MANOKWARI, TOMEI.ID | Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat memasuki tahap penguatan melalui pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) Campak Rubella yang dijadwalkan berlangsung pada 5–17 Oktober 2026.
Puskesmas Mokwam memastikan kesiapan pelayanan imunisasi dengan memperkuat strategi penjangkauan anak-anak yang menjadi sasaran. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan ORI tidak hanya bergantung pada kedatangan masyarakat ke fasilitas kesehatan, tetapi juga menjangkau sasaran secara aktif di lingkungan tempat tinggal.
Kesiapan itu disampaikan dalam sosialisasi Campak Rubella dan penanggulangan KLB Campak Kabupaten Manokwari yang berlangsung di Puskesmas Mokwam, Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti kepala distrik, kepala kampung, kader, guru PAUD, serta jajaran tenaga kesehatan, untuk memperkuat koordinasi dan pemahaman bersama dalam pelaksanaan imunisasi di tingkat masyarakat.
Kegiatan dibuka Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari, Mince Wilil. Materi sosialisasi disampaikan dr. Samuel Kambuaya, yang membahas pengenalan Campak dan Rubella, situasi Campak di Manokwari, alasan penanggulangan KLB, pelaksanaan ORI, serta peran masyarakat dalam menemukan dan melaporkan kasus yang dicurigai.
Dalam pemaparannya, dr. Samuel menjelaskan bahwa sasaran ORI Campak Rubella mencakup anak usia 9 bulan sampai lebih dari 5 tahun. Pelaksanaan imunisasi tersebut menjadi bagian dari respons terhadap situasi KLB Campak yang terjadi di Kabupaten Manokwari.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Mokwam, Michael Kafiar, menegaskan pihaknya siap menjalankan ORI sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Puskesmas juga menyiapkan pola pelayanan aktif untuk memastikan anak-anak yang masuk dalam sasaran imunisasi tidak terlewat.
“Jalan sesuai jadwal, masuk rumah keluar rumah cari anak-anak,” ujar Michael dalam penjelasannya.
Pernyataan tersebut menggambarkan strategi jemput bola yang akan diterapkan Puskesmas Mokwam. Pelayanan imunisasi tidak hanya dipusatkan di fasilitas kesehatan, tetapi juga diarahkan mendekati masyarakat agar anak-anak sasaran yang tidak datang ke Puskesmas tetap dapat dijangkau petugas.
Dukungan lintas sektor juga akan diperkuat dalam pelaksanaan ORI. Salah satu pendekatan yang disiapkan adalah pelayanan imunisasi di gereja setelah ibadah selesai, melalui koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Strategi tersebut diharapkan dapat membuka akses pelayanan pada kelompok masyarakat yang sulit datang langsung ke fasilitas kesehatan.
Dengan pendekatan tersebut, petugas akan bergerak hingga ke lingkungan tempat tinggal masyarakat untuk mencari dan memastikan sasaran imunisasi. Keterlibatan kepala distrik, kepala kampung, kader, guru PAUD, tokoh agama, serta masyarakat menjadi bagian penting dalam mendukung proses penjangkauan.
Dalam sosialisasi itu, masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya segera menyampaikan informasi apabila menemukan kasus yang dicurigai Campak atau Rubella. Informasi dari keluarga, kader, guru, maupun pemerintah kampung diharapkan dapat segera diteruskan kepada petugas kesehatan untuk mendapatkan tindak lanjut.
Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari menargetkan cakupan imunisasi Campak Rubella dalam pelaksanaan ORI mencapai 95 persen. Target tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, karena keberhasilan penjangkauan tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga dukungan pemerintah distrik, pemerintah kampung, kader, guru PAUD, tokoh agama, dan masyarakat.
Dari Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari hadir Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi, Penanggung Jawab Surveilans Kabupaten Manokwari, serta Penanggung Jawab Imunisasi Kabupaten Manokwari. Sementara dari Puskesmas Mokwam hadir Kepala Puskesmas Michael Kafiar bersama jajaran staf.
Dengan dimulainya ORI pada 5 Oktober 2026, Puskesmas Mokwam akan memperkuat pelayanan melalui pendekatan fasilitas kesehatan dan jemput bola. Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan anak-anak yang menjadi sasaran imunisasi dapat terjangkau dan tidak terlewat dalam upaya penanggulangan KLB Campak di Kabupaten Manokwari.
Pada akhirnya, target 95 persen bukan hanya angka dalam pelaksanaan imunisasi. Cakupan tersebut membutuhkan ketepatan pendataan, keterjangkauan pelayanan, keterlibatan lintas sektor, serta kesadaran masyarakat untuk membawa atau membantu menemukan anak-anak yang menjadi sasaran.
Melalui ORI Campak Rubella, Puskesmas Mokwam menempatkan penjangkauan anak sebagai bagian penting dari respons terhadap KLB. Keberhasilan pelaksanaan di lapangan akan sangat bergantung pada kerja bersama agar setiap sasaran memperoleh kesempatan mendapatkan imunisasi sesuai jadwal yang telah ditetapkan. [*












