Victor Mambor: Jurnalis Papua Harus Jadi Pemain Utama di Tanah Sendiri

oleh -1067 Dilihat
Viktor Mambor, Pemimpin Umum PT Media Jubi Papua, menjadi pemateri dalam Workshop “Pitching yang Menjual” pada Festival Media Se-Tanah Papua di Nabire, Rabu (14/1/2026). (Foto: Christian Degei/tomei.id).

NABIRE, TOMEI.ID | Jurnalis Papua harus mengambil peran sebagai pemain utama dalam menceritakan potensi, persoalan, dan masa depan Tanah Papua, dengan menonjolkan kearifan lokal dan aspirasi rakyat Papua sendiri.

Pernyataan ini disampaikan Victor Mambor, Pemimpin Umum PT Media Jubi Papua, dalam Workshop “Pitching yang Menjual: Cara Meyakinkan Sponsor Potensial” di Festival Media Se-Tanah Papua, Rabu (14/1/2026).

banner 728x90

baca juga: Festival Media Papua: AMSI Tekankan Konten Relevan sebagai Kunci Bertahan Media

Mambor menegaskan, jurnalis lokal tidak boleh terus berada di posisi pinggiran ketika media dari luar daerah mendominasi pemberitaan tentang Papua. Secara posisi dan legitimasi, anak Papua seharusnya menjadi pihak paling berhak dan paling memahami daerahnya sendiri.

“Kita orang Papua ini sebenarnya pemain utama. Jangan tenggelam dalam semangat ‘harap gampang’,” tegas Mambor.

Mambor mencontohkan sektor kehutanan Papua yang memiliki potensi besar secara nasional. Meski Papua masuk tiga besar wilayah dengan hutan terluas di Indonesia, liputan mendalam tentang hutan justru lebih banyak dihasilkan media dari luar daerah.

baca juga: Dian Kandipi: Media Sosial Harus Jadi Sarana Jurnalisme Damai, Bukan Pemantik Konflik

“Papua ini tiga besar potensi hutan, tapi liputan soal hutan hampir tidak pernah dibuat oleh anak Papua sendiri. Kita harus jadi pemain di tanah sendiri, jadi tuan di negeri sendiri,” ujarnya.

Menurut Mambor, kendala jurnalis Papua masih rendahnya kepercayaan diri, lemahnya jejaring, dan kurangnya kemampuan mengemas ide liputan serta membangun kerja sama pendanaan yang sehat.

Dalam konteks itu, kemampuan pitching yang profesional menjadi kunci saat menjalin kerja sama dengan sponsor, lembaga donor, atau mitra jurnalisme berkualitas.

“Kalau mau dapat apple, kita juga harus apple. Kalau mau pancing ikan besar, umpannya juga harus besar. Tidak mungkin pakai umpan kecil mau dapat ikan hiu,” jelas Mambor.

Mambor juga menyoroti persoalan internal jurnalis Papua, mulai dari sikap manja hingga rendahnya solidaritas. Tanpa kekompakan, jurnalis lokal sulit berkembang dan bersaing secara sehat.

“Kita harus kompak, saling tolong, jangan saling jatuhkan. Kalau ada teman mau liputan, bantu supaya bisa sampai ke narasumber. Itu kunci kita bisa maju bersama,” tegas Mambor.

Mambor berharap Festival Media Se-Tanah Papua dapat terus diselenggarakan karena menjadi ruang strategis untuk meningkatkan kapasitas, jejaring, dan kepercayaan diri jurnalis Papua, agar bisa berdiri sejajar dengan media nasional.

Festival yang berlangsung 13–15 Januari 2026 diikuti 149 jurnalis dari enam provinsi di Tanah Papua, dengan rangkaian kegiatan meliputi pelatihan jurnalistik investigasi, talk show, pameran foto, serta malam penganugerahan Papua Jurnalistik Award 2026. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.