70 Suspek Campak di Manokwari, Mince Wilil Dorong Respons Cepat dan ORI 95 Persen

oleh -1205 Dilihat

MANOKWARI, TOMEI.ID | Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari, Mince Wilil, menekankan pentingnya respons cepat, deteksi dini, pelaporan, dan keterlibatan masyarakat dalam menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

BACA JUGA: Macuan Perkuat Respons KLB Campak, ORI Ditargetkan Capai 95 Persen

banner 728x90

Penegasan tersebut disampaikan Mince saat memberikan sosialisasi Campak dan Campak Rubella serta penanggulangan KLB Campak Tahun 2026 di Puskesmas Macuan, Distrik Masni Utara, Rabu (30/9/2026).

Sosialisasi diarahkan untuk memperkuat kesiapan masyarakat dan petugas kesehatan sebelum pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) pada Oktober mendatang.

Data yang dipaparkan dalam rangkaian penanggulangan menunjukkan terdapat 70 kasus suspek Campak yang tersebar di delapan wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Manokwari.

Dari jumlah tersebut, tiga kasus telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, sementara 47 kasus atau sekitar 67 persen merupakan balita dan 49 kasus atau sekitar 70 persen tidak memiliki bukti riwayat imunisasi.

Angka tersebut menunjukkan kelompok anak menjadi perhatian utama dalam pengendalian kasus. Data Dinas Kesehatan juga mencatat 34 penderita atau sekitar 49 persen sempat menjalani perawatan di rumah sakit, sementara hingga data tersebut disampaikan belum terdapat laporan kematian akibat Campak.

Mince menjelaskan bahwa penanganan KLB Campak tidak cukup dilakukan setelah anak mengalami sakit. Deteksi dini, penemuan kasus, pelaporan, pemeriksaan, pemantauan, dan respons imunisasi harus berjalan secara terpadu agar potensi penyebaran dapat segera dikendalikan.

Karena itu, masyarakat perlu memahami tanda dan kondisi yang dicurigai sebagai Campak maupun Rubella. Ketika ditemukan anak dengan kondisi yang mengarah pada penyakit tersebut, informasi perlu segera disampaikan kepada petugas kesehatan sehingga pemeriksaan dan tindak lanjut dapat dilakukan sesuai prosedur.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam rangkaian surveilans adalah Kampung Susweni, wilayah kerja Puskesmas Amban. Dalam pemaparan Dinas Kesehatan disebutkan terdapat 13 pasien dalam kurun waktu sekitar 20 hari, sehingga wilayah tersebut menjadi perhatian dalam penguatan pengendalian dan pemantauan kasus.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa respons KLB membutuhkan kerja yang lebih cepat dari sekadar pelayanan terhadap pasien. Penemuan kasus di lapangan harus diikuti pelaporan, pemeriksaan, pemantauan, penelusuran sasaran, serta langkah pencegahan agar penularan tidak meluas ke lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Sebagai respons, Pemerintah Kabupaten Manokwari bersama jajaran kesehatan menyiapkan ORI Campak-Rubella yang dijadwalkan berlangsung pada 5–17 Oktober 2026. Program tersebut menyasar anak usia 9 bulan hingga kurang dari 5 tahun dengan target cakupan imunisasi minimal 95 persen.

Target 95 persen tersebut menuntut kesiapan di tingkat paling dekat dengan masyarakat. Pendataan anak sasaran, penyampaian informasi kepada orang tua, kesiapan tenaga kesehatan, ketersediaan logistik, penentuan lokasi pelayanan, serta koordinasi dengan pemerintah distrik dan kampung menjadi bagian penting sebelum ORI dilaksanakan.

Di Puskesmas Macuan, Mince bersama jajaran kesehatan dan unsur masyarakat mendorong agar target tersebut tidak berhenti sebagai angka cakupan. Sasaran harus terdata dengan baik dan anak yang masuk kelompok sasaran perlu benar-benar dijangkau melalui pelayanan imunisasi sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Kegiatan tersebut diikuti Kepala Puskesmas Macuan Maria Gorety, S.Kep., tenaga kesehatan, perwakilan Kampung Sibuni, guru, pengelola PAUD, kader, serta tim surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari. Keterlibatan lintas sektor diperlukan untuk memperluas penyampaian informasi dan mempercepat penjangkauan keluarga sasaran.

Kepala Puskesmas Macuan Maria Gorety bersama Mince Wilil dan unsur terkait juga mendorong kesiapan lapangan menghadapi pelaksanaan ORI. Tenaga kesehatan, kader, guru, pemerintah kampung, unsur distrik, dan keluarga memiliki peran masing-masing dalam memastikan pelayanan imunisasi dapat menjangkau anak sasaran secara optimal.

Selain pelayanan imunisasi, penguatan surveilans tetap menjadi bagian penting selama penanggulangan KLB berlangsung. Pencatatan, pelaporan, pemantauan kasus, dan koordinasi antarpetugas dibutuhkan agar perkembangan situasi dapat diketahui secara cepat dan setiap temuan memperoleh tindak lanjut.

Pemerintah sebelumnya juga menyiapkan mekanisme sweeping apabila setelah pelaksanaan utama masih terdapat anak sasaran yang belum memperoleh imunisasi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengejar cakupan minimal 95 persen dan memastikan tidak ada kelompok sasaran yang terlewat.

Dengan ORI yang dijadwalkan 5–17 Oktober 2026, perhatian kini bergeser dari tahap sosialisasi menuju kesiapan pelaksanaan di lapangan. Bagi jajaran kesehatan, kecepatan menemukan kasus, kecepatan melaporkan, dan ketepatan menjangkau anak sasaran menjadi rangkaian penting dalam merespons KLB Campak di Manokwari. [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.