Berita

Mahasiswa Mamberamo Raya Tolak Rencana Batalion, Peringatkan Risiko Sosial dan Trauma bagi Warga

JAYAPURA, TOMEI.ID | Forum Mahasiswa Kabupaten Mamberamo Raya menyatakan penolakan tegas terhadap rencana pembangunan batalion militer di wilayah Mamberamo Raya, dengan alasan berpotensi menimbulkan dampak sosial serius bagi masyarakat setempat.

Pernyataan sikap tersebut merupakan hasil konsolidasi internal forum mahasiswa dan disampaikan langsung oleh Ketua Pengurus, Hendrik Pitawa, kepada wartawan di Jayapura, Selasa (28/4/2026).

Hendrik menilai, kebijakan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto itu berisiko mengganggu stabilitas kehidupan masyarakat, terutama di wilayah pedalaman dan pesisir yang rentan terhadap dampak keamanan.

“Pembangunan batalion ini berpotensi merugikan aktivitas masyarakat. Kami belajar dari pengalaman di Papua Pegunungan dan Papua Tengah, di mana warga harus mengungsi akibat situasi keamanan yang memicu trauma militeristik,” tegas Hendrik.

Forum Mahasiswa Mamberamo Raya juga mendesak Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya agar tidak menyetujui rencana tersebut, termasuk Bupati Robby Wilson Rumansara dan Wakil Bupati Keven Totouw yang dinilai memiliki peran strategis dalam menentukan arah kebijakan di daerah.

Menurut Hendrik, pemerintah daerah seharusnya memprioritaskan program pembangunan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kerakyatan, bukan kebijakan yang berpotensi menambah beban sosial warga kampung.

Selain itu, forum mahasiswa meminta DPRD Kabupaten Mamberamo Raya, termasuk perwakilan jalur Otonomi Khusus (Otsus), untuk aktif mengawal aspirasi masyarakat serta mempertimbangkan secara serius potensi dampak sosial dari rencana pembangunan tersebut.

“Jangan sampai masyarakat menjadi korban. Tugas pemerintah adalah menghadirkan kesejahteraan, bukan menambah beban baru bagi rakyat,” ujarnya.

Sebagai bentuk konsolidasi gerakan, Forum Mahasiswa juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, tokoh pemuda, hingga organisasi sipil, untuk menyatukan sikap dalam merespons rencana tersebut secara kolektif.

Pernyataan ini, lanjut Hendrik, merupakan langkah awal untuk mencegah kebijakan yang dinilai berisiko sebelum direalisasikan oleh pemerintah pusat.

Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat tanggapan resmi dari Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya maupun pihak terkait atas penolakan yang disampaikan forum mahasiswa tersebut. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

DPD KP2IT Papua Barat, Pilatus Lagowan Sampaikan Terima Kasih kepada Gubernur atas Bantuan untuk Mahasiswa Yahukimo

MANOKWARI, TOMEI.ID | Dewan Pimpinan Daerah (DPD) KP2IT Provinsi Papua Barat menyampaikan terima kasih dan…

10 jam ago

Kepala K2BPT Apner Itlay Ucapkan Terima Kasih kepada Gubernur Papua Barat

MANOKWARI, TOMEI.ID | Kepala Kerukunan Keluarga Besar Pegunungan Tengah (K2BPT) Provinsi Papua Barat, Apner Itlay,…

10 jam ago

Empat Hari di Gereja GIDI Misia, Mahasiswa Yahukimo Bongkar Posko dan Kembali ke Kontrakan

MANOKWARI, TOMEI.ID | Setelah empat hari bertahan di lingkungan Gereja GIDI Misia, Amban, Manokwari, mahasiswa…

10 jam ago

Gubernur Papua Barat Tangani Krisis Hunian Mahasiswa Yahukimo, Pembina Dorong Asrama Permanen

MANOKWARI, TOMEI.ID | Persoalan tempat tinggal yang dialami lebih dari 100 mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo…

11 jam ago

Pdt. Menaser Labene Klarifikasi Pemberian Dua Anggota Polres Puncak: Amplop Berisi Rp100 Ribu dan Bingkisan Sembako

ILAGA, TOMEI.ID | Hamba Tuhan Pdt. Menaser Labene memberikan klarifikasi terkait kedatangan dua anggota Polres…

11 jam ago

Gubernur Meki Nawipa Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Papua Tengah 8 Persen, OPD Diminta Percepat Kerja Nyata

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, mendorong percepatan kerja seluruh perangkat daerah untuk…

12 jam ago