Berita

Tragedi Soanggama Berdarah: KNPB Serukan Perlindungan Pengungsi dan Investigasi HAM

JAYAPURA, TOMEI.ID | Komite Nasional Papua Barat (KNPB) mendesak pemerintah Indonesia dan lembaga internasional segera melakukan investigasi independen terkait tragedi yang menewaskan 12 warga sipil di Kampung Soanggama, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, pada 15 Oktober 2025.

Peristiwa yang oleh KNPB disebut “Tragedi Soanggama Berdarah” menelan korban termasuk seorang ibu dan satu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Insiden ini menyoroti eskalasi konflik bersenjata antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan aparat TNI-Polri, serta dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat di wilayah paling rawan di Papua.

Juru Bicara Nasional KNPB, Ogram Wanimbo, menilai situasi di Intan Jaya kini berada dalam fase darurat militer dan kemanusiaan. Ribuan warga sipil terpaksa mengungsi ke kampung dan hutan, dengan akses bantuan kemanusiaan yang minim.

“KNPB mendesak pemerintah Indonesia dan lembaga internasional melakukan investigasi atas tragedi Soanggama Berdarah serta memberikan perlindungan bagi pengungsi,” tegas Ogram Wanimbo, Rabu (29/10/2025).

Sebagai respons resmi terhadap tragedi tersebut, KNPB mengeluarkan delapan tuntutan utama. Organisasi ini mengutuk keras pembantaian 12 warga sipil dan menyerukan penetapan 15 Oktober sebagai hari peringatan tragedi kemanusiaan di Intan Jaya.

KNPB menuntut penarikan seluruh pasukan TNI-Polri dari wilayah tersebut serta mendorong investigasi independen oleh lembaga advokasi HAM internasional.

Selain itu, mereka meminta Palang Merah Internasional (ICRC) dan organisasi kemanusiaan global meninjau kondisi pengungsi secara langsung.

Organisasi ini menegaskan bahwa pembunuhan warga sipil merupakan dugaan pelanggaran HAM berat oleh negara, mendesak pembangunan kamp pengungsian dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, serta menolak segala bentuk eksploitasi sumber daya alam tanpa melibatkan rakyat asli Papua.

Terakhir, KNPB menuntut hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua Barat melalui referendum.

KNPB menekankan bahwa tragedi ini mencerminkan siklus kekerasan berulang di Papua. Organisasi tersebut memperingatkan, tanpa investigasi transparan dan keterlibatan dunia internasional, keadilan bagi korban sipil akan terus terabaikan.

Tim redaksi tomei.id berupaya mengonfirmasi pernyataan dari pihak terkait. Hingga berita ini diterbitkan, pihak TNI-Polri maupun pemerintah pusat belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait tuduhan dan desakan KNPB tersebut. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Menata Bandara Lama Nabire: Jalan Alternatif, Ruang Hijau dan Ruang Bersama Masyarakat

Oleh: Wendy Eko Suswinarko Sinopsis Kawasan Bandara Lama Nabire memiliki posisi strategis dan hamparan lahan…

1 jam ago

Bimtek Microsoft Office BKPSDM Papua Tengah, ASN OPD Akui Keterampilan Kerja Makin Terasah

NABIRE, TOMEI.ID | Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) pengelola layanan kepegawaian dari berbagai Organisasi Perangkat…

1 jam ago

Bina Akrab IPMAPAN VII di Kendari Tuntas, Perkuat Solidaritas dan Karakter Mahasiswa Paniai

KENDARI, TOMEI.ID | Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Paniai (IPMAPAN) Kota Studi Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara,…

11 jam ago

361 Pejabat Pemkab Manokwari Dilantik, Hermus Tekankan Kinerja Nyata dan Pelayanan Publik

MANOKWARI, TOMEI.ID | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manokwari melantik sekitar 361 pejabat dalam jabatan pimpinan tinggi…

11 jam ago

Ranperdasi Papua Tengah Dibahas, Pemprov Tekankan Regulasi Harus Berpihak pada Rakyat

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah bersama Dewan Perwakilan Rakyat Papua Tengah (DPRPT)…

23 jam ago

KPA Papua Pegunungan Perkuat Konsolidasi Penanganan HIV/AIDS di Delapan Kabupaten

WAMENA, TOMEI.ID | Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua Pegunungan mulai memperkuat koordinasi dan konsolidasi…

1 hari ago