Berita

Mama Lansia Ditembak Polisi di Dogiyai, Mama-Mama Papua Tuntut Aparat Tanggung Jawab

NABIRE, TOMEI.ID | Dugaan penembakan terhadap seorang mama lansia, Yulita Ester Pigai (60), di Dogiyai yang disebut melibatkan aparat kepolisian memicu gelombang kemarahan publik dan menjadi sorotan serius di Papua Tengah.

Kasus tersebut mengemuka dalam aksi demonstrasi damai yang digelar Front Rakyat Bergerak di Nabire, Selasa (7/4/2026), dengan mama-mama Papua tampil di garis depan menyuarakan tuntutan keadilan.

Di Pasar Karang Nabire, suara-suara protes menggema. Para peserta aksi menuntut aparat kepolisian tidak menghindar dari tanggung jawab atas insiden yang dinilai sebagai pelanggaran kemanusiaan.

“Saya mewakili mama-mama Papua meminta kepolisian bertanggung jawab atas penembakan terhadap mama Pigai di Dogiyai,” tegas salah satu orator di hadapan massa.

Dalam orasinya, ia menilai tindakan kekerasan terhadap warga sipil, terlebih terhadap perempuan lanjut usia, tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun. Nada suaranya bergetar, mencerminkan duka yang bercampur amarah.

“Manusia yang dibunuh itu bukan milik polisi, tetapi milik Tuhan. Kami ini ibu dari anak-anak Papua. Kami salah apa?” serunya lantang.

Massa aksi menegaskan bahwa aparat penegak hukum seharusnya menjadi pelindung masyarakat, bukan sumber ketakutan. Peristiwa ini dinilai mencerminkan kegagalan dalam memberikan perlindungan terhadap warga sipil, khususnya kelompok rentan seperti perempuan dan lansia.

Desakan pun diarahkan langsung kepada Kapolres Dogiyai untuk memberikan pertanggungjawaban terbuka. Massa menilai tidak boleh ada pembiaran atau upaya menutup-nutupi kasus yang menyangkut nyawa manusia.

Dalam aksi tersebut, peserta juga menyinggung insiden lain di Dogiyai, yakni penembakan terhadap seorang anak berusia 11 tahun, Maikel Pekei. Rangkaian kejadian ini dinilai menunjukkan persoalan serius dalam pendekatan aparat terhadap masyarakat sipil.

“Kalau ini terus terjadi, di mana rasa aman bagi kami?” ujar salah satu peserta aksi, dengan nada cemas yang mencerminkan ketakutan mendalam masyarakat sipil.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan yang disampaikan dalam aksi tersebut.

Peristiwa ini kembali menegaskan tuntutan masyarakat Papua akan keadilan dan transparansi. Tanpa penjelasan terbuka dan langkah hukum yang tegas, kepercayaan publik terhadap aparat dikhawatirkan akan terus tergerus, sementara luka sosial di tengah masyarakat semakin dalam. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Papua Tengah Hadapi Ancaman Karhutla dan Kekeringan, Delapan Kabupaten Dipanggil ke Meja Koordinasi

NABIRE, TOMEI.ID | Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, serta cuaca ekstrem mulai menekan…

14 jam ago

Kekeringan dan Hujan Es Lumpuhkan Kebun Warga Kuyawage, Bantuan Diminta hingga 2027

TIOM, TOMEI.ID | Kekeringan berkepanjangan yang disusul hujan es berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat di…

15 jam ago

BPBD-KP Papua Tengah Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Kekeringan dan Karhutla

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Kebakaran dan…

15 jam ago

BEM UNIPA Bekali Mahasiswa Baru, Tekankan Kepemimpinan dan Kepekaan Sosial

MANOKWARI, TOMEI.ID | Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Papua (UNIPA) membekali mahasiswa baru dengan wawasan…

16 jam ago

Delapan Mahasiswa Yahukimo Lulus, IMY Manokwari Gelar Syukuran dan Beri Motivasi

MANOKWARI, TOMEI.ID | Ikatan Mahasiswa Yahukimo (IMY) Kota Studi Manokwari menggelar ibadah syukuran atas keberhasilan…

16 jam ago

Gubernur Meki Nawipa Bentuk Satgas Karhutla Papua Tengah, Operasi Darat dan Udara Disiapkan

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menetapkan Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Kebakaran Hutan…

16 jam ago