MANOKWARI, TOMEI.ID | Puskesmas Macuan, Distrik Masni Utara, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, memperkuat kesiapan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak melalui sosialisasi Campak dan Campak Rubella serta persiapan pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI), Rabu (30/9/2026).
ORI menjadi salah satu fokus utama respons KLB dengan sasaran anak usia 9 bulan hingga kurang dari 5 tahun. Pelaksanaannya di Kabupaten Manokwari dijadwalkan pada 5–17 Oktober 2026 dengan target cakupan imunisasi 95 persen.
Sosialisasi di Puskesmas Macuan dibuka perwakilan Distrik Masni Utara, Yustinus Pinder, dan melibatkan Kepala Puskesmas Macuan bersama staf, perwakilan Kepala Kampung Sibuni, guru, kepala sekolah PAUD, kader, Penanggung Jawab Surveilans, serta staf Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari.
Dua narasumber memberikan materi dalam kegiatan tersebut, yakni Kepala Puskesmas Macuan Maria Gorety, dan Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari, Mince Wilil. Materi diarahkan pada penanganan KLB, penguatan pelayanan kesehatan, surveilans, pengenalan Campak dan Rubella, serta kesiapan respons imunisasi di masyarakat.
Maria Gorety menjelaskan peran puskesmas dalam merespons KLB Campak, terutama melalui penguatan koordinasi dengan pemerintah distrik, pemerintah kampung, sekolah, kader, dan masyarakat. Koordinasi tersebut diperlukan agar informasi mengenai pencegahan, penemuan kasus, pelaporan, dan pelayanan kesehatan dapat diterima masyarakat secara cepat.
Sementara itu, Mince Wilil memberikan pemahaman mengenai Campak dan Rubella serta mekanisme ORI sebagai bagian dari respons terhadap KLB. Peserta juga dibekali pemahaman untuk mengenali kondisi yang dicurigai sebagai Campak dan segera melaporkannya kepada petugas kesehatan untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur.
Pelaksanaan ORI tidak hanya membutuhkan kesiapan pelayanan imunisasi, tetapi juga pendataan anak sasaran, kesiapan tenaga kesehatan, penyampaian informasi, koordinasi lintas sektor, serta upaya menjangkau keluarga yang berada di wilayah pelayanan Puskesmas Macuan.
Di tingkat lapangan, orang tua menjadi bagian penting dalam memastikan anak yang masuk kelompok sasaran memperoleh imunisasi. Kader, guru, pemerintah kampung, tenaga kesehatan, dan unsur distrik juga berperan menyampaikan informasi serta membantu petugas menjangkau keluarga sasaran.
Dalam penanggulangan KLB, penguatan surveilans dan pelaporan menjadi bagian penting untuk mengenali kasus yang dicurigai sejak dini. Tim Penanggung Jawab Surveilans bersama staf Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari turut mendukung kegiatan tersebut guna memperkuat pencatatan, pelaporan, dan tindak lanjut kasus di lapangan.
Dalam konteks penanggulangan KLB di Kabupaten Manokwari, Dinas Kesehatan sebelumnya melaporkan 70 kasus suspek Campak yang tersebar di delapan wilayah kerja puskesmas hingga pertengahan September 2026. Dari jumlah tersebut, tiga kasus telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.
Data tersebut memperkuat kebutuhan koordinasi antara fasilitas kesehatan, pemerintah distrik, pemerintah kampung, sekolah, kader, dan keluarga. Setiap unsur memiliki peran dalam memastikan informasi kesehatan dapat diterima masyarakat dan anak sasaran tidak terlewat dalam pelaksanaan imunisasi.
Sosialisasi di Puskesmas Macuan sekaligus menjadi ruang penguatan pemahaman lintas sektor mengenai respons KLB. Penanganan tidak berhenti di fasilitas kesehatan, tetapi membutuhkan dukungan lingkungan keluarga, sekolah, kampung, dan masyarakat sebagai bagian dari upaya menjangkau anak sasaran.
Sebagai tindak lanjut, unsur yang terlibat diarahkan mendukung pencapaian target cakupan 95 persen melalui pendataan sasaran, penyebaran informasi, koordinasi, dan pelayanan imunisasi. Penjangkauan kembali juga diperlukan apabila masih terdapat anak sasaran yang belum memperoleh imunisasi setelah pelaksanaan utama.
Dengan ORI yang dijadwalkan pada 5–17 Oktober 2026, sosialisasi di Puskesmas Macuan menjadi bagian penting dari persiapan respons KLB Campak di Kabupaten Manokwari. Fokus berikutnya adalah memastikan informasi sampai kepada keluarga dan seluruh anak dalam kelompok sasaran dapat terjangkau pelayanan imunisasi. [*]










