Berita

Aktivis Mahasiswa Teologi Serukan Aksi Solidaritas 3 Agustus, Angkat Isu Darurat Militer dan Kemanusiaan di Papua

JAYAPURA, TOMEI.ID | Aktivis mahasiswa teologi dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Studi Jayapura membagikan selebaran ajakan mengikuti aksi solidaritas bertajuk “Papua Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan” yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 3 Agustus 2026 di sejumlah wilayah di Tanah Papua. 

Aksi tersebut digelar untuk menyuarakan aspirasi terkait situasi kemanusiaan, pengungsian warga sipil, dan dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua.

Panitia menyatakan aksi itu merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi yang mereka nilai masih diwarnai persoalan kemanusiaan, meningkatnya pengungsian warga sipil, serta dugaan pelanggaran HAM. Mereka juga menyebut aksi tersebut bertujuan mendorong penyelesaian persoalan melalui pendekatan damai dan dialog.

Roniel Mirin, Aktivis Mahasiswa Teologi dalam keterangan persnya mengatakan aksi tersebut juga bertujuan membangun solidaritas publik terhadap situasi yang, menurutnya, sedang dihadapi masyarakat Papua.

“Kehidupan bangsa Papua sudah berada dalam fase kepunahan oleh karena kekerasan militer dari tahun 1960 hingga sampai sekarang tahun 2026 terus berlangsung di atas kehidupan bangsa Papua,” ujar Roniel di Jayapura, Sabtu (1/8/2026).

Roniel menilai masih adanya pengungsian di sejumlah wilayah menunjukkan ruang hidup dan ruang berekspresi masyarakat sipil belum berjalan secara kondusif.

“Kasus pengungsian yang terjadi hari ini mencerminkan ruang ekspresi bagi warga sipil sangat tidak kondusif. Praktik militer tidak memberikan jaminan hidup sehingga fenomena ini memberikan alarm khusus bahwa Papua sedang kehilangan masa depan dan sedang menuju kepunahan,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan pandangannya bahwa kebijakan negara terhadap Papua lebih berorientasi pada pemanfaatan sumber daya alam dibanding perlindungan terhadap masyarakat.

“Pandangan negara terhadap Papua hari ini hanya terhadap sumber daya alam dan ada kemungkinan manusianya mau dimusnahkan,” katanya.

Roniel mengajak seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan suku, ras, agama, maupun etnis untuk berpartisipasi dalam aksi solidaritas sebagai bentuk kepedulian terhadap isu kemanusiaan di Papua.

Di akhir keterangannya, ia menegaskan mahasiswa teologi memposisikan diri sebagai kelompok independen yang akan bergabung bersama Komite Nasional Papua Barat (KNPB) untuk menyuarakan hak-hak warga sipil.

“Mahasiswa Teologi sebagai kaum independen siap untuk bersolidaritas bersama KNPB guna menyuarakan hak warga sipil sebagaimana dijamin oleh konstitusi untuk berkumpul dan menyampaikan pendapat di muka umum,” tutupnya. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Penerbangan Bersubsidi PT AMA Resmi Beroperasi, Pemprov Papua Tengah Perkuat Akses Wilayah Pegunungan

NABIRE, TOMEI.ID | Program penerbangan bersubsidi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah, sebagai langkah strategis memperkuat…

13 jam ago

FPM Papua Tengah Desak Pemerintah Segera Bertindak Dugaan Penyanderaan 9 Warga di Jila

NABIRE, TOMEI.ID | Forum Peduli Masyarakat (FPM) Papua Tengah mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah…

14 jam ago

KADIN Papua Tengah Dorong Pemerintah Amankan Air Bersih di Tengah Ancaman El Nino

NABIRE, TOMEI.ID | Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Papua Tengah mendorong pemerintah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi…

17 jam ago

Panah Papua Soroti 1.473 Hotspot, Desak Penanganan Karhutla Lindungi Ruang Hidup OAP

MANOKWARI, TOMEI.ID | Perkumpulan Panah Papua menyoroti meningkatnya sebaran titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah…

18 jam ago

Hadapi Puncak Kemarau, Kapolda Papua Tengah Perintahkan Tujuh Langkah Antisipasi Karhutla

NABIRE, TOMEI.ID | Menghadapi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode kemarau, Kapolda…

18 jam ago

KNPB Nabire Ajukan Tujuh Tuntutan, Soroti Konflik dan Penanganan Pengungsi Papua

NABIRE, TOMEI.ID | Badan Pengurus Wilayah Komite Nasional Papua Barat (BPW-KNPB) Wilayah Nabire dengan sikap…

1 hari ago