Oleh: Michael Edowai
Di tengah dinamika pergerakan mahasiswa Katolik di Indonesia yang terus berkembang, muncul sosok yang tidak hanya dikenal karena gagasan-gagasannya yang tajam, tetapi juga karena keteguhan hati, konsistensi perjuangan, dan semangat pantang menyerah yang menjadi teladan bagi banyak kader. Ia adalah Christian Alesandro Delviero Rettob, atau yang lebih akrab disapa Delvis Rettob. Pria asal Maluku ini kini menerima amanah besar sebagai Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas untuk masa bakti 2026–2028.
Amanah tersebut bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Di balik kepercayaan yang diberikan kepadanya terdapat perjalanan panjang, pengalaman organisasi, proses pembelajaran, dinamika pergerakan, serta pergulatan batin yang membentuk karakter kepemimpinannya. Karena itu, terpilihnya Delvis Rettob bukan hanya sebuah pergantian kepemimpinan dalam struktur organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana seorang kader ditempa oleh proses sebelum akhirnya dipercaya memikul tanggung jawab yang lebih besar.
Nama Delvis Rettob kini tidak asing lagi di telinga kader PMKRI dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki “mental baja”—sebuah gambaran yang tidak berlebihan apabila melihat perjalanan panjang yang telah ditempuhnya menuju posisi Ketua Presidium. Mental tersebut tidak lahir dari kenyamanan, melainkan ditempa oleh proses panjang, keberanian menghadapi tekanan, serta keteguhan untuk tetap berdiri ketika keadaan tidak selalu berpihak.
Perjalanannya tidak selalu berjalan mulus. Ada lika-liku, perbedaan pandangan, dinamika organisasi, serta situasi yang menguji ketahanan hati, kesabaran, dan kematangan dalam mengambil keputusan. Namun, justru dari setiap ujian itulah karakter kepemimpinannya semakin teruji, karena seorang pemimpin sejati tidak diukur saat keadaan mudah, melainkan ketika mampu bertahan, bersikap jernih, dan tetap menjaga arah perjuangan.
Kepemimpinan dalam organisasi pergerakan mahasiswa tidak cukup dibangun melalui kemampuan berbicara di ruang persidangan. Seorang pemimpin dituntut memiliki daya tahan ketika menghadapi tekanan, kemampuan mendengarkan ketika berada di tengah perbedaan, serta keberanian untuk mengambil keputusan ketika kepentingan organisasi membutuhkan sikap yang tegas. Dalam konteks inilah perjalanan Delvis menjadi menarik untuk dibaca sebagai sebuah proses pembentukan karakter kepemimpinan.
Kisah perjuangan Bung Delvis mulai terukir jelas pada tahun 2024. Saat itu, Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) PP PMKRI diselenggarakan di Kota Merauke, Provinsi Papua Selatan—tanah di ujung timur Nusantara yang menjadi saksi perdebatan, aspirasi, dan harapan kader-kader PMKRI dari berbagai wilayah Indonesia.
Dalam forum penentuan arah organisasi tersebut, Bung Delvis turut maju dengan membawa gagasan dan visi bagi kemajuan PMKRI. Namun, hasil musyawarah ketika itu belum memberikan kepercayaan kepadanya. Bagi sebagian orang, situasi semacam itu mungkin menjadi alasan untuk berhenti, menarik diri dari arena perjuangan, atau bahkan kehilangan keyakinan terhadap proses organisasi.
Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi sosok yang lahir dari tanah Maluku ini.
Hasil yang belum sesuai harapan di Merauke tidak dipandang sebagai kekalahan yang harus diratapi. Sebaliknya, Bung Delvis menjadikannya sebagai ruang untuk melakukan evaluasi dan pembelajaran. Ia memilih untuk mendengar lebih banyak suara dari berbagai daerah, memahami persoalan organisasi secara lebih luas, menyempurnakan gagasan, memperkuat komunikasi dengan kader, dan membangun kembali kepercayaan melalui proses yang panjang.
Di sinilah makna mental baja menemukan relevansinya. Mental baja bukan berarti tidak pernah mengalami kegagalan, tidak pernah merasa kecewa, atau selalu berada dalam posisi menang. Mental baja justru terlihat ketika seseorang mampu menerima hasil yang tidak sesuai harapan, mengambil pelajaran darinya, kemudian bangkit tanpa kehilangan arah perjuangan.
Bung Delvis tetap berjalan. Ia tetap hadir di tengah kader, tetap berdiskusi, tetap membangun komunikasi, dan tetap menjaga optimisme. Ia menunjukkan bahwa pengabdian kepada organisasi tidak boleh bergantung pada jabatan atau hasil sebuah pemilihan. Sebab, organisasi yang sehat membutuhkan kader yang mampu tetap bekerja bahkan ketika belum memperoleh posisi yang diharapkan.
Dua tahun setelah peristiwa di Merauke, momentum itu kembali datang. Ajang tertinggi organisasi kembali digelar melalui MPA PP PMKRI ke-XXXIII di Kota Ruteng, Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kota yang berada di dataran tinggi Flores tersebut menjadi saksi perjalanan panjang yang akhirnya menemukan titik baru. Setelah melewati proses panjang dan berbagai dinamika organisasi, harapan yang pernah tertunda kini kembali menemukan ruang untuk diwujudkan melalui kepercayaan kader.
Di tengah pertemuan yang berlangsung dengan semangat persaudaraan, diskusi yang mendalam, serta proses musyawarah antarkader lintas wilayah, nama Delvis Rettob kembali muncul sebagai salah satu harapan bagi masa depan PMKRI. Kemunculan tersebut bukan sekadar bagian dari dinamika pemilihan, melainkan mencerminkan tumbuhnya kepercayaan terhadap sosok yang dinilai memiliki pengalaman, keteguhan, dan kapasitas untuk membawa organisasi menghadapi tantangan zaman.
Kali ini, kepercayaan itu datang dengan penuh. Bung Delvis Rettob ditetapkan secara aklamasi melalui proses musyawarah sebagai Mandataris MPA sekaligus Formatur Tunggal Ketua Presidium PP PMKRI periode 2026–2028. Amanah tersebut tentu bukan sekadar penghargaan personal, melainkan tanggung jawab besar yang membawa harapan dari banyak kader dan cabang PMKRI di seluruh Indonesia.
Kepercayaan itu diberikan bukan semata-mata karena kemampuan berbicara atau pengalaman berorganisasi. Lebih dari itu, terdapat karakter yang telah ditempa oleh proses, ketulusan dalam mengabdi, kemampuan bertahan dalam situasi sulit, serta konsistensi untuk tetap berada dalam barisan perjuangan.
Dari Merauke menuju Ruteng, terdapat sebuah pelajaran penting tentang kepemimpinan: bahwa perjalanan menuju kepercayaan tidak selalu lurus. Ada saat ketika seseorang harus menerima hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Ada masa ketika gagasan harus diuji. Ada waktu ketika seorang kader harus belajar lebih banyak sebelum akhirnya dipercaya untuk memimpin.
Karena itu, perjalanan Delvis Rettob dapat menjadi pesan bagi kader-kader muda PMKRI bahwa kegagalan bukan akhir dari perjuangan. Kegagalan dapat menjadi ruang pendidikan karakter apabila seseorang memiliki keberanian untuk melakukan refleksi, memperbaiki diri, dan kembali bekerja dengan ketulusan, kesabaran, konsistensi, serta semangat pelayanan demi kepentingan bersama dan masa depan organisasi.
Kini, tantangan yang berada di hadapan kepemimpinan PP PMKRI periode 2026–2028 tentu tidak ringan. PMKRI berada dalam situasi bangsa yang semakin kompleks. Persoalan demokrasi, ketimpangan sosial, pendidikan, kemiskinan, lingkungan hidup, perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, hingga masa depan generasi muda membutuhkan kehadiran organisasi mahasiswa yang tidak hanya kritis dalam menyampaikan suara, tetapi juga mampu menawarkan gagasan dan solusi.
PMKRI harus tetap menjadi ruang kaderisasi yang melahirkan generasi muda Katolik yang memiliki kemampuan intelektual, kematangan spiritual, kepekaan sosial, serta keberanian untuk terlibat dalam persoalan kebangsaan. Pergerakan mahasiswa tidak boleh berhenti pada ruang-ruang internal organisasi. Kehadiran kader harus dapat dirasakan dalam kehidupan masyarakat dan dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Di sisi lain, konsolidasi internal juga menjadi pekerjaan penting. Besarnya organisasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah cabang dan anggota, tetapi oleh kualitas hubungan antarkader, kekuatan kaderisasi, kemampuan organisasi merawat persaudaraan, serta kesediaan untuk menghargai perbedaan pandangan. Tanpa itu, kebesaran organisasi hanya menjadi angka, sementara konflik, ego, dan kepentingan pribadi perlahan menggerogoti fondasi persaudaraan kader.
Kepemimpinan Delvis Rettob diharapkan mampu memperkuat kembali semangat “Omnes Pro Ecclesia Et Patria”—semangat untuk memberikan yang terbaik bagi Gereja dan Tanah Air. Semangat tersebut harus diterjemahkan dalam kerja nyata, bukan hanya menjadi semboyan yang diucapkan dalam forum-forum organisasi.
PMKRI membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjembatani berbagai latar belakang kader dan wilayah. Indonesia adalah bangsa yang sangat beragam, demikian pula PMKRI. Dari Maluku, Papua, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Jawa, Sumatra hingga wilayah lainnya, setiap kader membawa pengalaman sosial dan kebudayaan yang berbeda. Keragaman tersebut harus menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.
Dalam konteks tersebut, Delvis Rettob memiliki pekerjaan besar untuk membangun kepemimpinan yang inklusif, terbuka terhadap kritik, kuat dalam konsolidasi, serta mampu memastikan bahwa setiap cabang dan kader merasa menjadi bagian penting dari perjalanan organisasi.
Kepemimpinan yang baik juga bukan kepemimpinan yang berjalan sendirian. Ketua Presidium harus mampu membangun kerja kolektif bersama Presidium, Pengurus Pusat, Presidium Cabang, anggota, alumni, serta berbagai elemen yang memiliki perhatian terhadap masa depan PMKRI. Sebab, organisasi yang besar tidak dapat digerakkan oleh satu orang, tetapi oleh energi kolektif seluruh kader.
Di sinilah harapan besar itu diletakkan.
Bung Delvis Rettob diharapkan tidak hanya menjadi pemimpin yang kuat dalam forum persidangan, tetapi juga pemimpin yang hadir ketika kader membutuhkan ruang dialog, ketika cabang menghadapi persoalan, dan ketika organisasi harus mengambil sikap terhadap persoalan bangsa. Kehadiran kepemimpinan yang terbuka, responsif, dan berorientasi pada kepentingan bersama akan menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan, memperkuat konsolidasi, serta memastikan setiap kader merasa dihargai dan dilibatkan dalam perjalanan organisasi.
Kini, berdiri di depan seluruh keluarga besar PMKRI, Bung Delvis membawa pesan bahwa perjuangan yang tulus, kesabaran yang kokoh, dan keberanian untuk bangkit setelah terjatuh merupakan bagian penting dari perjalanan seorang pemimpin. Pengalaman panjang tersebut menjadi bekal untuk menghadapi berbagai tantangan ke depan, sekaligus mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir dari ambisi pribadi, melainkan dari ketekunan, kerendahan hati, keberanian melayani, dan kesediaan menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan diri sendiri.
Dari Merauke yang memberikan pelajaran hingga Ruteng yang memberikan kepercayaan baru, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa proses tidak pernah mengkhianati ketekunan. Mental baja akhirnya menemukan ruang pengabdiannya, bukan untuk membanggakan diri, tetapi untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar bagi organisasi, Gereja, dan bangsa. Perjalanan itu sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh kader bahwa setiap perjuangan memiliki waktunya sendiri, dan setiap proses yang dijalani dengan ketulusan, kesabaran, serta komitmen pada nilai-nilai perjuangan akan melahirkan kepercayaan dan tanggung jawab yang lebih besar.
Selamat bertugas dan selamat berjuang, Bung Delvis Rettob.
Semoga kepemimpinan Anda membawa PP PMKRI semakin solid, semakin dekat dengan realitas kehidupan masyarakat, semakin berani menyuarakan kebenaran dan keadilan, serta tetap setia pada ajaran Injil, nilai-nilai Pancasila, dan semangat persaudaraan dalam keberagaman.
Semoga kepemimpinan periode 2026–2028 mampu menghadirkan kaderisasi yang kuat, organisasi yang sehat, gerakan yang relevan, serta kontribusi nyata bagi kehidupan Gereja dan bangsa. Semoga setiap langkah perjuangan senantiasa disertai kebijaksanaan, keteguhan hati, dan kerendahan hati dalam melayani.
Pada akhirnya, jabatan adalah amanah, kepemimpinan adalah tanggung jawab, dan pengabdian adalah jalan panjang yang tidak mengenal batas waktu. Ketika masa kepemimpinan berakhir kelak, yang paling penting bukanlah seberapa lama seseorang berada dalam posisi, tetapi seberapa besar perubahan, inspirasi, dan warisan kebaikan yang ditinggalkannya bagi organisasi dan generasi setelahnya.
Selamat memimpin, Bung Delvis Rettob. Selamat mengabdi untuk PMKRI, Gereja, dan Tanah Air. Semoga kepemimpinan ini menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, membangun kaderisasi yang berintegritas, menghadirkan perubahan nyata, serta menyalakan harapan bagi generasi muda Indonesia. Pro Ecclesia Et Patria. [*].
)* Penulis adalah Ketua Presidium PMKRI Cabang Nabire St.Albertus Magnus










