Berita

Bukan Pendeta Tapi Pelita

Oleh: Hengki Wamuni

Judul “Bukan Pendeta Tapi Pelita” bukan permainan retorika belaka. Bukan pula konstruksi paradigma penulis untuk mencari headline yang relevan dengan uraian dalam tulisan ini, melainkan murni mengacu pada pengalaman kerja nyata yang telah dilakukan oleh Bapak Marten Tipagau, S.Sos., dalam pelayanan gereja dan kehidupan masyarakat di Tanah Papua.

Bapak Marten Tipagau adalah salah satu putra asli Moni, sarjana sosial lulusan Universitas Sam Ratulangi, politikus, dan kader Gereja Kemah Injil (KINGMI). Perhatiannya terhadap pelayanan Gereja Kemah Injil di Papua, lebih khusus di wilayah Kabupaten Intan Jaya, menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdiannya. Sosoknya tidak hanya dilihat dari latar belakang politik, tetapi juga dari keterlibatan dalam pekerjaan yang berkaitan dengan kebutuhan rohani dan akses masyarakat terhadap Firman Tuhan.

Pelayanan pekerjaan Tuhan itu, menurut tulisan ini, mulai dilakukan setelah Marten Tipagau dilantik sebagai Ketua DPRD Kabupaten Intan Jaya pada 2014. Sebelum menjalankan tugasnya sebagai perwakilan rakyat, terlebih dahulu ia melakukan pencetakan Alkitab Bahasa Suku Moni sebanyak 4.000 eksemplar pada 2015. Proses tersebut dilakukan melalui beberapa tahap kerja sama dengan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Dokumentasi Pengucapan Syukur Alkitab Bahasa Moni Cetakan ke-2 Tahun 2015.

Berikutnya, ia mencetak 8.000 eksemplar kitab beserta Buku Nyanyian dalam Bahasa Moni pada 2021. Pencetakan tersebut menjadi kelanjutan dari upaya menyediakan bahan bacaan keagamaan dalam bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat Moni. Pada tahap berikutnya, pencetakan juga dilakukan untuk Alkitab dalam Bahasa Nduga dan Bahasa Lani dengan total keseluruhan yang disebut mencapai 15.400 eksemplar. Dokumentasi Alkitab Bahasa Moni, Projek Tuhan.

Pekerjaan suplai dan distribusi Alkitab ini membutuhkan biaya yang sangat besar sehingga, menurut penulis, menjadi pekerjaan yang tidak mudah apabila hanya mengandalkan kemampuan gereja. Dalam kisah yang disampaikan, Marten Tipagau mengambil bagian dalam pekerjaan tersebut dengan menggunakan biaya sendiri, baik pada tahap pencetakan maupun pendistribusian. Biaya carter pesawat dan helikopter untuk satu kali suplai disebut dapat mendekati Rp100 juta. Namun, seluruh proses itu dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab pelayanan yang dijalankan berdasarkan iman, hikmat, dan kebijaksanaan.

Benar, Tuhan memakai setiap orang untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan besar yang tidak dapat dilakukan oleh gereja karena keterbatasan. Tentu, perjalanan tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan, mulai dari mahalnya biaya proses percetakan, pengiriman dari tempat percetakan ke kediaman di Nabire, hingga suplai ke wilayah pedalaman Tanah Papua. Selain itu, dalam kisah ini disebut terdapat penolakan dari pihak gereja dengan alasan yang tidak diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan keyakinan penulis, berbagai persoalan tersebut dapat dilewati sehingga pelayanan tetap berjalan.

Adapun stok Alkitab dan Buku Nyanyian yang sebelumnya dicetak melalui pelayanan para misionaris disebut telah habis, sementara masyarakat Moni masih membutuhkan Alkitab dalam bahasa mereka sendiri. Di tengah kesulitan memperoleh bahan bacaan tersebut, Marten Tipagau kemudian mengambil bagian dalam melanjutkan proyek pencetakan dan distribusi. Dengan demikian, menurut kisah yang disampaikan, masyarakat Moni kembali memperoleh akses terhadap Alkitab dan Buku Nyanyian dalam bahasa daerahnya.

Suplai Alkitab Bahasa Moni kemudian didistribusikan menggunakan angkutan udara, baik helikopter maupun pesawat carter, yang diarahkan langsung ke sejumlah lokasi tujuan. Tempat-tempat yang disebut antara lain Kampung Saidega, Maipa, dan Pogapa di Distrik Homeyo, Kampung Jae di Distrik Wandai, Bugalaga di Distrik Biandoga, Nabia di Distrik Hitadipa, termasuk Duma-dama yang berada dalam wilayah administratif Kabupaten Mimika. Distribusi ke wilayah tersebut menunjukkan besarnya tantangan geografis yang harus dihadapi untuk menjangkau masyarakat di pedalaman.

Di luar Kabupaten Intan Jaya, ia juga disebut mengirim Alkitab dalam Bahasa Nduga ke wilayah Nduga dan Bahasa Lani ke Wamena tanpa sponsor dari pihak luar. Distribusi Alkitab dilakukan tanpa meminta bayaran kepada penerima maupun pihak yang membantu mendistribusikannya. Atas inisiatif dan biaya sendiri, Alkitab serta Buku Nyanyian Moni kemudian disalurkan kepada warga gereja yang berada di berbagai wilayah Tanah Papua, sebagaimana dikisahkan dalam tulisan ini.

Di tengah kesulitan tersebut, penulis memaknai pelayanan itu sebagai bagian dari panggilan iman agar Firman Tuhan terus menjalar, berita keselamatan terus tersebar, serta Injil dapat mengakar, bertumbuh, dan berbuah dalam kehidupan orang-orang yang menerimanya. Bagi penulis, pelayanan tersebut bukan hanya mengenai pencetakan buku, tetapi juga tentang membuka akses bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan geografis dan ekonomi.

Tidak sampai di situ, beliau juga disebut telah mengurus digitalisasi Alkitab dalam beberapa bahasa suku di Tanah Papua. Bahasa yang disebut mencakup Bahasa Moni-Intan Jaya, Bahasa Mee di wilayah Meeuwo, Bahasa Lani-Wamena dan Nduga, Bahasa Hatam, serta Bahasa Damal dengan total biaya yang disebut mencapai Rp80 juta. Dalam tulisan ini, pekerjaan tersebut dimaknai sebagai bingkisan atau kado spesial bagi enam suku besar di pegunungan tengah Papua.

Digital Alkitab Moni – Marten Tipagau. Bagi generasi muda dan masyarakat Suku Moni, digitalisasi tersebut memberikan kemudahan untuk membaca Alkitab dalam bahasa daerah melalui perangkat digital. Aplikasi Alkitab Bahasa Moni juga tersedia di Google Play dan tercatat dikembangkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia-Indonesian Bible Society. Kehadiran aplikasi tersebut menjadi salah satu bentuk perkembangan pelayanan yang memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses terhadap teks Alkitab dalam bahasa Moni.

Alkitab Bahasa Moni di Google Play. Bapak Marten Tipagau, sebagaimana digambarkan dalam tulisan ini, mengerjakan proyek tersebut bukan melalui kerja sama dengan pihak mana pun dalam hal sumbangan dana, termasuk afiliasi dengan kelembagaan Kristen. Pelayanan itu disebut dilakukan berdasarkan iman kepada Allah dan dorongan nurani untuk melayani umat Tuhan di Tanah Papua, khususnya masyarakat yang secara sosial dan ekonomi memiliki keterbatasan dalam menjangkau akses terhadap Firman Allah. Ia disebut mempersembahkan sebagian hidup dan hasil pendapatannya untuk mendukung pekerjaan pelayanan tersebut.

Ia juga pernah memasang plakat prasasti Doa Bapa Kami dalam Bahasa Moni pada dinding Gereja Pater Noster di Yerusalem. Dalam tulisan ini disebutkan bahwa Bahasa Moni berada di antara 126 bahasa yang terpampang di gereja tersebut dan menjadi salah satu dari tiga bahasa dari Papua yang ditampilkan di sana. Bagi penulis, keberadaan Bahasa Moni dalam ruang tersebut bukan sekadar simbol bahasa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan identitas dan kekayaan bahasa masyarakat Papua kepada dunia.

Jiwa seorang pemimpin, menurut refleksi penulis, harus mengutamakan perkara di atas dan kemuliaan Allah sebagaimana pesan dalam Matius 6:33. Setelah itu diperlukan tekad dan komitmen yang kuat untuk memperjuangkan sesuatu yang diyakini memiliki nilai bagi masyarakat. Karakter kepemimpinan Marten Tipagau dalam tulisan ini digambarkan melalui keberanian untuk merealisasikan gagasan yang telah diyakininya, termasuk dalam pelayanan Alkitab dan pengembangan akses digital bagi masyarakat.

Melihat karya nyata yang dikisahkan di atas, penulis menyebut Marten Tipagau sebagai politikus yang sekaligus memiliki sisi sosial, visioner, dan rohaniwan. Namun, penyebutan tersebut merupakan penilaian dan refleksi penulis berdasarkan karya yang dikisahkan, bukan jabatan formal yang melekat pada dirinya. Hal yang menjadi perhatian utama adalah tindakan nyata yang dilakukan dalam mendukung pelayanan, penyediaan Alkitab, distribusi bahan bacaan, serta pengembangan akses digital dalam beberapa bahasa daerah Papua.

Lebih jauh, kisah pelayanan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan masyarakat Papua tidak selalu dapat dijawab hanya melalui pembangunan fisik. Kehadiran gedung, jalan, dan berbagai fasilitas memang penting, tetapi pembangunan manusia juga membutuhkan akses terhadap pendidikan, pengetahuan, nilai-nilai iman, serta bahan bacaan yang sesuai dengan bahasa dan identitas masyarakat. Dalam konteks itu, penyediaan Alkitab dalam bahasa daerah dapat dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga hubungan antara iman, bahasa, dan kehidupan masyarakat.

Bahasa daerah memiliki kedudukan penting dalam membentuk identitas sebuah komunitas. Ketika bahasa Moni digunakan dalam Alkitab, Buku Nyanyian, dan aplikasi digital, bahasa tersebut tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga memperoleh ruang untuk terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Tantangan zaman digital justru dapat menjadi kesempatan untuk membawa bahasa daerah memasuki ruang baru, sehingga generasi muda tidak hanya mengenalnya melalui percakapan sehari-hari, tetapi juga melalui teknologi yang dekat dengan kehidupan mereka.

Dari sudut pandang pelayanan, apa yang dilakukan Marten Tipagau dalam kisah ini juga memperlihatkan bahwa seseorang dapat mengambil bagian dalam pekerjaan sosial dan keagamaan tanpa harus menunggu memiliki jabatan gerejawi. Kemampuan, kesempatan, sumber daya, dan kepedulian dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan yang nyata di tengah masyarakat. Nilai pentingnya bukan semata-mata pada siapa yang melakukan, tetapi pada bagaimana sebuah niat diterjemahkan menjadi pekerjaan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain.

Pada akhirnya, karya pelayanan seperti pencetakan, distribusi, dan digitalisasi Alkitab membutuhkan kesinambungan agar manfaatnya tidak berhenti pada satu generasi. Generasi muda Papua perlu diberi ruang untuk melanjutkan pekerjaan tersebut dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman, sekaligus tetap menghormati bahasa, budaya, iman, dan identitas masyarakatnya. Dengan demikian, pelayanan yang telah dimulai tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi dapat berkembang menjadi warisan yang terus memberi manfaat bagi masyarakat di Tanah Papua.

Dengan demikian, Bapak Marten Tipagau dalam refleksi penulis telah menjadi pelita bagi masyarakat di Tanah Papua, khususnya masyarakat Intan Jaya, melalui penyaluran Alkitab Bahasa Moni dan pengembangan versi Alkitab digital. Kisah tersebut menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan maupun pekerjaan seseorang tidak selalu menentukan bentuk pengabdian yang dapat dilakukan. Dalam keyakinan iman penulis, Allah dapat memakai siapa saja untuk menjalankan tujuan dan rencana-Nya, tanpa dibatasi oleh latar belakang pendidikan, profesi, jabatan, maupun posisi seseorang dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, “Bukan Pendeta Tapi Pelita” bukan sekadar ungkapan untuk menggambarkan seseorang. Bagi penulis, judul tersebut merupakan refleksi atas sebuah perjalanan pelayanan yang menunjukkan bahwa terang dapat hadir melalui berbagai bentuk pengabdian. Marten Tipagau dikisahkan telah mengambil bagian dalam menghadirkan Alkitab Bahasa Moni, mendukung distribusinya ke berbagai wilayah, serta mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses terhadap Firman Tuhan. Dari Tanah Moni, sebuah pelayanan kemudian menjangkau berbagai ruang kehidupan masyarakat Papua.

Pelita itu bukan terutama tentang gelar, jabatan, atau status seseorang, melainkan tentang kesediaan menggunakan apa yang dimiliki untuk menerangi jalan orang lain. Sebab, terang tidak selalu datang dari tempat yang kita duga. Kadang-kadang, terang hadir melalui seseorang yang tidak berdiri di mimbar sebagai pendeta, tetapi memilih menjadikan hidupnya sebagai pelita bagi orang lain.

)*Penulis adalah pemerhati sosial dan pendidikan di Papua.

Redaksi Tomei

Recent Posts

Hasil Kebun Ada, Pembeli Mana? APINDO Dogiyai Minta Bupati Evaluasi Program Belanja Jumat

DOGIYAI, TOMEI.ID | Dewan Pimpinan Kabupaten Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPK APINDO) Dogiyai meminta Pemerintah Kabupaten…

10 jam ago

AHY Komandoi 42 Kepala Daerah di Jayapura, Trans Papua Jadi Prioritas

JAYAPURA, TOMEI.ID | Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memimpin rapat…

14 jam ago

Hadiri di HUT ke-30 Panti Uzinmo, Kadinsos: Rawat Anak Yatim Piatu adalah Panggilan Tuhan

WAMENA, TOMEI.ID | Kepala Dinas Sosial Provinsi Papua Pegunungan, Yanius Telenggen, menyebut merawat anak yatim…

1 hari ago

KNPB Numbay Soroti Kondisi Yahukimo, Sebut Situasi sebagai “Darurat Militer dan Kemanusiaan”

JAYAPURA, TOMEI.ID | Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Numbay Sektor Asya menyoroti kondisi sosial…

1 hari ago

KMPPJ Nabire Kukuhkan 61 Mahasiswa Baru, Dukungan Pemkab Puncak Jaya Diapresiasi

NABIRE, TOMEI.ID | Komunitas Mahasiswa Pelajar Puncak Jaya (KMPPJ) Kota Studi Nabire mengukuhkan 61 mahasiswa…

1 hari ago

Tanah Tota Mapia: Hukum Alam, Hak Masyarakat Adat dan Masa Depan Generasi

Oleh: Musa Boma TANAH Mapia adalah mama kami bagi seluruh rakyat Tota Mapia, mulai dari…

1 hari ago