Berita

Frant Rakyat Bergerak Seruhkan Aksi Mogok di Nabire, Bakal Angkat Isu Freeport, Otsus, dan MRP

NABIRE, TOMEI.ID | Sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam Front Rakyat Bergerak menyerukan aksi demonstrasi disertai mogok satu kota di Nabire pada Selasa (7/4/2026).

Aksi tersebut direncanakan berlangsung damai, namun mengangkat isu-isu strategis yang dinilai krusial, mulai dari pengelolaan sumber daya alam hingga arah kebijakan otonomi khusus serta legitimasi lembaga representasi kultural Papua.

Momentum aksi bertepatan dengan 59 tahun kontrak karya PT Freeport Indonesia (1967–2026), yang oleh massa aksi dipandang sebagai simbol panjangnya sejarah eksploitasi sumber daya alam di Papua.

Dalam pernyataan resminya, Front Rakyat Bergerak menilai kehadiran industri tambang di Papua tidak dapat dipisahkan dari dinamika politik global dan nasional, termasuk fase menjelang Penentuan Pendapat Rakyat 1969 yang hingga kini masih menjadi ruang perdebatan.

Secara historis, mereka merujuk pada penemuan cadangan mineral di kawasan Ertsberg–Grasberg oleh Jean Jacques Dozy pada 1936 sebagai titik awal eksplorasi besar-besaran. Tahap eksplorasi oleh Freeport pada 1960 hingga kontrak karya 1967 disebut sebagai fondasi yang menentukan arah pengelolaan tambang di Papua hingga saat ini.

Selain aspek sejarah, massa aksi juga menyoroti berbagai dampak yang dinilai masih dirasakan masyarakat, seperti persoalan kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi, serta dinamika sosial di wilayah sekitar tambang.

Dalam tuntutannya, Front Rakyat Bergerak menyampaikan sejumlah poin utama, yakni penutupan operasi PT Freeport Indonesia, evaluasi dan pengembalian kebijakan otonomi khusus agar lebih berpihak kepada masyarakat, peninjauan terhadap peran Majelis Rakyat Papua (MRP), serta penghentian pendekatan keamanan yang dinilai berlebihan di sejumlah wilayah Papua.

Seruan aksi ini juga ditujukan kepada berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, pelajar, buruh, petani, nelayan, mama-mama pasar, pemuda, hingga tokoh adat dan agama, baik dari kalangan OAP maupun non-OAP.

Hingga berita ini disusun, belum terdapat tanggapan resmi dari pemerintah maupun instansi terkait mengenai rencana aksi tersebut. Aparat keamanan diharapkan mengedepankan pendekatan persuasif guna memastikan jalannya aksi tetap damai dan tertib.

Aksi mogok kota yang direncanakan ini menjadi cerminan dinamika sosial-politik yang terus bergerak di Papua, sekaligus menegaskan bahwa isu sumber daya alam, keadilan ekonomi, dan representasi politik masih menjadi titik krusial dalam ruang publik.

Seruan ini menjadi sinyal menguatnya konsolidasi gerakan sipil di Papua Tengah, yang terus membangun kekuatan kolektif menghadapi berbagai kebijakan yang dinilai tidak adil. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

KNPB Nabire Gelar Pendidikan Politik bagi Sektor Yamewa, Bahas Sejarah dan Struktur Organisasi

NABIRE, TOMEI.ID | Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Nabire menggelar pendidikan politik bagi anggota…

4 jam ago

Hadapi KLB Campak, Puskesmas Mokwam Siapkan ORI dan Kejar Cakupan 95 Persen

MANOKWARI, TOMEI.ID | Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat…

4 jam ago

Masyarakat Tibai Minta Pemprov Papua Tengah dan Pemkab Nabire Buka Akses Jalan Darat dan Listrik

NABIRE, TOMEI.ID | Masyarakat Kampung Tibai, Distrik Siriwo, Kabupaten Nabire, mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua…

4 jam ago

100 lebih Mahasiswa Yahukimo Kehilangan Tempat Tinggal, Mengungsi di Gereja GIDI Manokwari

MANOKWARI, TOMEI.ID | Lebih dari 100 mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, yang sedang menempuh…

7 jam ago

Jembatan Gantung Sungai Minabu Mulai Terwujud, Warga Pugisiga Apresiasi Pemkab Intan Jaya

INTAN JAYA, TOMEI.ID | Pembangunan jembatan gantung di Sungai Minabu yang menghubungkan Kampung Pugisiga dan…

1 hari ago

PASTI Kukuhkan Pengurus DPW dan DPC di Delapan Kabupaten Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Dewan Pimpinan Pusat Partai Setara Indonesia (DPP PASTI) mengukuhkan kepengurusan Dewan Pimpinan…

1 hari ago