Berita

Harga Beras di Intan Jaya Tembus Rp52 Ribu/Kg, Pemprov Papua Tengah Siapkan Langkah Intervensi

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah menemukan lonjakan signifikan harga beras di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, yang kini menembus Rp52 ribu per kilogram (kg).

Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah dalam pengendalian inflasi, khususnya di wilayah pegunungan yang menghadapi tantangan distribusi dan akses logistik yang mahal, terbatas, serta sering terhambat kondisi geografis ekstrem.

Temuan tersebut muncul dalam pemantauan intensif yang dilakukan pemerintah provinsi terhadap pergerakan harga bahan pokok di sejumlah daerah, khususnya wilayah dengan tantangan distribusi tinggi.

“Hari ini yang paling tertinggi itu ada di Intan Jaya, 52 ribu perkilo,” ujar Penjabat Sekretaris Daerah Papua Tengah, Silwanus Sumule, di Nabire, Kamis (30/4/2026).

Sekda menjelaskan kenaikan harga dipicu oleh tingginya ongkos transportasi menuju wilayah pegunungan, yang berdampak langsung pada harga jual di tingkat masyarakat.

Pemprov lanjutnya, tengah membahas langkah intervensi guna menekan lonjakan harga dan menjaga stabilitas pasokan.

“Jadi pemerintah juga membicarakan bagaimana cara mengintervensi,” jelasnya.

Di sisi lain, Sumule menegaskan bahwa persoalan di Intan Jaya tidak hanya soal inflasi, tetapi juga menyangkut pelayanan dasar, khususnya sektor kesehatan yang membutuhkan perhatian serius.

“Jika dalam kesempatan ini jika ada pak Sekda Intan Jaya, saya memohon untuk betul-betul memperhatikan,” katanya.

Pemprov Papua Tengah menargetkan peningkatan layanan kesehatan dengan menghadirkan fasilitas yang lebih memadai pada tahun mendatang.

“Saya sudah bicara dengan kepala dinas kesehatan. Mari kita bergandengan tangan. Tahun depan ada rumah sakit yang representatif agar layanan kesehatan di Intan Jaya jauh lebih bagus,” jelasnya.

Selain itu, kebutuhan mendesak di sektor pendidikan dan kesehatan mendorong optimalisasi sumber daya manusia lokal. Pemerintah daerah diminta memanfaatkan tenaga asli Intan Jaya yang telah menyelesaikan pendidikan namun belum terserap.

“Tenaga-tenaga yang kita sekolah itu tolong ditarik di Intan Jaya. Disuruh pulang untuk berkerja melayani masyarakat,” pungkasnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa pengendalian inflasi di Papua Tengah tidak dapat dipisahkan dari persoalan struktural, terutama akses distribusi dan kualitas layanan dasar, sehingga membutuhkan intervensi terpadu dan berkelanjutan dari pemerintah daerah. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Berita Foto: Safety Goes to School IFRC 2026 Edukasi 1.000 pelajar Mimika tentang Budaya Keselamatan

TIMIKA, TOMEI.ID | Membuka rangkaian the 8th Indonesian Fire  and Rescue Competition (IFRC) 2026, para personel…

2 jam ago

Berita Foto: Safety Goes to School IFRC 2026 Edukasi 1.000 pelajar Mimika tentang Budaya Keselamatan

TIMIKA, TOMEI.ID | Membuka rangkaian the 8th Indonesian Fire  and Rescue Competition (IFRC) 2026, para personel…

2 jam ago

PSTI Papua Tengah Mulai Bergerak, Matangkan Program Menuju Pra-PON 2027

NABIRE, TOMEI.ID | Pengurus Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Provinsi Papua Tengah mulai mematangkan program…

2 jam ago

Festival Kopi Papua Tengah Hadirkan Petani dari Delapan Kabupaten, Andreas: Ko Tidak Datang, Ko Rugi!

NABIRE, TOMEI.ID | Festival Kopi Papua Tengah akan menghadirkan kelompok tani kopi dari delapan kabupaten…

3 jam ago

IFRC 2026 Bekali 1.000 Pelajar Mimika dengan Keterampilan Keselamatan dan Pertolongan Pertama

TIMIKA, TOMEI.ID | Lebih dari 1.000 pelajar SMP dan SMA di Kabupaten Mimika, Papua Tengah,…

3 jam ago

Sampah Nyaris Tutupi Badan Jalan di Djayanti Nabire, Warga Desak Penegakan Aturan

NABIRE, TOMEI.ID | Tumpukan sampah nyaris menutupi badan jalan di Kelurahan Djayanti, Kabupaten Nabire, Papua…

3 jam ago