200 Mahasiswa Teknik UNCEN Dibekali Wawasan Industri Freeport, Teknologi dan Kompetensi Jadi Fokus

oleh -1197 Dilihat

JAYAPURA, TOMEI.ID | Sebanyak 200 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih (UNCEN) mengikuti program Eksekutif Mengajar PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk memperluas wawasan mengenai teknologi pertambangan, pengelolaan risiko operasional, serta kompetensi yang dibutuhkan dalam menghadapi dunia kerja.

Melalui program tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan belajar langsung dari jajaran manajemen PTFI mengenai penerapan teknologi dalam industri pertambangan modern, sekaligus memahami pentingnya kemampuan profesional, pengambilan keputusan, dan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan di Papua.

banner 728x90

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Gedung Sains dan Kemitraan PTFI-UNCEN, Jayapura, Selasa (15/9/2026), itu mempertemukan pengalaman praktis dunia industri dengan pembelajaran akademik.

Materi yang diberikan mencakup keandalan operasional pertambangan, pemeliharaan peralatan, pengelolaan risiko, serta pembangunan hubungan sosial yang mendukung keberlangsungan kegiatan industri.

Mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan, Isabella Waicang, mengatakan kegiatan tersebut memberinya pemahaman lebih konkret mengenai penerapan teori yang dipelajari di kampus dalam menghadapi tantangan industri.

“Yang paling menarik, kami bisa melihat langsung bagaimana teori di kampus dipakai untuk menjawab tantangan nyata di industri. Tidak hanya belajar tentang pekerjaan di tambang, tetapi juga tentang cara berpikir dan kompetensi yang dibutuhkan untuk masuk ke dunia profesional,” kata Isabella seusai mengikuti kegiatan.

Program Eksekutif Mengajar tersebut merupakan penyelenggaraan kedua di UNCEN. Dalam kegiatan ini, PTFI menghadirkan Senior Vice President Operations Maintenance PTFI, Ayep Dirmawan, serta Vice President Community Relations PTFI, Engel Enoch, untuk berbagi pengalaman dan perspektif profesional kepada mahasiswa.

Ayep Dirmawan menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pendekatan pemeliharaan peralatan dalam industri pertambangan.

Menurutnya, pemeliharaan tidak lagi hanya berfokus pada perbaikan setelah kerusakan terjadi, tetapi juga mencakup kemampuan mendeteksi potensi gangguan sebelum memengaruhi operasional.

Melalui analisis data serta penerapan preventive maintenance dan predictive maintenance, potensi gangguan dapat diidentifikasi lebih dini sehingga perusahaan memiliki dasar yang lebih baik dalam menentukan langkah pemeliharaan dan mengambil keputusan operasional.

“Tantangannya bukan hanya bagaimana memperbaiki peralatan yang rusak, tetapi bagaimana kita mampu memprediksi risiko sebelum gangguan terjadi. Teknologi membantu pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan tepat, namun manusia yang mengelolanya tetap menjadi faktor terpenting,” ujar Ayep.

Selain penguasaan teknologi dan kemampuan teknis, mahasiswa juga mendapat pemahaman mengenai pentingnya membangun hubungan sosial dalam kegiatan industri pertambangan, terutama di wilayah yang memiliki keragaman masyarakat dan budaya seperti Papua.

Vice President Community Relations PTFI, Engel Enoch, mengajak mahasiswa memahami bahwa keberlangsungan kegiatan industri tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis dan operasional, tetapi juga memerlukan kepercayaan serta komunikasi yang baik dengan berbagai pemangku kepentingan.

Menurut Engel, kemampuan mendengarkan beragam perspektif, memahami konteks sosial dan budaya, serta membangun ruang dialog menjadi bagian penting dalam mengelola hubungan antara perusahaan dan masyarakat.

“Diplomasi bukan semata kemampuan berbicara atau bernegosiasi. Ketika kepercayaan terbangun, dialog dapat tumbuh, perbedaan dapat dikelola, dan kolaborasi mempunyai ruang untuk berkembang,” kata Engel.

Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNCEN, Dr. Septinus Saa, S.Sos., M.Si., mengatakan program Eksekutif Mengajar memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas wawasan melalui pengalaman langsung dari praktisi industri.

Ia berharap mahasiswa Fakultas Teknik dapat memanfaatkan kegiatan tersebut untuk memperkaya pengetahuan, memahami kebutuhan dunia kerja, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan profesional setelah menyelesaikan pendidikan.

“Saya berharap mahasiswa Fakultas Teknik dapat memanfaatkan momentum belajar langsung dengan praktisi eksekutif PTFI ini sebaik-baiknya sebagai bekal berharga sebelum memasuki dunia kerja,” ujarnya.

Program Eksekutif Mengajar pertama kali dilaksanakan di Kampus UNCEN pada 29 April 2026. Pada penyelenggaraan pertama tersebut, PTFI menghadirkan Vice President Mining Safety Division, Eman Widijanto, dan Vice President Corporate Communication, Katri Krisnati, sebagai narasumber.

Melalui program ini, mahasiswa diharapkan memperoleh gambaran yang lebih luas mengenai tuntutan industri, mulai dari penguasaan teknologi dan kemampuan analitis hingga komunikasi, pemahaman sosial, dan kerja sama dengan berbagai pihak. Wawasan tersebut menjadi bekal untuk mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang. [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.