Berita

Pelaku Insiden Dogiyai Berdarah Belum Terungkap, Mahasiswa di Jayapura Desak Negara Bertanggung Jawab

JAYAPURA, TOMEI.ID | Kasus penembakan yang menewaskan sembilan warga sipil di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, hingga kini belum diusut tuntas secara independen dan transparan. Memasuki dua bulan pasca insiden berdarah tersebut, mahasiswa asal Dogiyai di Jayapura turun ke jalan menggelar aksi mimbar bebas sebagai bentuk protes dan desakan kepada negara untuk segera bertanggung jawab.

Aksi berlangsung di kawasan Lingkaran Abepura, Kota Jayapura, Papua, Senin (11/5/2026), dengan pengawalan ketat aparat kepolisian. Massa aksi menuntut pengungkapan pelaku penembakan yang terjadi pada 29 Maret hingga 1 April 2026 serta meminta proses hukum dilakukan secara terbuka di hadapan publik.

Dalam orasinya, salah satu orator berinisial FE menyoroti dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dinilainya terus berulang di berbagai wilayah Papua tanpa penyelesaian hukum yang jelas.

“Hari ini pengungkapan pelaku tindak pidana yang terjadi di Tanah Papua belum berjalan sesuai prosedur hukum. Pelanggaran HAM bukan hanya terjadi di Dogiyai, tetapi juga di Intan Jaya, Paniai, Puncak dan beberapa wilayah konflik lainnya,” kata FE di hadapan massa aksi.

FE menegaskan, hingga saat ini publik belum mendapatkan kejelasan resmi mengenai pelaku maupun motif di balik penembakan yang merenggut sembilan nyawa warga sipil tersebut.

“Kasus yang terjadi di Dogiyai sampai hari ini pelakunya belum diungkap. Motif kejadian juga belum dijelaskan secara jelas kepada masyarakat,” ujarnya.

Selain mendesak penuntasan kasus Dogiyai, massa aksi juga menyoroti situasi kebebasan berekspresi di Papua yang dinilai semakin dibatasi. Mereka mengkritik keterlibatan aparat keamanan dalam berbagai konflik yang terus terjadi di sejumlah daerah di Papua.

Isu kemanusiaan turut menjadi sorotan dalam aksi tersebut. Massa menyinggung kondisi masyarakat yang mengungsi akibat konflik bersenjata di beberapa wilayah, termasuk Kabupaten Nduga, yang dinilai belum mendapat perhatian serius dari negara.

Salah satu orator lain yang disebut bernama Enggang mengatakan para pengungsi hingga kini masih hidup dalam keterbatasan tanpa akses pendidikan dan layanan kesehatan yang memadai.

“Masyarakat yang sedang mengungsi belum mendapatkan pendidikan dan kesehatan yang layak. Hak-hak itu seharusnya dijamin negara,” katanya.

Aksi mimbar bebas berlangsung selama beberapa jam dan berakhir sekitar pukul 13.00 WIT dalam situasi aman di bawah pengawasan aparat keamanan. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Paroki K3 Damabagata Sampaikan Terima Kasih atas Dukungan Rp5 Miliar dari Gubernur

DEIYAI, TOMEI.ID | Kunjungan kerja Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa memasuki hari kedua di Kabupaten…

7 jam ago

Gubernur Meki Nawipa Targetkan Sengketa Tapal Batas Kapiraya Tuntas Sebelum Desember

DEIYAI, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menargetkan sengketa tapal batas Kapiraya yang selama…

11 jam ago

Kunker ke Deiyai, Meki Nawipa Soroti Asrama dan Ekonomi Mama-Mama Papua

DEIYAI, TOMEI.ID | Setelah menuntaskan kunjungan kerja hari pertama di Kabupaten Dogiyai, Gubernur Papua Tengah,…

11 jam ago

Terima Rp500 Juta dan Bantuan Alkes, Maria Clara: Terima Kasih Pak Gubernur

DOGIYAI, TOMEI.ID | Ucapan terima kasih disampaikan Direktur RSUD Pratama Dogiyai, dr. Maria Clara Giyai,…

1 hari ago

Meki Nawipa di Dogiyai: Politik Selesai, Jangan Palang Pembangunan

DOGIYAI, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, meminta masyarakat Kabupaten Dogiyai menghentikan berbagai tindakan…

1 hari ago

Dari Panen Kacang ke Panen Generasi, Meki Nawipa Mulai Babak Baru Pendidikan Mapia

DOGIYAI, TOMEI.ID | Ada tempat yang tidak pernah meminta untuk disebut besar dan tidak selalu…

1 hari ago