NABIRE, TOMEI.ID | Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Orang Asli Papua (OAP) menilai Festival Media Se-Tanah Papua memberikan dampak positif, tidak hanya bagi peningkatan literasi pelajar, tetapi juga terhadap perputaran ekonomi usaha lokal.
Penilaian tersebut disampaikan Maria Agnes Tebai, pelaku UMKM OAP yang berpartisipasi langsung dalam Festival Media Se-Tanah Papua yang digelar Asosiasi Wartawan Papua (AWP) pada 13–15 Januari 2026 di kawasan Bandara Lama, Distrik Nabire Kota, Kabupaten Nabire, Papua Tengah.
baca juga: Tim Gerak Cepat Dinkes Papua Tengah Siaga Selama Festival Media se-Tanah Papua
Menurut Maria Agnes, festival ini menjadi ruang strategis bagi UMKM OAP untuk mempromosikan produk sekaligus memperluas akses pasar karena melibatkan peserta dari berbagai daerah dan latar belakang.
“Festival ini berdampak langsung bagi UMKM. Kami bisa memperkenalkan produk dan mendapatkan pembeli,” ujar Maria Agnes saat ditemui TOMEI.ID, Kamis (15/1/2026).
baca juga: Lewat Foto, Jurnalis Papua Pegunungan Ungkap Realitas Hidup di Wilayah Konflik dan Terpencil
Dalam kegiatan tersebut, Maria Agnes menghadirkan UMKM miliknya, “Kedai Amdo dan Mace Mulut Sagu”, yang menjual berbagai produk khas Papua. Produk yang ditawarkan meliputi rajutan tangan seperti sarung botol rajut, anting-anting, dan gantungan kunci, serta olahan pangan lokal berupa sagu kering dan sagu gula merah.
Selain itu, ia juga menjual sejumlah produk dari Papua Nugini (PNG), seperti minyak rambut, topi, dan kain, serta karya seni visual bertema Papua Tengah, yang diminati pengunjung festival.
“Kami juga menjual lukisan bertema Papua Tengah. Itu lukisan cetak yang ditempel di papan, menampilkan simbol budaya dan identitas lokal masyarakat,” katanya.
baca juga: Kepala DPM-PTSP Jayapura Apresiasi Festival Media Papua 2026, Dorong Sinergi Pemerintah dan Pers
Maria Agnes mengungkapkan, selama festival berlangsung, sejumlah produk UMKM miliknya terjual dan sebagian habis dibeli pengunjung, terutama pada jam ramai pengunjung.
“Beberapa sagu sudah habis, gantungan kunci juga laku, dan satu sarung botol rajut dengan botol sudah terjual, sejak hari pertama pelaksanaan festival,” ujarnya.
Maria Agnes menjelaskan, seluruh produk sagu yang dijual merupakan hasil olahan sendiri dengan proses tradisional, menggunakan bahan lokal tanpa campuran bahan kimia.
Selain berdampak pada usaha lokal, Maria Agnes menilai Festival Media Se-Tanah Papua juga memberikan manfaat besar bagi pelajar, khususnya dalam peningkatan pemahaman literasi media.
“Materinya sangat bermanfaat untuk pelajar. Mereka aktif bertanya dan mendapatkan banyak pengetahuan baru, terutama tentang budaya lokal dan keterampilan praktis sehari-hari,” ujarnya.
Tebai juga mengapresiasi penampilan musik tradisional Papua yang dihadirkan dalam festival tersebut karena dinilai memperkuat identitas budaya lokal dan menumbuhkan rasa bangga bagi generasi muda.
“Musik-musik asli Papua sangat bagus. Biasanya kegiatan hanya menampilkan musik modern, tapi kali ini tradisi lokal benar-benar ditonjolkan dan diapresiasi banyak orang,” katanya.
Maria Agnes menekankan Festival Media Se-Tanah Papua harus digelar berkelanjutan, memberi prioritas bagi UMKM OAP, dan memperluas materi literasi media hingga anak-anak usia dini.
“Festival seperti ini wajib terus digelar. UMKM Orang Asli Papua (OAP) harus menjadi prioritas utama. Selain itu, materinya sebaiknya diperluas untuk anak-anak TK dan SD, supaya sejak dini mereka memahami manfaat sekaligus risiko penggunaan gawai secara bijak,” tegasnya. [*].










