Berita

Lima Tahun Penggusuran Rusnawa UNCEN, Mahasiswa Tagih Tanggung Jawab Kampus di Tengah Wisuda

JAYAPURA, TOMEI.ID | Sejumlah mahasiswa penghuni Asrama Rusunawa Putra Universitas Cenderawasih menggelar aksi damai di depan Auditorium UNCEN, Kamis (21/5/2026), menuntut pertanggungjawaban pihak kampus atas penggusuran paksa mahasiswa yang terjadi lima tahun lalu.

Aksi tersebut berlangsung bertepatan dengan pelaksanaan Wisuda Periode II Tahun 2026 Universitas Cenderawasih dan menjadi bentuk protes terbuka mahasiswa terhadap persoalan asrama yang hingga kini dinilai belum diselesaikan secara adil oleh pihak kampus.

Dalam aksi itu, mahasiswa membentangkan spanduk dan menyampaikan orasi yang menyoroti dampak panjang penggusuran Rusunawa Putra pada 21 Mei 2021 silam. Mereka menilai penggusuran tersebut telah menghancurkan hak pendidikan ratusan mahasiswa Papua yang menggantungkan hidup di asrama.

Koordinator Lapangan aksi, Arius Siep, menegaskan bahwa aksi damai dilakukan untuk mengingatkan kembali tanggung jawab moral dan institusional pihak kampus terhadap mahasiswa korban penggusuran.

“Tujuan aksi ini adalah meminta pertanggungjawaban pihak lembaga UNCEN terhadap mahasiswa korban penggusuran paksa Rusunawa lima tahun lalu, tepatnya 21 Mei 2021,” tegas Arius Siep dalam orasinya di depan Auditorium UNCEN.

Menurut mahasiswa, penggusuran tersebut bukan sekadar persoalan pemindahan tempat tinggal, tetapi telah berdampak langsung terhadap keberlangsungan studi mahasiswa Papua yang berasal dari berbagai daerah di pegunungan dan pesisir Papua.

Penanggung Jawab aksi, Yalli Dapla, mengatakan sedikitnya sekitar 400 mahasiswa terdampak akibat penggusuran tersebut. Sebagian mahasiswa bahkan disebut terpaksa berhenti kuliah karena kehilangan tempat tinggal dan tidak mampu bertahan secara ekonomi di Kota Jayapura.

“Banyak mahasiswa akhirnya tidak melanjutkan kuliah karena kehilangan tempat tinggal. Ini bukan hanya soal bangunan, tetapi soal masa depan pendidikan anak-anak Papua,” ujar Yalli Dapla kepada wartawan di lokasi aksi.

Mahasiswa menilai hingga memasuki lima tahun pasca-penggusuran, belum ada langkah penyelesaian yang benar-benar menyentuh kebutuhan korban. Mereka mengaku selama ini hanya mendengar janji tanpa kepastian penyelesaian dari pihak kampus maupun pemerintah.

Dalam aksinya, mahasiswa juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap hak-hak mahasiswa asli Papua yang datang menempuh pendidikan di Jayapura dengan keterbatasan ekonomi dan akses kehidupan.

Menurut mereka, keberadaan asrama mahasiswa seharusnya menjadi ruang perlindungan pendidikan, bukan justru menjadi sumber konflik yang mengorbankan masa depan generasi muda Papua.

Mahasiswa meminta pihak rektorat Universitas Cenderawasih membuka ruang dialog resmi bersama korban penggusuran agar persoalan tersebut dapat diselesaikan secara transparan dan bermartabat.

Selain itu, mereka juga mendesak pemerintah daerah dan pihak kampus segera menghadirkan solusi konkret terkait fasilitas tempat tinggal mahasiswa agar kasus serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.

Aksi damai berlangsung dalam pengawalan aparat keamanan dan menjadi perhatian para tamu undangan wisuda serta masyarakat yang berada di sekitar Auditorium UNCEN.

Mahasiswa menegaskan perjuangan mereka bukan untuk menciptakan konflik, melainkan memperjuangkan hak pendidikan dan keadilan bagi mahasiswa Papua yang selama ini merasa diabaikan.

“Lima tahun kami menunggu kejelasan. Hari ini kami datang bukan membawa kekerasan, tetapi membawa tuntutan keadilan dan tanggung jawab,” tegas Yalli Dapla.

Mahasiswa memastikan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga ada penyelesaian nyata dari pihak kampus terhadap seluruh korban penggusuran Rusunawa UNCEN tahun 2021. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

LMS 2026 Resmi Ditutup, Pemred Suara.com Dorong Terapkan Materi untuk Kemajuan Media Lokal

JAKARTA, TOMEI.ID | Local Media Summit 2026 yang digagas Suara.com resmi ditutup oleh Pemimpin Redaksi…

6 jam ago

IUP Tambang PT Kristalin Resmi Dicabut, PT Antam Disiapkan Kelola Tambang Nabire

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah resmi mencabut Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Kristalin Eka Lestari di…

17 jam ago

Bakom RI Soroti Media Kejar Viralitas, Bagaimana Nasib Kepercayaan Publik?

JAKARTA, TOMEI.ID | Di tengah persaingan media digital yang semakin cepat, mengejar viralitas tidak cukup…

1 hari ago

Bupati Yudas Tebai Dorong Manajemen Talenta ASN Dogiyai, Karier Birokrasi Harus Objektif dan Transparan

JAKARTA, TOMEI.ID | Bupati Dogiyai, Yudas Tebai, mendorong penerapan manajemen talenta Aparatur Sipil Negara (ASN)…

1 hari ago

IFRC 2026 Digelar di Mimika, 17 Tim Rescue Uji Kesiapsiagaan Darurat

TIMIKA, TOMEI.ID | Sebanyak 17 tim dari 16 perusahaan pertambangan dan energi di Indonesia akan…

1 hari ago

IA-ITB Dorong Investasi Mineral dan Migas, SDM Lokal Papua Jadi Prioritas

JAKARTA, TOMEI.ID | Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Pengurus Daerah Papua dan Papua Barat…

1 hari ago