Berita

Lucky Ireeuw Tegaskan AI dalam Jurnalisme Hanya Alat Bantu, Bukan Penentu Redaksi

NABIRE, TOMEI.ID | Penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam praktik jurnalistik harus dibatasi secara tegas agar tidak menggerus tanggung jawab etik pers. Teknologi ini hanya boleh digunakan sebagai alat bantu kerja, bukan sebagai penentu arah redaksi maupun kebenaran informasi.

Penegasan tersebut disampaikan Pemimpin Redaksi Cendrawasih Post, Lucky Ireeuw, saat menjadi narasumber dalam sesi pelatihan bertajuk “Manusia Tetap di Kemudi: Etika Penggunaan AI dalam Jurnalisme” pada rangkaian Festival Media Se-Tanah Papua di Nabire, Rabu (14/1/2026).

baca juga: Literasi Keamanan Digital Diperkuat Sejak Dini, Pelajar Papua Dibekali Perlindungan Data dan Jurnalisme Damai

Sesi ini dimoderatori Misba, wartawan Seputar Papua, dan diikuti pelajar serta mahasiswa di Kabupaten Nabire.

Lucky Ireeuw menjelaskan bahwa pemanfaatan AI saat ini telah merambah hampir seluruh tahapan kerja jurnalistik, mulai dari pencarian data, pengolahan informasi, hingga produksi dan distribusi konten. Namun tanpa pedoman etika yang jelas, teknologi tersebut justru berpotensi menurunkan kualitas pemberitaan dan memicu distorsi informasi.

“AI boleh dipakai, tetapi hanya sebatas membantu. AI tidak boleh menjadi penentu kebijakan redaksi. Penggunaannya harus disertai etika yang kuat,” tegas Lucky Ireeuw.

baca juga: Lewat Festival Media, Jurnalis dan Pelajar Papua Diedukasi Bermedia Sosial Secara Bijak

Lucky Ireeuw juga mengingatkan bahaya ketika media terjebak pada logika algoritma demi mengejar viralitas dan popularitas, tanpa memastikan akurasi serta kebenaran informasi. Menurutnya, kecenderungan tersebut berisiko melahirkan bias pemberitaan dan menyesatkan publik.

“Jangan sampai karena mengejar algoritma, informasi yang belum tentu benar terus diproduksi dan dikonsumsi publik. Di situlah letak bahayanya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Lucky Ireeuw menegaskan bahwa seluruh data dan informasi yang dihasilkan AI tetap wajib diverifikasi secara ketat oleh jurnalis. Peran manusia, menurut Lucky Ireeuw, tidak boleh digantikan oleh mesin dalam menjaga nilai kebenaran, nurani, dan tanggung jawab sosial pers.

“Nilai kebenaran dan tanggung jawab kepada masyarakat harus tetap dipegang oleh manusia, bukan oleh teknologi,” tegas Lucky Ireeuw.

Sesi pelatihan ini menjadi bagian dari rangkaian Festival Media Se-Tanah Papua yang berlangsung pada 13–15 Januari 2026, sebagai upaya memperkuat kapasitas dan etika jurnalisme di Tanah Papua di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Dialog Strategis Bappenas di Timika, Gubernur Meki Dorong Percepatan Pembangunan Papua Menuju Indonesia Emas 2045

TIMIKA, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa bersama para gubernur, bupati, dan wali kota…

3 jam ago

Mahasiswa Desak Transparansi Bantuan Studi Yahukimo, Dinas Pendidikan Diminta Segera Cairkan Dana

JAYAPURA, TOMEI.ID | Mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo mendesak Pemerintah Kabupaten Yahukimo melalui Dinas Pendidikan segera…

8 jam ago

Duduk Perkara Saling Bantah APBD Papua Pegunungan: DPRP Bantah Klaim Pemprov, Audit BPK Terhadap Tiga Instansi Didesak

WAMENA, TOMEI.ID | Polemik pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Papua Pegunungan memanas. DPR…

16 jam ago

Bupati Pegunungan Bintang Tegaskan Dukungan Penuh HIPMI, Sepei Kalakmabin Resmi Nahkodai BPC

JAYAPURA, TOMEI.ID | Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, menegaskan komitmen penuh Pemerintah Kabupaten setempat…

16 jam ago

Deinas Geley Sambut Wakil Menteri Bappenas, Bahas Sinkronisasi Arah Pembangunan Tanah Papua Tengah

TIMIKA, TOMEI.ID | Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley, menyambut kedatangan Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan…

19 jam ago

MRP Papua Tengah Usulkan Penguatan Kewenangan dan Pengawasan Dana Otsus dalam Revisi PP Nomor 54 Tahun 2004

TIMIKA, TOMEI.ID | Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah mengusulkan penguatan kewenangan, kelembagaan, keuangan, dan…

19 jam ago