Gubernur Papua Barat Tangani Krisis Hunian Mahasiswa Yahukimo, Pembina Dorong Asrama Permanen

oleh -1169 Dilihat

MANOKWARI, TOMEI.ID | Persoalan tempat tinggal yang dialami lebih dari 100 mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo di Kota Studi Manokwari membuka kebutuhan yang lebih mendasar: kepastian hunian permanen bagi mahasiswa selama menempuh pendidikan di ibu kota Provinsi Papua Barat.

BACA JUGA: Gubernur Dominggus Mandacan Salurkan Rp100 Juta dan 50 Paket Bama untuk Mahasiswa Yahukimo

banner 728x90

Kondisi tersebut mendapat perhatian setelah para mahasiswa meninggalkan tempat kontrakan akibat persoalan pembayaran sewa pada Sabtu (3/10/2026) dan kemudian bertahan sementara di lingkungan Gereja GIDI Misia, Amban, Manokwari.

Situasi itu tidak hanya menghadirkan persoalan kebutuhan makan dan tempat tinggal, tetapi juga menyentuh keberlangsungan pendidikan mahasiswa yang harus tetap menjalani aktivitas perkuliahan di tengah ketidakpastian hunian.

Respons pemerintah kemudian datang dari Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan. Dalam kunjungannya pada Rabu (7/10/2026), Dominggus memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp100 juta serta 50 paket bahan makanan (bama) untuk membantu memenuhi kebutuhan mahasiswa.

Namun, bantuan tersebut menjadi bagian dari penanganan jangka pendek. Persoalan yang lebih panjang justru mengarah pada kebutuhan tempat tinggal yang permanen agar mahasiswa Yahukimo tidak kembali menghadapi masalah serupa ketika masa kontrakan berakhir atau terjadi kendala pembayaran.

Dari Bantuan Darurat Menuju Solusi Permanen

Pembina mahasiswa Yahukimo, Nonik Pahabol, turut menyampaikan permintaan agar pemerintah tidak hanya membantu menyelesaikan persoalan kontrakan, tetapi mempertimbangkan penyediaan tanah untuk pembangunan asrama mahasiswa Yahukimo di Manokwari.

Permintaan tersebut menjadi penting karena pengalaman mahasiswa yang harus meninggalkan kontrakan menunjukkan adanya kerentanan hunian yang dapat kembali terjadi apabila penyelesaian hanya mengandalkan pembayaran sewa dari waktu ke waktu.

Tanah untuk asrama permanen dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang. Dengan adanya lahan yang jelas, pembangunan hunian mahasiswa dapat dirancang secara bertahap melalui kolaborasi pemerintah dan para pihak terkait.

Asrama tersebut nantinya bukan sekadar tempat tidur bagi mahasiswa. Hunian permanen dapat menjadi ruang belajar, tempat berkumpul, pusat pembinaan, sekaligus lingkungan yang memberikan kepastian selama mahasiswa menjalani pendidikan jauh dari keluarga dan kampung halaman.

Gubernur Papua Barat Turun Langsung

Di tengah persoalan tersebut, Dominggus Mandacan turun langsung menemui mahasiswa Yahukimo. Ia menyampaikan kepedulian pemerintah terhadap kondisi mahasiswa yang sedang menghadapi persoalan tempat tinggal.

Dominggus mengatakan dirinya mengetahui kondisi mahasiswa setelah memperoleh informasi yang beredar melalui media sosial. Setelah mendapatkan informasi tersebut, ia menghubungi sejumlah pihak untuk mengetahui keadaan mahasiswa serta persoalan pembayaran kontrakan yang mereka hadapi.

“Tadi malam saya sudah suruh Robi transfer Rp100.000.000 ke nomor rekening yang diberi,” kata Dominggus.

Selain bantuan uang, pemerintah juga menyiapkan 50 paket bahan makanan yang berasal dari persediaan untuk menghadapi kondisi bencana maupun keadaan darurat.

Bantuan tersebut berisi sejumlah kebutuhan pokok, antara lain beras, minyak goreng, gula dan tepung. Bahan makanan itu diharapkan dapat membantu mahasiswa memenuhi kebutuhan konsumsi selama berada dalam kondisi sementara di lingkungan gereja.

Dominggus juga meminta mahasiswa tetap menjaga persatuan, hidup rukun, saling membantu, serta tidak kehilangan fokus utama untuk menyelesaikan pendidikan.

Ia mengingatkan mahasiswa mengenai perjuangan orang tua mereka di Yahukimo yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Hunian Berkaitan Langsung dengan Pendidikan

Persoalan yang dialami mahasiswa Yahukimo menunjukkan bahwa hunian dan pendidikan tidak dapat dipisahkan. Tempat tinggal yang tidak pasti berpotensi membuat mahasiswa harus membagi perhatian antara kebutuhan dasar dan kewajiban akademik.

Bagi mahasiswa yang berada jauh dari keluarga, kepastian tempat tinggal bukan sekadar persoalan kenyamanan. Hunian merupakan bagian dari kebutuhan dasar yang mendukung keberlangsungan aktivitas belajar, organisasi, dan kehidupan sosial mahasiswa selama berada di kota studi.

Karena itu, permintaan tanah untuk pembangunan asrama permanen memiliki konteks yang lebih luas dibandingkan sekadar penyediaan bangunan.

Jika diwujudkan, asrama dapat menjadi investasi pendidikan bagi mahasiswa Yahukimo di Manokwari. Pemerintah tidak hanya membantu ketika persoalan muncul, tetapi membangun sistem dukungan agar mahasiswa memiliki tempat tinggal yang lebih pasti dalam jangka panjang.

Respons dari Sejumlah Pihak

Perhatian terhadap kondisi mahasiswa Yahukimo sebelumnya juga datang dari sejumlah pihak.

Pada Senin (5/10/2026), Dit Binmas Polda Papua Barat memberikan bantuan sosial berupa kebutuhan pokok kepada mahasiswa yang berada di Gereja GIDI Misia.

Sehari kemudian, Selasa (6/10/2026), Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol memberikan bantuan Rp200 juta untuk membantu penyelesaian persoalan pembayaran kontrakan mahasiswa Yahukimo.

Bantuan dari berbagai pihak tersebut menunjukkan bahwa persoalan mahasiswa Yahukimo telah mendapat perhatian lebih luas. Namun, penyelesaian darurat tetap perlu diikuti dengan langkah jangka panjang agar persoalan hunian tidak kembali berulang.

Sementara itu, di lokasi yang sama, Ketua Korwil Mahasiswa Yahukimo kota studi Manokwari, Ima Siep, menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Papua Barat atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada mahasiswa Yahukimo.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan yang sudah memberikan perhatian kepada kami mahasiswa Yahukimo. Bantuan ini sangat berarti bagi kami, terutama dalam kondisi yang sedang kami hadapi,” ujar Ima Siep.

Asrama Permanen Menjadi Pekerjaan Berikutnya

Kini, setelah kebutuhan mendesak mulai mendapat bantuan, perhatian berikutnya adalah bagaimana pemerintah dan para pemangku kepentingan menjawab kebutuhan hunian mahasiswa secara permanen.

Permintaan tanah yang disampaikan Pembina Nonik Pahabol dapat menjadi awal pembicaraan mengenai pembangunan asrama mahasiswa Yahukimo di Manokwari.

Persoalan kontrakan yang terjadi pada awal Oktober 2026 dengan demikian tidak semata-mata menjadi cerita tentang mahasiswa yang kehilangan tempat tinggal. Peristiwa tersebut memperlihatkan kebutuhan akan kebijakan yang lebih berkelanjutan bagi mahasiswa asal daerah yang menempuh pendidikan di kota studi.

Bantuan Rp100 juta dan 50 paket bama dapat menjawab kebutuhan dalam situasi darurat. Namun, kepastian lahan dan pembangunan asrama permanen akan menjadi langkah yang lebih jauh untuk memastikan mahasiswa memiliki tempat tinggal yang layak selama menyelesaikan pendidikan.

Pada akhirnya, kebutuhan mahasiswa bukan hanya tentang tempat untuk bermalam. Mereka membutuhkan ruang yang memungkinkan pendidikan tetap berjalan, kehidupan akademik tetap terjaga, dan cita-cita yang dibawa dari Yahukimo tidak terhenti hanya karena persoalan hunian. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.