MANOKWARI, TOMEI.ID | Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) di Manokwari menggelar aksi mimbar bebas dan long march pada Senin (11/5/2026), sebagai bentuk protes terhadap rentetan kekerasan dan penembakan warga sipil yang terjadi di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.
Dalam aksi tersebut, massa mendesak aparat penegak hukum dan lembaga negara segera mengusut secara terbuka berbagai kasus penembakan yang menewaskan warga sipil di Dogiyai.
Aksi yang berlangsung di Manokwari itu mengusung tema “Ungkap dan Adili Pelaku Penganiayaan Bripda Jefentus Edowai dan Penembakan Lima Warga Sipil pada 31 Maret 2026”. Massa aksi juga menyoroti kasus penembakan terbaru pada 10 Mei 2026 yang dilaporkan menyebabkan seorang warga sipil meninggal dunia.
Berdasarkan pantauan di lapangan, aksi diikuti pelajar berseragam SMA dan mahasiswa asal Dogiyai yang sedang menempuh pendidikan di Manokwari. Para peserta aksi secara bergantian menyampaikan orasi politik, membaca puisi, cerpen, hingga memaparkan kronologi berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi di Dogiyai sebagai bentuk solidaritas terhadap para korban dan keluarga terdampak.
Dewan Penasehat Organisasi IPMADO, Edison Iyai, mengatakan aksi tersebut merupakan bagian dari gerakan serentak mahasiswa Dogiyai yang dilakukan di sejumlah kota studi di Indonesia.
“Aksi hari ini dilakukan secara serentak di beberapa kota di Indonesia karena melihat rentetan kekerasan yang terjadi terhadap masyarakat sipil di Dogiyai,” ujarnya.
Menurut Edison, eskalasi kekerasan di Dogiyai bermula dari insiden pembunuhan seorang anggota polisi di depan Gereja Ebenezer, Kampung Kimupugi, Kabupaten Dogiyai. Pasca kejadian tersebut, kata dia, aparat gabungan melakukan penyisiran yang kemudian diduga berujung pada penembakan warga sipil.
“Setelah kejadian itu aparat kepolisian dan militer melakukan penyisiran dan terjadi penembakan terhadap warga sipil,” katanya.
Ia menegaskan bahwa aksi mimbar bebas dan long march yang dilakukan mahasiswa bertujuan mendesak aparat penegak hukum, pemerintah, dan lembaga negara untuk mengusut seluruh kasus penembakan secara independen, transparan, dan adil.
“Kami meminta lembaga hukum untuk menginvestigasi kasus-kasus pembunuhan yang terjadi di Dogiyai secara transparan, jujur, dan adil,” tegasnya.
Edison juga mengecam tindakan aparat keamanan yang dinilai melakukan penembakan terhadap warga sipil tanpa proses investigasi yang menyeluruh. Ia menyebut pada 10 Mei 2026 kembali terjadi penyisiran yang diduga berujung pada penembakan seorang warga sipil bernama Nelson Tebai hingga meninggal dunia.
“Dengan rentetan tragedi yang terjadi, masyarakat sangat trauma. Mereka sangat takut dengan polisi dan tentara,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Lapangan aksi, Marselus Magai, meminta gereja, pemerintah, pegiat HAM, Komnas HAM, hingga Kementerian HAM segera turun tangan menyelidiki dugaan pelanggaran HAM yang terjadi di Dogiyai.
“Pelanggaran HAM yang terjadi ini harus segera dituntaskan hingga mendapatkan keadilan,” ujarnya.
Marselus menegaskan mahasiswa Dogiyai akan terus mengawal aspirasi masyarakat dan memperjuangkan keadilan bagi korban maupun keluarga yang terdampak dalam rentetan insiden kekerasan di Papua Tengah.[*].
NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan…
NABIRE, TOME.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah terus memperluas akses energi bersih bagi masyarakat…
TIMIKA, TOMEI.ID | Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Papua Tengah, Silwanus Sumule, mendorong para pengelola…
DEKAI, TOME.ID | Ibadah syukuran atas pengukuhan Tery Wahla, sebagai Kepala SD Negeri Duram berlangsung…
NABIRE, TOMEI.ID | Keluarga besar Boma/Kedeikoto dari Kotomoma, Wiyogei, Modio, Kitakebo, dan Waihai menyatakan menolak…
NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah meluncurkan program subsidi angkutan udara untuk membuka…