Berita

Pdt Alman Manik Soroti Konflik Kapiraya dalam Ibadah Oikumene Pemprov Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Konflik tapal batas di Distrik Kapiraya menjadi sorotan utama dalam Ibadah Oikumene Aparatur Sipil Negara (ASN) dan non-ASN Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah yang digelar di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Jumat (13/2/2026).

Ibadah bertema “Menjadi Agen Pembawa Perubahan” tersebut dipimpin oleh Pendeta Alman Manik dan dihadiri pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), ASN, serta non-ASN di lingkungan Pemprov Papua Tengah.

Dalam khotbahnya, Pendeta Alman Manik secara tegas menyinggung konflik tapal batas yang melibatkan warga Distrik Kapiraya, yang berada di antara wilayah Timika dan Dogiyai, termasuk kelompok masyarakat suku Kei, Kamoro, dan Mee. Ia menyebut konflik tersebut sebagai peringatan moral bagi seluruh aparatur pemerintah agar tidak abai terhadap dinamika sosial di tengah masyarakat.

“Konflik tapal batas di Kapiraya menjadi refleksi bagi kita semua. Sebagai ASN dan non-ASN, kita bukan hanya pelaksana administrasi, tetapi juga agen perdamaian di tengah masyarakat,” ujar pendeta dalam khotbah.

Menurutnya, konflik sosial yang berakar pada persoalan batas wilayah berpotensi mengganggu stabilitas keamanan dan memperlambat laju pembangunan apabila tidak dikelola secara bijak. Karena itu, ia mengajak seluruh aparatur pemerintah untuk berperan aktif menciptakan suasana dialog, meredam ketegangan, dan membangun kepercayaan antarwarga.

Pendeta Alman Manik juga menekankan bahwa keberhasilan program pembangunan Pemerintah Provinsi Papua Tengah sangat bergantung pada situasi keamanan dan ketenteraman yang terjaga.

“Tanpa dasar keamanan dan kedamaian, seluruh program pembangunan tidak akan berjalan dengan baik. Yang kita butuhkan bersama adalah kenyamanan, kedamaian, dan ketenteraman,” tegasnya.

Ia turut mengimbau masyarakat di delapan kabupaten di Papua Tengah agar mengikuti arahan pemerintah daerah, mulai dari gubernur hingga aparat distrik dan kampung, guna menjaga stabilitas wilayah.

Sorotan terhadap konflik Kapiraya dalam forum keagamaan tersebut menjadi penegasan bahwa persoalan sosial kemasyarakatan bukan hanya isu administratif, melainkan tanggung jawab moral bersama. Ibadah Oikumene ini pun menjadi ruang refleksi bagi aparatur untuk memperkuat peran sebagai agen perubahan sekaligus penjaga harmoni sosial di Papua Tengah.[*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

DPR Papua Tengah Desak Kapolda Jelaskan Perkembangan Kasus Dogiyai

NABIRE, TOMEI.ID | Wakil Ketua I DPR Papua Tengah, Diben Elaby, meminta Kapolda Papua Tengah…

6 jam ago

KADIN Dogiyai Dorong Kopi Kembali Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

NABIRE, TOMEI.ID | Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Dogiyai, Amatus Anouw, mendorong masyarakat…

6 jam ago

IPMADO Tuding Eks Kapolres Dogiyai Yocbeth Mince Mayor Otak Pembunuhan Juventus Edowai

NABIRE, TOMEI.ID | Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) Kota Studi Nabire menuding mantan Kapolres…

7 jam ago

Polda Papua Barat Tetapkan Dua Tersangka Kematian Presenter TVRI Yanto Idorway

MANOKWARI, TOMEI.ID | Polda Papua Barat menetapkan dua orang berinisial D dan P sebagai tersangka…

1 hari ago

Perdana Ikut Kriyanusa 2026, Dekranasda Deiyai Bawa Noken dan Kerajinan Khas ke Panggung Nasional

JAKARTA, TOMEI.ID | Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Deiyai untuk pertama kalinya membawa produk…

1 hari ago

Dari Buku ke Diskusi, IPM-IDAKI Gerakkan Budaya Literasi di Kampung Harapan

NABIRE, TOMEI.ID | Ikatan Pelajar dan Mahasiswa/Mahasiswi Idadagi Kigamani (IPM-IDAKI) kembali menggelar kegiatan Lapak Baca…

1 hari ago