Dua Hari Bertahan di Gereja, Mahasiswa Yahukimo Tunggu Respons Pemkab soal Hunian

oleh -1169 Dilihat

MANOKWARI, TOMEI.ID | Sejumlah mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo yang sedang menempuh pendidikan di Kota Manokwari masih bertahan di halaman Gereja GIDI Misia setelah diminta meninggalkan tempat kontrakan yang selama ini digunakan sebagai tempat tinggal.

BACA JUGA: 100 lebih Mahasiswa Yahukimo Kehilangan Tempat Tinggal, Mengungsi di Gereja GIDI Manokwari

banner 728x90

Para mahasiswa tersebut telah berada di halaman gereja selama dua hari setelah persoalan pembayaran kontrakan membuat mereka tidak lagi dapat menempati tempat tinggal sebelumnya. Kondisi tersebut memaksa mahasiswa mencari tempat perlindungan sementara sambil menunggu adanya penyelesaian dari pihak terkait.

Sebelumnya, lebih dari 100 mahasiswa Yahukimo disebut kehilangan tempat tinggal setelah meninggalkan kontrakan di wilayah Kelurahan Amban, Manokwari, Papua Barat.

BACA JUGA: Mahasiswa Yahukimo di Jayapura Desak Pemkab Bangun Asrama bagi Mahasiswa di Manokwari

Mereka kemudian mencari tempat yang dapat digunakan untuk berteduh dan akhirnya diterima di lingkungan Gereja GIDI pada Sabtu (3/10/2026).

Dalam kondisi tersebut, para mahasiswa membawa barang pribadi dan kebutuhan sehari-hari yang masih dapat dibawa dari tempat tinggal sebelumnya. Mereka kemudian menggunakan lingkungan gereja sebagai tempat sementara untuk beristirahat, makan, menyimpan barang, dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, persoalan kontrakan berkaitan dengan tunggakan pembayaran yang belum diselesaikan. Mahasiswa menyebut pembayaran tersebut telah berlangsung dalam persoalan yang cukup lama, namun informasi mengenai nilai tunggakan dan status pembayaran masih membutuhkan klarifikasi dari pihak terkait.

Sebelumnya, mahasiswa menyebut nilai tunggakan pembayaran kontrakan mencapai sekitar Rp95 juta untuk periode kurang lebih satu tahun tiga bulan. Namun, angka tersebut masih merupakan keterangan dari pihak mahasiswa dan belum dapat diverifikasi secara independen.

Karena itu, status pembayaran, dasar perjanjian sewa, pihak yang bertanggung jawab, serta alasan pengosongan kontrakan masih membutuhkan penjelasan dari pihak pemilik kontrakan maupun Pemerintah Kabupaten Yahukimo.

Gereja Menjadi Tempat Perlindungan Sementara

Pihak Gereja GIDI menerima mahasiswa karena mereka berada dalam kondisi tidak memiliki tempat tinggal lain yang dapat digunakan. Namun, keterbatasan fasilitas membuat lingkungan gereja belum dapat menjadi solusi hunian dalam jangka panjang.

Gedung gereja pada dasarnya merupakan tempat ibadah, sementara fasilitas pastori yang tersedia juga terbatas. Dengan jumlah mahasiswa yang disebut cukup banyak, kondisi tersebut membuat kebutuhan tempat tinggal belum dapat dipenuhi secara layak.

Untuk sementara, lingkungan gereja digunakan sebagai tempat perlindungan bagi mahasiswa. Kondisi tersebut membuat para mahasiswa harus menjalani kebutuhan sehari-hari dalam keterbatasan sambil menunggu adanya perhatian dan langkah penyelesaian dari pemerintah daerah.

Memasuki hari kedua berada di halaman Gereja GIDI Misia, belum ada penyelesaian yang memungkinkan para mahasiswa kembali menempati tempat tinggal sebelumnya. Mereka masih menunggu kepastian mengenai langkah yang akan diambil untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Persoalan Hunian Berdampak pada Pendidikan

Bagi mahasiswa, tempat tinggal bukan sekadar kebutuhan untuk beristirahat, tetapi menjadi bagian penting dalam menunjang proses pendidikan. Hunian yang layak dibutuhkan agar mahasiswa dapat belajar, menjaga barang pribadi, beristirahat, dan menjalankan aktivitas perkuliahan secara normal.

Ketika persoalan kontrakan belum terselesaikan, aktivitas perkuliahan dan kehidupan sehari-hari mahasiswa juga ikut terdampak. Mereka harus membagi perhatian antara memenuhi kebutuhan dasar dan menjalankan kewajiban akademik.

Kondisi tersebut membuat mahasiswa berharap persoalan hunian segera mendapatkan penyelesaian. Mereka tidak ingin persoalan tempat tinggal yang berlarut-larut kemudian semakin mengganggu keberlangsungan pendidikan mahasiswa Yahukimo di Manokwari.

Para mahasiswa juga berharap pemerintah daerah tidak hanya melihat persoalan tersebut sebagai masalah kontrakan, tetapi sebagai persoalan yang berkaitan dengan keberlangsungan pendidikan dan kebutuhan dasar mahasiswa yang sedang menempuh studi.

Mahasiswa Menunggu Perhatian Pemkab

Di tengah situasi tersebut, mahasiswa berharap Pemerintah Kabupaten Yahukimo segera memberikan respons dan mengambil langkah konkret untuk membantu menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.

Mereka berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang memberikan kepastian mengenai tempat tinggal, sehingga mahasiswa tidak terus berada dalam kondisi darurat dan dapat kembali menjalankan aktivitas pendidikan secara lebih tenang.

Persoalan tersebut juga dinilai membutuhkan komunikasi antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan pihak pemilik kontrakan agar status pembayaran serta dasar pengosongan tempat tinggal dapat dijelaskan secara terbuka dan dicarikan jalan keluar.

Dengan adanya kepastian penyelesaian, mahasiswa diharapkan dapat kembali fokus menjalani perkuliahan tanpa harus terus terbebani persoalan tempat tinggal yang belum mendapatkan kejelasan.

Respons Pemerintah Masih Ditunggu

Untuk sementara, mahasiswa masih bertahan di lingkungan Gereja GIDI Misia dengan fasilitas yang terbatas. Mereka berharap pemerintah segera melihat kondisi tersebut dan membuka ruang komunikasi untuk mencari penyelesaian yang dapat memberikan kepastian.

Persoalan yang semula berkaitan dengan tempat tinggal kini menyentuh kebutuhan dasar mahasiswa dan keberlangsungan pendidikan mereka di Kota Manokwari. Karena itu, perhatian pemerintah daerah dinilai diperlukan agar kondisi tersebut tidak berlangsung lebih lama.

Sampai berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Yahukimo maupun pihak pemilik kontrakan mengenai status pembayaran, dasar pengosongan tempat tinggal, serta langkah yang akan dilakukan untuk menangani kondisi mahasiswa tersebut.

Redaksi Tomei akan terus memperbarui informasi setelah memperoleh keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Yahukimo dan pihak pemilik kontrakan mengenai persoalan tersebut, termasuk langkah penyelesaian dan kepastian tempat tinggal mahasiswa selanjutnya. [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.