Berita

Mahasiswa Paniai Desak Pemilihan Kepala Suku Berjalan Transparan dan Sesuai Mekanisme Adat

MANOKWARI, TOMEI.ID | Mahasiswa asal Kabupaten Paniai, Theofilus Richard Yogi, mendesak agar proses pemilihan Kepala Suku di Kabupaten Paniai dilaksanakan secara terbuka, transparan, dan tetap berpedoman pada mekanisme adat yang sah. 

Desakan itu disampaikan di tengah sorotan terhadap proses pemilihan Kepala Suku, yang menurutnya harus terbebas dari intervensi kepentingan politik, ekonomi, maupun kelompok tertentu.

Menurut Theofilus, lembaga adat merupakan benteng yang menjaga identitas, persatuan, serta hak-hak masyarakat adat Papua. Karena itu, setiap penetapan Kepala Suku harus memperoleh legitimasi adat, bukan lahir dari keputusan sepihak atau kepentingan di luar mekanisme adat.

“Kepala Suku bukan sekadar jabatan kehormatan. Itu adalah amanah untuk menjaga persatuan, mempertahankan tanah ulayat, dan melindungi hak-hak masyarakat adat. Karena itu, pemilihannya harus lahir dari legitimasi adat yang sah, bukan keputusan sepihak,” tegas Theofilus dalam pernyataan yang diterima redaksi tomei.id, Sabtu (18/7/2026).

Ia menilai pengabaian terhadap mekanisme adat tidak hanya melemahkan legitimasi Kepala Suku, tetapi juga berpotensi merusak wibawa lembaga adat yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Paniai.

Theofilus mengajak mahasiswa Paniai di berbagai kota studi, tokoh adat, tokoh agama, perempuan adat, dan pemuda untuk mengawal seluruh tahapan pemilihan agar berjalan sesuai nilai-nilai adat. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral sebagai kontrol sosial agar adat tidak diperalat demi kepentingan sesaat.

“Kita tidak ingin lembaga adat kehilangan kepercayaan masyarakat. Jangan sampai adat dijadikan alat untuk memenuhi ambisi kekuasaan atau kepentingan elit. Ruang dialog harus dibuka seluas-luasnya dan setiap proses wajib menghormati mekanisme adat yang berlaku,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Perbedaan pandangan, kata dia, harus diselesaikan melalui musyawarah adat dan dialog yang mengedepankan persaudaraan guna mencegah konflik horizontal.

Menutup pernyataannya, Theofilus mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga marwah adat sebagai warisan leluhur yang tidak boleh dipengaruhi kepentingan apa pun.

“Adat adalah identitas dan harga diri masyarakat Paniai. Mari kita pastikan setiap proses berlangsung jujur, transparan, dan sesuai nilai-nilai leluhur. Jangan pernah menjadikan adat sebagai alat kepentingan sesaat,” pungkasnya. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

IMPT Cup 2026 Resmi Dibuka, Jadi Ajang Kaderisasi dan Seleksi Tim

MANOKWARI, TOMEI.ID | Turnamen Persahabatan IMPT Cup 2026 resmi dibuka di Lapangan IMPT Paptu Cris…

2 jam ago

BERITA FOTO: Sidak Puspem, Deinas Geley Pastikan Pembangunan Dikebut hingga Akhir Tahun

NABIRE, TOMEI.ID | Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, bersama jajaran pemerintah daerah meninjau langsung…

3 jam ago

Sidak Puspem, Deinas Geley Tegaskan Pembangunan Tiga Tower Tuntas 31 Desember

NABIRE, TOMEI.ID | Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, menegaskan pembangunan tiga tower rumah ASN…

3 jam ago

Victor Fun: Ibu Rumah Tangga Perlu Diperkuat untuk Bangun Ekonomi Keluarga

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah, mendorong peningkatan kapasitas ibu rumah tangga dan…

4 jam ago

Kepala Suku Besar SIMPAPITOWA Tutup Layanan Penyelesaian Adat di Jayanti

NABIRE, TOMEI.ID | Kepala Suku Besar SIMPAPITOWA Tota Mapia, Fabianus Tebai, secara resmi menghentikan layanan…

8 jam ago

Kontrakan Mahasiswa Puncak Jaya di Bandung Belum Lunas, IPMAPUJA Desak Pemda Segera Menyelesaikan

BANDUNG, TOMEI.ID | Persoalan pembayaran kontrakan mahasiswa asal Kabupaten Puncak Jaya di Kota Bandung, Jawa…

8 jam ago