Mahasiswa Puncak Jaya di Bandung Belum Lunas, IPMAPUJA Desak Pemda Segera Menyelesaikan

BANDUNG, TOMEI.ID | Persoalan pembayaran kontrakan mahasiswa asal Kabupaten Puncak Jaya di Kota Bandung, Jawa…

15 jam ago