Berita

Kekeringan dan Hujan Es Lumpuhkan Kebun Warga Kuyawage, Bantuan Diminta hingga 2027

TIOM, TOMEI.ID | Kekeringan berkepanjangan yang disusul hujan es berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat di wilayah Kuyawage, yang mencakup dua distrik di Kabupaten Lanny Jaya dan dua distrik di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan.

Kondisi cuaca ekstrem yang berlangsung sejak Juli 2026 tersebut merusak tanaman pangan warga, mengganggu ketersediaan air dan pangan, serta mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan ternak.

Tokoh masyarakat Kuyawage, Pdt. Peleo Tabuni, mengatakan kondisi kekeringan masih berlangsung hingga menjelang September 2026 dan belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir.

“Kekeringan ini sudah dimulai sejak bulan Juli, lalu Agustus, dan sekarang kita akan masuk bulan September kekeringan masih terus berlangsung,” ujar Peleo saat ditemui di sela-sela penerimaan bantuan beras dan sembako dari Kementerian Sosial RI di Kuyawage, Jumat (21/8/2026).

Menurut Peleo, kondisi tersebut semakin berat setelah wilayah Kuyawage sebelumnya dilanda hujan es. Cuaca ekstrem itu merusak tanaman kebun yang menjadi sumber utama pangan masyarakat.

Ia mengatakan sebagian tanaman mengalami kerusakan hingga membusuk di dalam tanah sehingga tidak lagi dapat dikonsumsi. Padahal, sebagian besar masyarakat Kuyawage masih menggantungkan kebutuhan pangan sehari-hari dari hasil kebun.

Pangan Warga Terancam

Kerusakan kebun membuat masyarakat harus menghadapi keterbatasan sumber pangan dan membutuhkan pasokan dari luar wilayah selama masa pemulihan.

“Kami tidak bisa berharap kepada siapa-siapa lagi. Kami hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar pemerintah terus memperhatikan kami dalam kondisi ini. Masyarakat semua merasakan dampaknya. Selain kebun dan tanaman yang kering, ternak dan warga mulai terserang penyakit,” ungkapnya.

Peleo menilai persoalan yang dihadapi masyarakat bukan hanya kekurangan pangan dalam jangka pendek. Kerusakan kebun juga membuat proses pemulihan membutuhkan waktu cukup panjang karena warga harus kembali membuka lahan dan menanam sebelum dapat memperoleh hasil panen.

Menurut perkiraannya, hasil kebun masyarakat baru dapat dinikmati kembali secara normal pada 2028. Karena itu, warga berharap bantuan dan perhatian dari pemerintah maupun berbagai pihak tetap diberikan selama masa pemulihan pada 2026 hingga 2027.

“Situasi ini baru benar-benar pulih di tahun 2028, karena di tahun itulah kami baru bisa menikmati hasil kerja kebun kembali. Dalam kurun waktu tahun 2026 hingga 2027 ini, kami sangat memohon perhatian dari semua pihak. Baik pemerintah, gereja, organisasi, hingga paguyuban masyarakat untuk terus melihat dan membantu kami,” tutur Peleo.

Bantuan Jadi Penopang Sementara

Bantuan beras dan sembako dari Kementerian Sosial RI menjadi salah satu penopang kebutuhan pangan masyarakat di tengah kondisi tersebut.

Namun, menurut kondisi yang disampaikan tokoh masyarakat setempat, kebutuhan bantuan diperkirakan belum berhenti dalam waktu dekat karena sumber pangan utama warga berupa kebun belum kembali menghasilkan.

Peleo berharap pemerintah dan berbagai pihak tidak hanya memberikan bantuan sesaat, tetapi ikut memperhatikan keberlangsungan hidup masyarakat selama proses pemulihan.

Kondisi kekeringan dan dampak hujan es di Kuyawage menunjukkan bahwa kerusakan sumber pangan dapat memberikan dampak panjang bagi masyarakat pedalaman. Dukungan pangan dan perhatian berkelanjutan dinilai penting untuk membantu warga bertahan hingga kebun kembali produktif. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Hujan Es dan Kekeringan Rusak Kebun Warga Papua Pegunungan, DPR Desak Pemerintah Segera Turunkan Bantuan

WAMENA, TOMEI.ID | Fenomena alam berupa hujan es dan kekeringan melanda sejumlah wilayah di Papua…

18 jam ago

HPMY Apresiasi Dukungan Ketua DPRK Yahukimo, Dorong Perhatian terhadap Generasi Muda Tak Berhenti pada Seremoni

PARE, TOMEI.ID | Dukungan terhadap kegiatan pelajar dan mahasiswa dinilai bukan sekadar bantuan untuk menyukseskan…

18 jam ago

Dari Pare, HPMY Dorong Mahasiswa Yahukimo Jadikan Organisasi sebagai Ruang Menempa Pemimpin

PARE, TOMEI.ID | Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Yahukimo (HPMY) menggelar Seminar Sehari di Pare, Jawa…

18 jam ago

Wakil Rektor III Uncen Buka Penguatan Kapasitas dan Raker BEM 2026–2027, Tekankan Program Berdampak

JAYAPURA, TOMEI.ID | Keluarga Besar Mahasiswa Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)…

18 jam ago

Pendidikan Bukan Sekadar Gedung, Papua Tengah Membutuhkan Sekolah yang Membentuk Manusia

NABIRE, TOMEI.ID | Pendidikan Papua tidak boleh berhenti pada pembangunan ruang kelas, pengadaan fasilitas, atau…

19 jam ago

Gubernur Meki Nawipa Siapkan Rp56 Miliar untuk Perkuat Fasilitas SPH Nabire

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menegaskan komitmen pemerintah menyiapkan anggaran Rp56 miliar…

1 hari ago