Berita

BEM UNMUS Desak Transparansi Dana Pendidikan Papua SelatanPasca Kasus Dugaan Korupsi Hibah PAUD

MERAUKE, TOMEI.ID | Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Musamus Merauke mendesak Pemerintah Provinsi Papua Selatan agar lebih transparan dalam pengelolaan dana pendidikan, khususnya dana hibah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang tengah terseret kasus dugaan korupsi.

Ketua BEM Universitas Musamus, Yoram Oagay, menilai kasus tersebut bukan hanya persoalan hukum, tetapi menjadi cerminan lemahnya tata kelola pendidikan di daerah otonom baru itu.

baca juga: BEM Universitas Musamus Merauke Tolak Jalan 135 Km, Ungkap Dugaan Deforestasi 8.691 Hektare

“Papua Selatan ini provinsi baru. Harapan masyarakat besar sekali, supaya pelayanan publik lebih baik dan anggaran tepat sasaran. Tapi kalau dana PAUD saja bisa dikorupsi, tentu masyarakat kecewa dan bertanya-tanya,” kata Yoram dalam ulasan yang dikirim kepada wartawan, Sabtu (28/2/2026).

Menurut Yoram, PAUD merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter dan literasi anak sejak usia dini. Di wilayah seperti Papua Selatan yang masih menghadapi tantangan akses dan kualitas sumber daya manusia, program PAUD seharusnya menjadi prioritas.

“Kalau dana pendidikan usia dini disalahgunakan, yang dirugikan bukan hanya lembaga, tapi anak-anak. Mereka kehilangan fasilitas, guru kekurangan dukungan, dan orang tua kehilangan kepercayaan,” ujarnya.

Ia menegaskan, korupsi di sektor pendidikan memiliki dampak jangka panjang. Berbeda dengan proyek fisik yang bisa diperbaiki, kehilangan pendidikan pada masa usia emas sulit digantikan.

Lebih lanjut, Yoram mengungkapkan sejumlah persoalan yang menurutnya perlu dibenahi pemerintah daerah.

Pertama, minimnya transparansi publik terkait data penerima hibah, besaran anggaran, serta rincian penggunaannya.

Kedua, lemahnya pengawasan administratif, di mana laporan pertanggungjawaban sering kali hanya lengkap secara dokumen tanpa verifikasi lapangan.

Ketiga, adanya potensi politisasi dana hibah, terutama di daerah baru yang masih dalam proses konsolidasi kekuasaan.

Keempat, belum maksimalnya pelibatan masyarakat, termasuk komite sekolah dan tokoh adat, dalam pengawasan.

“Kami dari BEM tidak ingin kasus ini hanya berhenti di proses hukum. Harus ada perbaikan sistem. Transparansi itu bukan ancaman bagi pemerintah, tapi justru membangun kepercayaan publik,” tegasnya.

Yoram berharap Pemerintah Provinsi Papua Selatan menjadikan kasus ini sebagai momentum reformasi tata kelola pendidikan yang lebih bersih dan akuntabel.

“Pertanyaannya sederhana, apakah dana pendidikan hanya dianggap angka dalam APBD, atau benar-benar dilihat sebagai masa depan anak-anak Papua Selatan? Kalau yang dikorupsi pendidikan, yang dipertaruhkan itu generasi,” pungkasnya.(*)

Redaksi Tomei

Recent Posts

Larangan Dagang di Pantai Nabire yang Beredar di Medsos Bukan Instruksi Gubernur Meki

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah, membantah informasi yang beredar di media sosial…

2 jam ago

Pemuda Parausia Wadio Didorong Perkuat Karakter, Kepemimpinan, dan Pelayanan

NABIRE, TOMEI.ID | Enam anggota baru Pemuda Jemaat Parausia Wadio, Klasis Nabire, resmi diterima dalam…

6 jam ago

Gubernur Meki Nawipa akan Kunjungi Dogiyai Besok, Ini Agendanya

DOGIYAI, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa dijadwalkan akan melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten…

9 jam ago

DKP KINGMI Desak Transparansi Anggaran dan Hentikan Konflik Kwamki Narama

TIMIKA, TOMEI.ID | Departemen Keadilan dan Perdamaian (DKP) Sinode Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah…

11 jam ago

Musa Boma Tegas Tolak Klaim Tanah Adat, Plang Satgas PKH Dicabut

NABIRE, TOMEI.ID | Pemuda dan Masyarakat Adat SIMAPITOWA mencabut papan nama yang disebut milik Satuan…

11 jam ago

KNPB Nabire Lantik Pengurus Baru Sektor Yamewa, Perkuat Konsolidasi Basis

NABIRE, TOMEI.ID | Badan Pengurus Wilayah Komite Nasional Papua Barat (BPW-KNPB) Nabire resmi melantik pengurus…

1 hari ago