NABIRE, TOMEI.ID | Kasus kecelakaan lalu lintas tabrak lari yang terjadi di Jalan Trans Nabire–Ilaga, tepatnya di depan JNE Karang Tumaritis, Nabire, Papua Tengah, memicu reaksi keras dari pihak keluarga korban dan masyarakat adat Suku Auye.
Pihak keluarga mendesak pelaku segera menyerahkan diri dan bertanggung jawab secara adat maupun hukum atas insiden yang menimpa Yoel Emampa, warga Suku Auye asal Kampung Aibore, Dusun Nokakuye.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan langsung Kepala Suku Auye, Biles Iyampa, dalam keterangan tertulis tertanggal 17 April 2026 atau pada Jumat lalu di Nabire.
Menurut informasi yang dihimpun dari pihak keluarga, kecelakaan terjadi saat korban menyeberang jalan di depan Kios Panjang, kawasan JNE Karang Tumaritis, di jalur Trans Nabire–Ilaga. Namun hingga kini, identitas pelaku tabrak lari disebut belum diketahui dan belum ada pihak yang datang bertanggung jawab kepada keluarga korban.
“Atas nama Suku Auye, kami menegaskan bahwa kami mencari pelaku bukan untuk balas dendam atau menciptakan masalah baru. Kami hanya meminta pelaku muncul dan menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik, kekeluargaan, sesuai adat dan hukum yang berlaku,” tegas Biles Iyampa kepada tomei.id di Nabire, Sabtu, (9/5/2026).
Ia menegaskan masyarakat adat masih membuka ruang penyelesaian secara damai dan bermartabat. Namun apabila pelaku terus menghilang dan tidak menunjukkan itikad baik, pihak keluarga bersama masyarakat adat akan mengambil langkah adat yang lebih tegas.
Sebagai bentuk ultimatum adat, Suku Auye menyatakan siap menutup total Jalan Trans Nabire–Ilaga di wilayah KM 141 Siriwo apabila pelaku tidak segera ditemukan maupun menyerahkan diri.
“Kami akan menutup total Jalan Trans Nabire–Ilaga di KM 141 Siriwo sebagai bentuk protes adat jika pelaku tidak muncul dan tidak bertanggung jawab,” ujarnya.
Menurut Biles Iyampa, langkah tersebut bukan semata-mata bentuk tekanan, melainkan peringatan agar pemerintah daerah dan aparat penegak hukum serius menangani kasus yang menyangkut keselamatan masyarakat adat.
“Kami ingin pemerintah dan semua pihak tahu bahwa Suku Auye ada. Kami tidak bisa tinggal diam ketika warga kami menjadi korban dan tidak ada pertanggungjawaban,” katanya.
Pihak keluarga korban juga meminta aparat kepolisian segera membantu mengungkap kronologi lengkap kecelakaan di lokasi kejadian, termasuk menelusuri identitas kendaraan maupun pelaku yang terlibat dalam insiden tabrak lari tersebut.
Selain itu, masyarakat berharap persoalan ini dapat diselesaikan dengan kepala dingin tanpa menimbulkan konflik baru, dengan tetap menjunjung tinggi nilai adat, kemanusiaan, dan proses hukum yang berlaku di Papua Tengah.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait perkembangan penyelidikan kasus tabrak lari di depan JNE Karang Tumaritis tersebut. [*].









