Berita

Pemuda Adat Papua Serukan Hentikan Deforestasi dan Operasi Militer di Wilayah Adat

SORONG, TOMEI.ID | Puluhan pemuda adat dari kawasan Kepala Burung Papua menyerukan penghentian deforestasi, ekspansi industri ekstraktif, serta operasi militer di wilayah masyarakat adat dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang digelar di Kampung Asbaken, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Jumat (5/6/2026).

Seruan tersebut disampaikan dalam kegiatan bertajuk “Aksi Iklim: Dari Kampung untuk Kampung”, yang mempertemukan pemuda adat, mahasiswa, aktivis lingkungan, dan masyarakat kampung untuk membahas krisis iklim serta ancaman terhadap hutan hujan Papua.

BACA JUGA: Sampah Muara Kaibus Diantar ke Kantor Bupati, Pemuda Sorsel Tuntut Penanganan Serius

Dalam deklarasi yang dibacakan bersama, peserta aksi menegaskan bahwa masyarakat adat Papua saat ini menghadapi berbagai tekanan, mulai dari deforestasi, pertambangan, ekspansi perkebunan, perampasan tanah adat, hingga berbagai proyek pembangunan yang dinilai mengancam keberlangsungan ruang hidup masyarakat adat.

“Krisis iklim menuntut semua orang pemerintah, pelaku bisnis, dan organisasi internasional untuk bergabung dengan kami. Solusinya ada dan nyata berakar pada pengetahuan tradisional kita dan hubungan kita dengan alam. Waktunya untuk bertindak adalah sekarang. Untuk menjaga planet ini tetap bertahan, Tanah Papua harus tetap hidup,” demikian bunyi pernyataan yang dibacakan dalam aksi tersebut.

Peserta aksi menilai krisis iklim bukan sekadar persoalan kenaikan suhu global, melainkan realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat adat melalui hilangnya hutan, rusaknya sumber pangan, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya ancaman terhadap identitas budaya.

Mereka juga menyoroti berbagai aktivitas industri yang dinilai mempercepat kerusakan lingkungan di Tanah Papua, termasuk pertambangan, pembukaan hutan skala besar, perkebunan monokultur, dan proyek-proyek pembangunan yang berdampak terhadap wilayah adat.

Selain isu lingkungan, deklarasi tersebut turut memuat tuntutan penghentian operasi militer di wilayah masyarakat adat Papua. Peserta aksi menilai pendekatan keamanan yang berlangsung selama ini berpotensi memperburuk situasi sosial dan lingkungan di sejumlah daerah.

“Kami menolak kehadiran dan mendesak penghentian operasi militer di wilayah Masyarakat Adat,” demikian salah satu poin tuntutan yang dibacakan dalam deklarasi.

Massa aksi juga mendesak pemerintah memberikan pengakuan dan perlindungan yang lebih kuat terhadap hak-hak masyarakat adat, termasuk pengakuan wilayah adat, hak atas tanah dan sumber daya alam, serta keterlibatan penuh masyarakat adat dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut ruang hidup mereka.

Selain itu, peserta aksi meminta pemerintah meratifikasi dan mengimplementasikan Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Masyarakat Adat (UNDRIP) serta Konvensi ILO Nomor 169 sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan masyarakat adat di Indonesia.

Kegiatan tersebut diisi dengan berbagai aktivitas lingkungan, di antaranya pembersihan pantai, penanaman pohon, pemutaran film dan diskusi publik, serta pertunjukan musik akustik yang melibatkan komunitas lokal.

Melalui deklarasi Kampung Asbaken, para pemuda adat menegaskan bahwa perlindungan hutan hujan Papua tidak hanya penting bagi masyarakat adat, tetapi juga bagi keberlangsungan iklim global. Mereka menilai hutan Papua merupakan salah satu benteng terakhir yang masih menjaga keseimbangan lingkungan dan kehidupan di bumi.

Aksi Iklim “Dari Kampung untuk Kampung” juga menjadi ruang konsolidasi lintas komunitas untuk memperkuat solidaritas masyarakat adat dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap tanah, hutan, dan sumber-sumber kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Rabu Depan, MUSORMA V IMPPETANG Resmi Digelar di Jayapura, Konsolidasi Mahasiswa Pegunungan Bintang Dimulai

JAYAPURA, TOMEI.ID | Ikatan Mahasiswa/Pelajar Pegunungan Bintang (IMPPETANG) Se-Indonesia resmi menetapkan pelaksanaan Musyawarah Organisasi Mahasiswa…

22 jam ago

Warga Kiworo Laporkan Dugaan Penyerangan dan Pembakaran ke Polres Merauke

JAYAPURA, TOMEI.ID | Kepala Kampung Kiworo bersama perwakilan pemuda dan intelektual Kampung Kiworo, Distrik Kimaam,…

23 jam ago

Satpol PP Dogiyai Targetkan Layanan 24 Jam Mulai September, Damkar dan SDM Segera Dibentuk

DOGIYAI, TOMEI.ID | Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Dogiyai menargetkan penerapan layanan 24…

23 jam ago

HUT Ke-4 Papua Tengah Berakhir, Gubernur Meki Nawipa Tegaskan Evaluasi Kinerja dan Luncurkan Program BANGKIT

NABIRE, TOMEI.ID | Rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4 Provinsi Papua Tengah resmi ditutup…

24 jam ago

Gubernur Meki Nawipa Tegaskan Gedung Baru Harus Jadi Pusat Inovasi Petani dan Peternak Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah meresmikan Gedung Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi…

1 hari ago

Mahasiswa Tolikara di Manokwari Desak Realisasi Asrama, Pemkab Janji Tuntaskan Kontrakan dan Evaluasi SIMARA

MANOKWARI, TOMEI.ID | Mahasiswa Kabupaten Tolikara yang tergabung dalam Koordinator Wilayah (Korwil) Manokwari menyampaikan apresiasi…

2 hari ago