Berita

KNPB Resmi Deklarasikan Papua dalam Status Darurat Militer dan Kemanusiaan

JAYAPURA, TOMEI.ID | Badan Pengurus Pusat Komite Nasional Papua Barat (BPP–KNPB) menetapkan Papua sebagai “Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan” melalui hasil Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) VIII.

Keputusan tersebut tertuang dalam Siaran Pers Nomor: 053.I/SP/BPP.KNPB/IV/2026 yang ditetapkan di Timika, Papua Tengah, Kamis (16/4/2026), dan diterima redaksi tomei.id pada Sabtu (18/4/2026).

Dokumen itu ditandatangani Ketua Umum BPP-KNPB, Agus Kossay, sebagai bentuk penegasan sikap resmi organisasi terhadap situasi Papua yang dinilai semakin kompleks dan memprihatinkan.

Dalam pernyataannya, KNPB menyebut konflik Papua merupakan konflik berkepanjangan yang belum menemukan penyelesaian hingga saat ini. Konflik tersebut, menurut KNPB, berakar dari perbedaan pandangan sejarah dan politik, termasuk proses integrasi Papua ke dalam Indonesia yang hingga kini masih menjadi perdebatan.

KNPB menguraikan bahwa konflik Papua telah berlangsung sejak masa dekolonisasi, mulai dari sengketa antara Indonesia dan Belanda, pembahasan dalam Konferensi Meja Bundar 1949, hingga keterlibatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969 yang dinilai tidak berjalan sesuai prinsip “one man one vote”.

Menurut KNPB, dinamika tersebut memicu perbedaan pandangan di tengah masyarakat Papua dan melahirkan berbagai bentuk perlawanan, yang berkembang dari konflik sipil hingga konflik bersenjata.

Lebih lanjut, KNPB menyatakan konflik bersenjata antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata di sejumlah wilayah telah menyebabkan korban jiwa serta pengungsian massal masyarakat sipil di berbagai daerah, termasuk di Timika, Wamena, Nduga, Yahukimo, Puncak Jaya, Intan Jaya, dan wilayah lainnya.

Atas situasi itu, KNPB menetapkan status Papua sebagai zona darurat berdasarkan evaluasi konflik yang disebut telah berlangsung selama lebih dari enam dekade, dengan eskalasi kekerasan yang dinilai terus meningkat signifikan.

Selain penetapan status tersebut, KNPB juga menyampaikan enam poin sikap: Pertama, mendorong penyelesaian konflik Papua melalui perspektif hukum dan HAM internasional oleh pihak netral.

Kedua, mendukung pembentukan tim pencari fakta independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ketiga, mendesak penghentian operasi militer terhadap masyarakat sipil serta membuka akses bagi pemantau internasional.

Keempat, meninjau ulang perjanjian investasi yang dinilai merugikan masyarakat Papua. Kelima, meminta dukungan negara-negara Melanesia di kawasan Pasifik dalam mendorong isu Papua di forum internasional. Keenam, menetapkan Papua sebagai “Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan.”

KNPB menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil sebagai respons terhadap kondisi kemanusiaan yang dinilai semakin memburuk di berbagai wilayah Papua.

Ketua Umum KNPB, Agus Kossay, menyatakan bahwa penetapan status darurat didasarkan pada situasi konflik yang disebut terus berlangsung dan berdampak pada meningkatnya jumlah pengungsi.

Sementara itu, Juru Bicara Nasional KNPB, Ogram Wanimbo, menegaskan bahwa pihaknya mendorong seluruh elemen masyarakat untuk menyuarakan kondisi Papua yang dinilai tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Dalam siaran pers tersebut, KNPB juga menyerukan solidaritas internasional untuk mendorong penyelesaian konflik Papua secara terbuka, adil, dan demokratis, serta menjamin perlindungan menyeluruh terhadap hak-hak masyarakat sipil Papua.

Redaksi tomei.id menegaskan bahwa informasi ini merupakan kutipan dari pernyataan resmi KNPB dan akan terus diverifikasi secara independen, akurat, dan berimbang, guna memastikan keabsahan data serta menjaga integritas pemberitaan kepada publik. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

DPR Papua Tengah Desak Kapolda Jelaskan Perkembangan Kasus Dogiyai

NABIRE, TOMEI.ID | Wakil Ketua I DPR Papua Tengah, Diben Elaby, meminta Kapolda Papua Tengah…

9 jam ago

KADIN Dogiyai Dorong Kopi Kembali Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

NABIRE, TOMEI.ID | Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Dogiyai, Amatus Anouw, mendorong masyarakat…

10 jam ago

IPMADO Tuding Eks Kapolres Dogiyai Yocbeth Mince Mayor Otak Pembunuhan Juventus Edowai

NABIRE, TOMEI.ID | Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) Kota Studi Nabire menuding mantan Kapolres…

10 jam ago

Polda Papua Barat Tetapkan Dua Tersangka Kematian Presenter TVRI Yanto Idorway

MANOKWARI, TOMEI.ID | Polda Papua Barat menetapkan dua orang berinisial D dan P sebagai tersangka…

1 hari ago

Perdana Ikut Kriyanusa 2026, Dekranasda Deiyai Bawa Noken dan Kerajinan Khas ke Panggung Nasional

JAKARTA, TOMEI.ID | Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Deiyai untuk pertama kalinya membawa produk…

1 hari ago

Dari Buku ke Diskusi, IPM-IDAKI Gerakkan Budaya Literasi di Kampung Harapan

NABIRE, TOMEI.ID | Ikatan Pelajar dan Mahasiswa/Mahasiswi Idadagi Kigamani (IPM-IDAKI) kembali menggelar kegiatan Lapak Baca…

2 hari ago