Berita

Yonas Gobai Beli Alat Penguat Sinyal Pakai Uang Pribadi, Tuntut Ganti Rugi ke Pemerintah Distrik dan Kampung

DOGIYAI, TOMEI.ID | Inisiatif pribadi untuk menjawab keterbatasan akses internet di Distrik Mapia Barat dan Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah, kini memunculkan polemik baru.

Yonas Gobai, anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) asal Kampung Diyeugi, Distrik Mapia Tengah mengklaim telah membeli empat unit alat penguat sinyal internet menggunakan dana pribadi.

Ia kini menuntut ganti rugi sebesar Rp5 juta dari masing-masing kepala distrik dan kepala kampung yang wilayahnya menerima manfaat dari penguat sinyal tersebut.

Dalam sebuah video berdurasi singkat yang beredar Sabtu (24/5/2025), Yonas memperlihatkan proses pemasangan perangkat di beberapa titik, termasuk Kampung Diyeugi dan sejumlah kampung tetangga.

Ia menyatakan, seluruh pembelian dan instalasi dilakukan secara mandiri tanpa bantuan pemerintah.

“Saya pesan alat dari Jakarta, menggunakan uang pribadi. Keempat unit sudah terpasang dan kini berfungsi dengan baik untuk menunjang kebutuhan internet warga,” jelas Yonas dalam video tersebut.

Yonas mengungkapkan bahwa langkah ini dilatarbelakangi oleh minimnya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan internet warga di dua distrik tersebut.

“Ia menyebut sebelumnya telah ada tujuh unit penguat sinyal, namun tiga di antaranya mengalami kerusakan dan tidak berfungsi optimal,” terangnya.

Kini, dengan empat unit tambahan yang ia beli, kualitas koneksi internet di sejumlah kampung diklaim mengalami peningkatan. Masyarakat memanfaatkan akses tersebut untuk komunikasi, kegiatan belajar daring, dan mendapatkan informasi penting lainnya.

Sebagai tindak lanjut, Yonas mengajukan permintaan resmi kepada Kepala Distrik Mapia Barat dan Mapia Tengah serta para kepala kampung untuk mengganti biaya pengadaan alat yang telah ia keluarkan. Total nilai kompensasi yang dimintanya mencapai puluhan juta rupiah.

“Ini bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi demi masyarakat. Kalau permintaan ini tidak ditanggapi, saya akan bongkar semua alat itu. Kita rasakan sama-sama tidak ada internet. Saya tidak cari uang, saya cuma mau ada tanggung jawab,” tegasnya.

Yonas juga mengklarifikasi bahwa upaya memperbaiki jaringan sebelumnya sering disalahartikan sebagai bentuk komersialisasi. Ia menegaskan, langkahnya kali ini murni didorong oleh kebutuhan masyarakat.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Distrik Mapia Barat dan Mapia Tengah maupun para Kepala Kampung terkait tuntutan Yonas Gobai. Warga setempat berharap agar pemerintah segera mengambil sikap, agar akses informasi dan komunikasi masyarakat tidak kembali terganggu. [*]

Redaksi Tomei

Recent Posts

Kendaraan Berpelat Luar Masih Beroperasi di Manokwari, Samsat Soroti Potensi Pajak Daerah

MANOKWARI, TOMEI.ID | Kendaraan berpelat nomor luar daerah masih bebas beraktivitas di Manokwari, sementara kewajiban…

53 menit ago

Daniel Tauwai Baca Buku Hampir Sejam di Rumah Inspirasi Kebadabi, Mecky Tebai: Ini Pelajaran bagi Generasi Muda

NABIRE, TOMEI.ID | Daniel Tauwai menghabiskan waktu hampir satu jam membaca buku saat mengikuti kegiatan…

2 jam ago

Penduduk Papua Tengah Capai 1.397.590 Jiwa, Bertambah 13.363 pada Semester I 2026

NABIRE, TOMEI.ID | Jumlah penduduk Provinsi Papua Tengah mencapai 1.397.590 jiwa pada Semester I 2026,…

23 jam ago

Cegah Pembakaran Hutan dan Lahan, Pemuda KINGMI Desak Pernyataan Bupati Nabire Ditindaklanjuti

NABIRE, TOMEI.ID | Ketua Biro Pemuda KINGMI Klasis Nabire, Yeri Nawipa, meminta pemerintah, aparat, lembaga…

24 jam ago

Mahasiswa Pegunungan Bintang Tolak Wacana Kabupaten Okmin, Soroti Transparansi dan Kesiapan Daerah

JAYAPURA, TOMEI.ID | Mahasiswa Pegunungan Bintang yang juga Menteri HAM dan Hukum BEM Universitas Cenderawasih,…

1 hari ago

Kebakaran Lahan Kunga Disorot, Deinas Tenanum Desak Bupati dan Ketua DPRK Puncak Bertanggung Jawab

PUNCAK, TOMEI.ID | Dugaan pembakaran lahan di Kampung Kunga, Distrik Omukia, Kabupaten Puncak, Papua Tengah,…

1 hari ago