MANOKWARI, TOMEI.ID | Kepala Kerukunan Keluarga Besar Pegunungan Tengah (K2BPT) Provinsi Papua Barat, Apner Itlay, menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Papua Barat Drs. Dominggus Mandacan, atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo yang tengah menghadapi persoalan tempat tinggal di Kota Studi Manokwari.
Apresiasi tersebut disampaikan menyusul bantuan pemerintah daerah berupa Rp100 juta dan 50 paket bahan makanan (bama) untuk mahasiswa Yahukimo yang sebelumnya meninggalkan tempat kontrakan dan sementara bertahan di lingkungan Gereja GIDI Misia, Amban.
Menurut Apner, bantuan tersebut tidak hanya meringankan kebutuhan dasar mahasiswa, tetapi juga menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap kondisi generasi muda Papua yang sedang menempuh pendidikan di Manokwari.
“Atas nama Kerukunan Keluarga Besar Pegunungan Tengah Provinsi Papua Barat, kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, yang telah memberikan perhatian kepada mahasiswa Yahukimo,” ujar Apner di Manokwari, Rabu (7/10).
Ia menilai kehadiran dan perhatian pemerintah di tengah persoalan yang dihadapi mahasiswa memberikan dukungan moral bagi mereka yang sedang berada dalam kondisi sulit.
Menurutnya, mahasiswa membutuhkan kepastian tempat tinggal agar persoalan hunian tidak sampai mengganggu proses perkuliahan dan penyelesaian pendidikan.
Apner juga mengapresiasi bantuan bahan makanan yang telah diberikan kepada mahasiswa. Bantuan tersebut, kata dia, membantu memenuhi kebutuhan konsumsi mahasiswa selama mereka masih berada dalam kondisi tempat tinggal sementara.
Namun, Apner berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada bantuan yang bersifat darurat. Ia mendorong adanya langkah jangka panjang untuk menjawab persoalan hunian mahasiswa asal Pegunungan Tengah yang menempuh pendidikan di Manokwari.
Salah satu solusi yang dinilai perlu dibicarakan, menurut Apner, adalah penyediaan lahan untuk pembangunan asrama mahasiswa Yahukimo. Keberadaan asrama dinilai dapat memberikan kepastian tempat tinggal sekaligus mendukung mahasiswa agar lebih fokus menjalani pendidikan.
“Harapan kami ke depan ada solusi permanen. Mahasiswa membutuhkan tempat tinggal yang layak agar mereka bisa fokus kuliah dan menyelesaikan pendidikan,” katanya.
Apner menjelaskan, pembangunan asrama mahasiswa tidak semata-mata berkaitan dengan penyediaan tempat tinggal. Lebih dari itu, asrama dapat dikembangkan sebagai ruang pembinaan, tempat belajar bersama, sekaligus wadah untuk memperkuat kebersamaan dan solidaritas mahasiswa asal Pegunungan Tengah.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan kepada mahasiswa Yahukimo selama menghadapi persoalan tempat tinggal.
Dukungan tersebut, termasuk dari pemerintah dan masyarakat yang membantu mahasiswa selama berada di lingkungan Gereja GIDI Misia, dinilai penting dalam melewati situasi tersebut.
Menurut Apner, persoalan hunian yang dialami mahasiswa menjadi catatan penting bahwa kebutuhan tempat tinggal bagi mahasiswa di kota studi perlu dipikirkan secara lebih terencana dan berkelanjutan. Dengan demikian, mahasiswa tidak terus-menerus menghadapi persoalan serupa ketika menjalani pendidikan.
Ia berharap perhatian yang telah diberikan oleh Gubernur Papua Barat dapat menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan pihak terkait lainnya dalam memperkuat dukungan terhadap mahasiswa Pegunungan Tengah yang sedang menempuh pendidikan di Manokwari.
“Terima kasih kepada Bapak Gubernur Papua Barat atas kepedulian dan bantuannya. Kami berharap perhatian seperti ini terus menjadi kekuatan bagi anak-anak kami untuk tetap berjuang menyelesaikan pendidikan,” tutup Apner. [*].












