Dari Tailing hingga Konservasi Satwa, Inovasi Reklamasi Freeport Jadi Ruang Belajar Peserta IFRC 2026

oleh -1225 Dilihat

TIMIKA, TOMEI.ID | Lahan bekas aktivitas pertambangan tidak selalu berakhir sebagai kawasan yang kehilangan nilai ekologis dan produktivitas, apabila dikelola melalui inovasi reklamasi yang terencana, berkelanjutan, serta berpihak pada kelestarian lingkungan.

Di Mile Post (MP) 21, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, PT Freeport Indonesia (PTFI) mengembangkan berbagai penelitian reklamasi yang memadukan pemulihan lingkungan, konservasi keanekaragaman hayati, hingga pemanfaatan lahan secara produktif.

banner 728x90

Upaya tersebut diperkenalkan kepada 170 peserta Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) ke-8 Tahun 2026 yang berasal dari 16 perusahaan pertambangan. Para peserta mengunjungi Pusat Penelitian Reklamasi, Biodiversitas, dan Edukasi PTFI di MP 21, Sabtu (24/10/2026).

Manager Environmental Central System and Project PTFI, Roberth Sarwom, mengatakan kawasan MP 21 merupakan salah satu fasilitas yang digunakan perusahaan untuk melakukan penelitian dan pengembangan metode reklamasi, terutama pada lahan yang didominasi pasir sisa hasil pengolahan bijih tambang.

“Kawasan MP 21 merupakan salah satu fasilitas yang digunakan untuk melakukan penelitian dan pengembangan metode reklamasi, khususnya pada lahan yang didominasi pasir sisa hasil pengolahan bijih tambang,” ujar Roberth.

Dalam kunjungan tersebut, peserta melihat langsung berbagai fasilitas penelitian dan konservasi yang dikembangkan PTFI. Mulai dari pembibitan tanaman atau nursery, ruang penyimpanan benih (seed room), budidaya ikan air tawar, konservasi kasuari, penangkaran kupu-kupu dan burung kakatua.

Peserta juga mengunjungi Graha Diorama Ekosistem yang menampilkan gambaran bentang alam wilayah operasi PTFI, dari kawasan pesisir hingga pegunungan Grasberg.

Salah satu hasil penelitian yang menarik perhatian peserta adalah pemanfaatan lahan reklamasi untuk budidaya tanaman produktif. Di kawasan tersebut, PTFI mengembangkan tanaman kakao pada lahan tailing seluas satu hektare yang kemudian menghasilkan produk cokelat.

Selain itu, hasil budidaya pisang di kawasan MP 21 juga diolah menjadi keripik pisang Maurpau. Produk-produk tersebut menjadi gambaran bahwa lahan reklamasi memiliki peluang untuk dikembangkan secara produktif setelah melalui proses penelitian dan pengelolaan yang berkelanjutan.

Roberth menjelaskan, pengelolaan lingkungan yang dilakukan PTFI tidak hanya berfokus pada pemulihan lahan, tetapi juga mencakup upaya pelestarian flora dan fauna endemik Papua.

Dalam bidang konservasi, PTFI bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk melakukan penyelamatan, pemulihan, hingga pelepasliaran satwa yang diselamatkan dari perdagangan ilegal.

Perusahaan juga terlibat dalam program rehabilitasi mangrove di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Papua, Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sumbawa.

Manager Tim Rescue PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), Muhammad Indar, mengapresiasi kesempatan untuk melihat langsung pengelolaan reklamasi dan konservasi yang dijalankan PTFI.

Menurutnya, kunjungan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pentingnya menempatkan kegiatan industri dan perlindungan lingkungan sebagai bagian yang saling berkaitan.

“Kunjungan ke lokasi reklamasi memberikan pengalaman dan pengetahuan baru. Freeport tidak hanya menambang, tetapi juga memelihara flora dan menjaga kelestariannya,” kata Muhammad.

Ia juga mengaku terkesan setelah memperoleh informasi mengenai upaya penyelamatan dan pelepasliaran 63 ribu kura-kura moncong babi yang dilakukan bersama BKSDA.

Muhammad menegaskan, kelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan dan tanggung jawab semua pihak.

“Kalau kita jaga dan selamatkan lingkungan, maka kita selamat,” ujarnya.

Apresiasi serupa disampaikan Arifin, perwakilan Tim Rescue PT Pamapersada Nusantara (PAMA). Ia mengaku terkesan dengan berbagai inovasi reklamasi dan konservasi yang dikembangkan PTFI di kawasan MP 21.

“Mile 21 keren, Freeport juga keren,” katanya.

Melalui kunjungan tersebut, Roberth berharap peserta IFRC 2026 dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai pengelolaan lingkungan dan konservasi keanekaragaman hayati.

Menurutnya, pengalaman yang diperoleh dari lapangan diharapkan dapat memperkuat kesadaran tentang pentingnya keberlanjutan dan budaya keselamatan dalam setiap aktivitas industri pertambangan. [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.