Opini/Artikel

KUPANG; Kursi Panjang Dok 2 Jayapura: Saksi Bisu yang Terlupakan

Oleh: Yermias Edowai

Di jantung Kota Jayapura, tepat di Jl. Soa Siu, Mandala, Kecamatan Jayapura Utara, terbentang sebuah kursi beton panjang di Pantai Dok 2. Letaknya strategis, menghadap langsung ke Samudera Pasifik, persis di depan kantor megah Gubernur Papua. Sekilas tampak biasa tanpa hiasan, tanpa plakat, tanpa identitas. Namun dari dudukannya yang sunyi, ia menyimpan kisah lebih dalam daripada gedung-gedung tinggi di sekitarnya.

Kursi ini bukan sekadar tempat duduk. Ia menjadi ruang jeda di tengah bising kota, sebuah penanda diam dalam narasi urban yang terus bergerak. Terjepit antara lalu lintas dan debur laut, kursi ini menawarkan ruang untuk merenung: tentang jauhnya dunia, dekatnya alam, dan arti menjadi manusia di tengah pembangunan yang kerap melupakan rasa.

Ia tak tercatat dalam katalog wisata, tak terlindungi status budaya, dan tak pernah disebut dalam agenda promosi kota. Namun, kursi ini telah menjadi denyut kecil Jayapura menyaksikan pergeseran zaman dari becak ke mobil mewah, dari pasar tradisional ke mal berhawa dingin. Ia tetap berdiri, tak menua, tak menuntut.

Setiap sore, kursi ini menjadi titik temu lintas generasi dan latar belakang. Anak-anak berseragam lusuh menyantap gorengan, remaja berbagi tawa tanpa agenda, pasangan muda berdiam dalam kebersamaan, hingga orang tua menatap senja mencari angin segar. Tidak ada batas usia. Tidak ada syarat ekonomi. Tak perlu membeli apa pun. Inilah ruang publik paling demokratis di kota ini tempat semua diterima.

Namun hari ini, kursi itu mulai terabaikan. Retak-retak menghiasi permukaannya. Cat mengelupas. Sampah berserakan di bawah dan sekitarnya. Aroma laut yang dulu menenangkan kini berganti bau limbah. Ia nyaris tak terlihat dalam sorotan pembangunan kota yang lebih sibuk memperindah taman baru, trotoar rapi, dan jembatan megah. Tapi tak satu pun dari semua itu mampu menggantikan kehangatan sederhana yang pernah ia tawarkan.

Kursi panjang ini sejatinya adalah warisan hidup. Bukan properti, bukan komoditas. Ia ruang yang tumbuh bersama warga. Di sinilah kota seharusnya dimulai bukan dari menara beton, tetapi dari ruang-ruang yang mengerti perasaan warganya.

Ia memiliki potensi menjadi ikon Jayapura. Bukan dalam pengertian wisata viral, tetapi sebagai simbol kota yang manusiawi. Pemerintah atau komunitas bisa membersihkannya, mengecat ulang, menambahkan pencahayaan lembut, tanaman hijau, atau bahkan plakat kecil yang memberi penghormatan. Bukan formalitas, tapi bentuk perawatan dan pengakuan.

Bayangkan jika kursi ini dijadikan ruang budaya terbuka: panggung kecil untuk musik akustik, puisi, dongeng rakyat. Sekolah bisa menjadikannya ruang kelas terbuka. Komunitas bisa merayakan keberagaman Jayapura di sana. Sebuah ruang yang tidak hanya fisik, tetapi juga emosional dan sosial.

Terlalu lama kota dipahami sebagai deretan beton, jalan, dan lampu. Padahal kota sejati adalah tempat di mana orang merasa dilihat, diterima, dan berarti. Kursi panjang Dok 2 adalah pengingat bahwa dalam dunia yang kian transaksional, masih ada ruang di mana manusia cukup hadir saja untuk merasa utuh.

Jika suatu hari kursi ini hilang dihancurkan, diganti, atau dipindahkan barangkali tak akan ada berita utama. Tapi akan ada kekosongan. Karena kursi ini bukan sekadar benda; ia adalah rasa. Ia adalah cermin Jayapura yang sesungguhnya: manusiawi, sederhana, dan penuh kemungkinan.

Merawatnya bukan soal estetika. Ini tentang merawat denyut kota. Tentang menjaga ruang batin warganya tetap hidup. Jayapura tidak hanya butuh pembangunan fisik. Ia juga butuh ruang untuk diam. Dan kursi panjang ini, sesederhana apapun wujudnya, adalah bagian dari perawatan itu. [*]

)* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua.

Redaksi Tomei

Recent Posts

Teladan Servant Leadership, Bupati Paniai Yampit Nawipa Layani Umat di HUT Pekabaran Injil ke-87

NABIRE, TOMEI.ID | Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Pekabaran Injil (PI) ke-87 di Tanah Papua…

1 hari ago

Elisa Sekenyap Tegaskan Regenerasi Jurnalis Papua 1.132 Peserta, Mayoritas Pelajar, Belajar Jurnalisme Antar-Provinsi

NABIRE, TOMEI.ID | Festival Media Se-Tanah Papua 2026 resmi ditutup Rabu (15/1/2026) di Nabire, Papua…

1 hari ago

Festival Media Perdana AWP Rampung Digelar, Dorong Regenerasi Jurnalis Papua

NABIRE, TOMEI.ID | Festival Media Se-Tanah Papua 2026 yang digelar Asosiasi Wartawan Papua (AWP) resmi…

1 hari ago

Gubernur Papua Tengah Tutup Festival Media Se-Tanah Papua 2026, Tegaskan Peran Strategis Insan Pers

NABIRE, TOMEI.ID | Rangkaian kegiatan Festival Media Se-Tanah Papua ke-1 yang berlangsung selama tiga hari,…

1 hari ago

Dewan Adat Papua Soroti Pengabaian Hak Politik Masyarakat Adat di Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Koordinator Wilayah Mee Pago, Okto Pekey, menegaskan…

2 hari ago

Redaktur Senior Tempo Dorong Jurnalis Papua Rutin Produksi Liputan Investigatif

NABIRE, TOMEI.ID | Redaktur Senior Tempo, Sunudyantoro, secara tegas mendorong jurnalis di Tanah Papua untuk…

2 hari ago