Berita

Tokoh Adat dan Pemda Nabire Sepakati Tolak Aksi Long March, Polisi Tetap Fasilitasi Demonstrasi

NABIRE, TOMEI.ID | Rencana aksi Front Rakyat Bergerak dalam bentuk long march resmi ditolak. Kesepakatan ini diambil bersama oleh tokoh adat, kepala suku, Pemerintah Kabupaten Nabire, dan aparat kepolisian dalam pertemuan strategis, Senin (6/4/2026).

Meski demikian, ruang penyampaian aspirasi tetap dibuka dengan kendali ketat aparat, pengawasan intensif, terukur, dan berbasis mitigasi risiko lapangan, guna mencegah eskalasi konflik serta menjaga stabilitas wilayah.

Kapolres Nabire, AKBP Samuel D. Tatiratu, menegaskan bahwa pembatasan tersebut bukan bentuk pelarangan demonstrasi, melainkan langkah pengendalian untuk mencegah potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Aksi tetap boleh dilaksanakan, tetapi tidak dalam bentuk long march,” ujarnya kepada wartawan di Nabire pada hari yang sama, sebagai langkah preventif menjaga ketertiban dan menghindari potensi gangguan kamtibmas.

Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan sejumlah faktor krusial, termasuk tidak adanya penanggung jawab resmi dalam surat pemberitahuan aksi yang diajukan oleh massa.

“Dalam surat yang dimasukkan, tidak ada penanggung jawab. Ini menjadi perhatian serius, berpotensi melanggar prosedur hukum serta memperbesar risiko kendali massa,” tegasnya Tatiratu.

Selain persoalan administratif, long march dinilai berisiko memicu gangguan lalu lintas, memperluas konsentrasi massa, serta membuka ruang eskalasi yang sulit dikendalikan di lapangan.

Sebagai solusi, aparat kepolisian bersama pemerintah daerah menyiapkan skema pengamanan terpusat dengan memfasilitasi mobilisasi massa menggunakan kendaraan.

“Tujuan aksi ke kantor DPR Papua Tengah. Kami bantu angkut peserta dengan truk yang sudah disiapkan,” jelasnya.

Langkah ini disebut sebagai kompromi antara menjaga hak menyampaikan pendapat di muka umum dan memastikan stabilitas wilayah tetap terkendali.

Tokoh adat dan pemerintah daerah menilai pendekatan tersebut sebagai bentuk pencegahan dini agar aksi tidak berkembang menjadi konflik terbuka yang merugikan masyarakat luas.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa seluruh rangkaian aksi akan diawasi secara ketat, dengan harapan tetap berjalan damai, tertib, dan tidak melampaui batas hukum. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Deinas Geley Tegaskan GKII dan Kingmi Jangan Terpecah Lagi, Ajak Warga Hentikan Perang

TIMIKA, TOMEI.ID | Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, mengajak jemaat Gereja Kemah Injil Indonesia…

2 jam ago

Dibangun Swadaya, Jembatan Kampung Tibai Kembali Putus; Warga Minta Pemerintah Bertindak

NABIRE, TOMEI.ID | Jembatan gantung Kali Degeuwo yang menjadi akses menuju Kampung Tibai, Distrik Siriwo,…

2 jam ago

36 Tim SMP Ikuti Kapolda Cup I 2026, Panitia Minta Pemerintah Perhatikan Fasilitas Olahraga

NABIRE, TOMEI.ID | Sebanyak 36 tim sekolah menengah pertama (SMP) se-Kabupaten Nabire mengikuti Turnamen Mini…

2 jam ago

SIAP DPMPTSP Harus Pangkas Birokrasi dan Persempit Celah Pungli di Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Staf Ahli III Gubernur Papua Tengah, Ukkas, menegaskan bahwa transformasi digital pelayanan…

3 jam ago

Kekeringan dan Asap Ganggu Warga, PMI Paniai Salurkan Air Bersih dan Masker Gratis

PANIAI, TOMEI.ID | Kekeringan serta kondisi udara yang dipenuhi asap dan debu menjadi perhatian Palang…

4 jam ago

Tumiran Soroti Ketergantungan Pangan Papua Tengah, Penyuluh Diminta Buktikan Hasil Kerja

NABIRE, TOMEI.ID |Ketergantungan Papua Tengah terhadap pasokan pangan dari luar daerah menjadi tantangan yang harus…

9 jam ago