JAYAPURA, TOMEI.ID | Potret ketidakadilan masih jelas terlihat di pasar-pasar tradisional Jayapura yang hingga kini, mama-mama Papua yang menjadi penopang utama pangan lokal tetap berjualan di atas tanah beralaskan karung dan kardus bekas, sementara pedagang besar menikmati lapak strategis dengan fasilitas memadai.
Di Pasar Youtefa hingga Exspo Waena, barang dagangan hasil kebun seperti ubi jalar, pinang, cabai, hingga kacang panjang ditata seadanya di tanah berdebu. Kondisi semakin memprihatinkan ketika hujan turun, karena dagangan bercampur lumpur. Saat panas menyengat, mama-mama Papua terpaksa bertahan di bawah terik matahari tanpa tenda maupun payung pelindung.
“Kitorang jualan begini terus di tanah. Tidak ada meja, tidak ada tenda. Kalau hujan semua basah, barang rusak. Tapi kami tetap jualan karena harus sekolahkan anak-anak,” kata Mama Pina (47), pedagang di Pasar Youtefa, Rabu (10/9/2025).
Hal senada disampaikan Mama Dorce (36), pedagang di Exspo Waena. Menurutnya, jika hujan turun, mereka hanya bisa menggelar karung atau kardus di atas lumpur.
“Tidak ada meja, tidak ada payung dari pemerintah. Kalau kendaraan di jalan besar padat, kami makin susah jualan,” ujarnya lirih.
Mama-mama Papua berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah untuk menyediakan fasilitas sederhana namun layak, seperti meja, tenda, dan ruang khusus. Selama ini, janji pembangunan pasar yang lebih manusiawi belum juga mereka rasakan.
“Mama tong berdoa saja semoga nanti ada perhatian dari pemerintah,” tutur seorang pedagang dengan mata berkaca-kaca.
Kondisi ini memperlihatkan kesenjangan nyata dalam ruang ekonomi pasar. Pedagang besar dan pendatang menempati lapak strategis dengan fasilitas memadai, sementara mama-mama Papua yang selama ini menjaga keberlangsungan pangan lokal justru dipaksa bertahan di tanah tanpa perlindungan.
Jika situasi ini tidak segera diatasi, wajah pasar tradisional Papua akan terus menampilkan potret ketidakadilan. Mereka yang mestinya menjadi penopang utama ekonomi rakyat justru kian tersisih di tanahnya sendiri, menghadapi risiko kehilangan ruang hidup di tengah gempuran modernisasi pasar. [*].
NABIRE, TOMEI.ID | Sebanyak delapan kepala suku besar, di Provinsi Papua Tengah, resmi diakui sebagai…
INTAN JAYA, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menyampaikan sejumlah komitmen pembangunan untuk Distrik…
NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nabire, masih menunggu kepastian pemerintah pusat m mengenai pengangkatan…
NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nabire, menetapkan status Taman Gizi sebagai aset daerah setelah…
MANOKWARI, TOMEI.ID | Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Papua (UNIPA) periode 2024–2026 resmi dinyatakan demisioner…
INTAN JAYA, TOMEI.ID | Program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) di Kabupaten Intan Jaya terbukti berhasil…