Berita

Ibu Saya Dibakar di Halaman Rumah : Jeritan Anak Papua kepada Presiden

INTAN JAYA, TOMEI.ID | Hetina Mirip, seorang ibu rumah tangga di Kampung Jindapa, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, ditembak dan dibakar hidup-hidup di halaman rumahnya sendiri pada pagi hari yang mencekam.

Peristiwa ini terjadi di hadapan anak kandungnya, Antonia Hilaria Wandagau, yang kini menuliskan surat terbuka kepada Presiden RI.

Surat bertajuk “Pak Presiden, Ibu Saya Dibakar di Halaman Rumah. Sampai Kapan Negara Menembaki Rakyatnya Sendiri?” itu viral di media sosial. Dalam suratnya, Antonia menegaskan bahwa ibunya bukan bagian dari kelompok bersenjata, melainkan warga sipil yang sehari-hari mengurus rumah dan keluarga.

“Ibu saya, Hetina Mirip, bukan kombatan. Ia hanya seorang perempuan Papua, ibu rumah tangga yang setia pada dapur dan doa. Tapi pagi kemarin, tentara datang, rumah kami dikepung, dan ibuku ditembak, dibakar di halaman rumah,” tulis Antonia dalam suratnya.

baca juga : Ibu Hetina Murip Dikremasi di Kampung Halaman Usai Dievakuasi dari Intan Jaya

Antonia juga menggugat narasi nasionalisme negara yang justru menelan korban dari warganya sendiri. Ia menyebut banyak wilayah di Papua yang hari ini hidup dalam ketakutan, pengungsian, dan tanpa kepastian hukum.

“Kami bukan statistik, Pak. Kami anak-anak manusia yang masih bertanya: apa dosa kami dilahirkan sebagai Papua?” lanjut Antonia.

Surat ini menggugah banyak pihak, termasuk lembaga pendidikan dan sosial yang bekerja di Papua. Direktur Yayasan Honai Generasi Unggul Papua, Yustinus Magai, menyampaikan keprihatinan dan menyerukan penghentian kekerasan terhadap warga sipil.

“Apa pun alasan keamanan, membakar seorang ibu di depan anaknya adalah pelanggaran HAM berat. Negara tidak boleh membiarkan kekerasan menjadi rutinitas,” kata Yustinus Magai. “Kami mendukung dialog damai dan kehadiran negara yang melindungi, bukan melukai.”

baca juga : Tragedi di Idakebo: Aparat Diduga Tembak Warga Sipil

Surat Antonia juga menyoroti ironi pemerintah Indonesia yang aktif menjadi mediator konflik internasional, seperti Rusia-Ukraina, namun tak menyelesaikan konflik bersenjata yang telah berlangsung puluhan tahun di wilayahnya sendiri.

“Jika negara tak sanggup melindungi kami, paling tidak berhentilah menyakiti kami,” tulis Antonia.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari TNI atau aparat keamanan terkait peristiwa di Jindapa. Namun tragedi ini menambah daftar panjang warga sipil Papua yang menjadi korban kekerasan bersenjata oleh negara. [*]

Redaksi Tomei

Recent Posts

Gedung Belum Diperbarui, SD Inpres Balingga Desak Pemkab Lanny Jaya Buka Akses Jalan

LANNY JAYA, TOMEI.ID | Di tengah keterbatasan infrastruktur pendidikan yang masih membelenggu, SD Inpres Balingga…

3 jam ago

Dinkop UKM Dogiyai Perkuat Ekonomi Kampung, Minimarket dan Bantuan Kios OAP Digenjot

DOGIYAI, TOMEI.ID | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dogiyai, melalui Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah…

3 jam ago

Besok, Meki Nawipa akan Kunjungi Puncak Bawa Misi Pembangunan

PUNCAK, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, bersama Anggota Komisi II DPR RI, Forkopimda…

14 jam ago

Meki Nawipa Dorong Kadin Papua Tengah Gerakkan Ekonomi Lokal, Kurangi Ketergantungan Pertambangan

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, mendorong Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi…

1 hari ago

Belanja Perubahan APBD Papua Tengah Naik Rp1,27 Triliun, Gubernur Meki Tekankan Akuntabilitas

NABIRE, TOMEI.ID | Belanja daerah dalam Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Papua Tengah Tahun…

1 hari ago

7 Tahun Peristiwa Expo Waena, FIM-WP Manokwari Gelar Diskusi dan Seribu Lilin Kenang Ason Mujizau

MANOKWARI, TOMEI.ID | Komite Pimpinan Kota (KPK) Forum Independen Mahasiswa West Papua (FIM-WP) Manokwari, Papua…

1 hari ago