Berita

50 Tahun Tauboria: Alumni Bongkar Krisis Pengelolaan, Gereja Didesak Ambil Peran Nyata

JAYAPURA, TOMEI.ID | Perayaan Dies Natalis ke-50 Asrama Mahasiswa Katolik Tauboria di Abepura, Kota Jayapura, Sabtu (25/4/2026), tidak hanya menjadi ajang refleksi perjalanan panjang lembaga pendidikan berbasis iman tersebut, tetapi juga membuka ruang kritik tajam terhadap krisis pengelolaan yang dinilai semakin mengkhawatirkan.

Momentum setengah abad Tauboria dimaknai sebagai titik evaluasi strategis atas keberlangsungan sistem pembinaan mahasiswa yang selama ini menjadi fondasi utama asrama. Sejumlah alumni menilai bahwa peran institusi gereja sebagai pengelola utama mulai melemah dan kehilangan arah kebijakan yang jelas.

Salah satu alumni, Malvin Yobee, mengungkapkan bahwa dirinya telah mengenal kehidupan asrama Tauboria selama lebih dari 16 tahun. Ia menegaskan bahwa sistem hidup berasrama memiliki kontribusi signifikan dalam membentuk karakter mahasiswa, terutama dalam menanamkan nilai kedisiplinan, solidaritas, serta kedalaman iman.

Menurutnya, sebelum tahun 2010, asrama-asrama berbasis gereja di Papua berfungsi aktif sebagai pusat pembinaan generasi muda yang terstruktur dan berkelanjutan. Namun, sejak 2011, banyak asrama ditutup tanpa arah kebijakan yang transparan dan tanpa kejelasan program lanjutan.

“Program pembinaan yang dahulu dirintis oleh para misionaris seolah berhenti tanpa kesinambungan. Ini menimbulkan pertanyaan serius terkait komitmen gereja dalam pendidikan generasi muda,” ujarnya.

Malvin juga menguraikan dinamika pengelolaan Tauboria yang terbagi dalam dua fase. Periode 1976 hingga 2007 disebut sebagai fase awal (“jilid satu”), sedangkan setelah penutupan pada 2008, asrama kembali dibuka pada 2009 sebagai “jilid dua” yang dikelola oleh alumni.

Namun demikian, sejak 2015, ia menilai pengelolaan asrama berjalan tanpa dukungan sistem pembinaan yang jelas dari pihak keuskupan, sehingga menimbulkan kekosongan arah dan lemahnya kontrol kelembagaan.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Malvin mengakui bahwa periode pasca-2009 justru sempat menjadi masa produktif bagi Tauboria. Aktivitas mahasiswa berjalan konsisten, bahkan menjadikan asrama tersebut sebagai salah satu rujukan bagi asrama lain di Papua.

“Setiap tahun ada kegiatan yang berjalan. Tauboria sempat menjadi barometer kehidupan asrama mahasiswa di Papua,” katanya.

Dalam refleksi 50 tahun ini, alumni mendorong langkah konkret untuk memperbaiki tata kelola kelembagaan. Mereka menilai perlu adanya restrukturisasi organisasi alumni yang lebih solid, transparan, dan bertanggung jawab dalam mendukung keberlanjutan asrama.

Selain itu, perhatian terhadap kondisi fisik asrama juga menjadi sorotan. Fasilitas yang dinilai sudah tidak layak membutuhkan intervensi serius agar tetap mendukung proses pembinaan mahasiswa secara optimal dan manusiawi.

Alumni juga mendesak gereja untuk kembali mengambil peran strategis dalam menghidupkan sistem asrama pendidikan, tidak hanya di tingkat mahasiswa, tetapi juga mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah sebagai bagian dari investasi jangka panjang pembangunan sumber daya manusia Papua.

Di sisi lain, Malvin turut menyinggung adanya dinamika internal di lingkungan Gereja Katolik yang dinilai berpengaruh terhadap keberlangsungan program pembinaan tersebut.

“Kita tidak bisa menutup mata bahwa ada persoalan internal yang berdampak langsung pada sistem pembinaan generasi muda,” ungkapnya.

Meski kritik disampaikan secara terbuka, semangat persaudaraan tetap menjadi pesan utama dalam perayaan Dies Natalis ini. Alumni dan penghuni asrama diingatkan untuk tetap menjaga nilai kebersamaan sebagai kekuatan utama dalam menghadapi tantangan ke depan.

“Kita ini satu keluarga dalam Tuhan. Kebersamaan harus terus dijaga dalam suka maupun duka,” tutupnya.

Perayaan Dies Natalis ke-50 Tauboria akhirnya tidak hanya menjadi seremoni historis, tetapi juga panggilan serius untuk melakukan pembenahan menyeluruh demi memastikan keberlanjutan peran asrama sebagai pusat pembinaan karakter, iman, dan intelektualitas generasi muda Papua. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Gedung Belum Diperbarui, SD Inpres Balingga Desak Pemkab Lanny Jaya Buka Akses Jalan

LANNY JAYA, TOMEI.ID | Di tengah keterbatasan infrastruktur pendidikan yang masih membelenggu, SD Inpres Balingga…

4 jam ago

Dinkop UKM Dogiyai Perkuat Ekonomi Kampung, Minimarket dan Bantuan Kios OAP Digenjot

DOGIYAI, TOMEI.ID | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dogiyai, melalui Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah…

5 jam ago

Besok, Meki Nawipa akan Kunjungi Puncak Bawa Misi Pembangunan

PUNCAK, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, bersama Anggota Komisi II DPR RI, Forkopimda…

15 jam ago

Meki Nawipa Dorong Kadin Papua Tengah Gerakkan Ekonomi Lokal, Kurangi Ketergantungan Pertambangan

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, mendorong Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi…

1 hari ago

Belanja Perubahan APBD Papua Tengah Naik Rp1,27 Triliun, Gubernur Meki Tekankan Akuntabilitas

NABIRE, TOMEI.ID | Belanja daerah dalam Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Papua Tengah Tahun…

1 hari ago

7 Tahun Peristiwa Expo Waena, FIM-WP Manokwari Gelar Diskusi dan Seribu Lilin Kenang Ason Mujizau

MANOKWARI, TOMEI.ID | Komite Pimpinan Kota (KPK) Forum Independen Mahasiswa West Papua (FIM-WP) Manokwari, Papua…

1 hari ago