Berita

Mahasiswa Uncen Desak Penyelesaian Kasus Penggusuran Asrama Rusunawa

JAYAPURA, TOMEI.ID | Ratusan mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) memblokade gerbang utama Kampus Uncen Atas di Perumnas III Yabansai, Waena, Rabu (21/5/2025).

Aksi ini digelar untuk memperingati empat tahun penggusuran paksa Asrama Mahasiswa Rusunawa pada 21 Mei 2021. Hingga kini, penyelesaian kasus tersebut dinilai belum berpihak kepada para korban.

Sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIT, mahasiswa menutup akses masuk ke kampus sebagai bentuk protes terhadap lambannya penanganan kasus. Mereka menuntut keadilan serta pertanggungjawaban moral dan institusional dari pihak rektorat atas tindakan pengosongan yang dinilai melanggar hak asasi manusia, khususnya hak atas tempat tinggal dan rasa aman.

Menurut mahasiswa, penggusuran tersebut menyebabkan enam orang kehilangan nyawa, satu mahasiswa mengalami gangguan jiwa, dan ratusan lainnya kehilangan berkas penting seperti ijazah, komputer, laptop, dan pakaian. Aksi pengosongan disebut dilakukan secara brutal oleh aparat gabungan TNI-Polri atas perintah Ir. Apolo Safanpo, ST., MT., yang saat itu menjabat sebagai Rektor Uncen dan kini menjadi Gubernur Papua Selatan. Alasan penggusuran dinilai tidak jelas dan tidak logis.

Kamus Bayage, penanggung jawab aksi, menyebut penggusuran dilakukan sepihak dan tanpa dasar hukum yang sah. “Mahasiswa hanya diberi waktu satu jam untuk mengosongkan asrama, tanpa solusi alternatif. Selama empat tahun ini, tidak ada penyelesaian yang jelas. Mahasiswa yang digusur terlantar, dan kampus seolah lepas tangan,” ujarnya.

Mahasiswa memandang peristiwa itu sebagai bentuk kekerasan struktural dan pelanggaran terhadap hak-hak dasar mahasiswa. Mereka juga mempertanyakan alasan pengosongan yang dikaitkan dengan persiapan PON XX Papua, karena asrama yang dikosongkan ternyata tidak digunakan untuk kegiatan olahraga.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan di lokasi aksi, mahasiswa mendesak Rektor Uncen saat ini, Dr. Oscar Oswald O. Wambrauw, untuk membuka ruang dialog dengan para korban, mengakui hak-hak mereka, serta memberikan solusi konkret atas persoalan tempat tinggal yang belum terselesaikan hingga kini.

“Kami tidak ingin kampus hanya mengejar akreditasi dan prestasi administratif, tetapi abai terhadap tanggung jawab sosial dan moral terhadap mahasiswanya,” kata Arius Selaku, koordinator lapangan aksi.

Mahasiswa menegaskan bahwa kampus harus menjadi ruang aman bagi semua. Aksi ini juga menjadi seruan moral kepada seluruh civitas akademika Uncen untuk bersikap solider dan tidak menormalisasi praktik pengabaian terhadap mahasiswa korban.

Meski diawasi ketat oleh aparat keamanan, aksi berlangsung tertib. Sekitar tengah hari, perwakilan mahasiswa diterima dalam audiensi oleh pihak rektorat. Dalam pertemuan tersebut, pihak kampus menyampaikan komitmen untuk mengembalikan hak tinggal mahasiswa di Rusunawa.

Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan mengenai langkah konkret yang akan diambil. Tidak ada informasi rinci terkait rencana renovasi, pendanaan, maupun penyediaan asrama pengganti. Mahasiswa menyatakan akan terus mengawal proses ini hingga kebijakan final yang berpihak kepada korban benar-benar ditegakkan.

“Aksi ini bukan sekadar mengenang luka lama, tetapi juga menuntut tanggung jawab. Hari ini kami berdiri bukan untuk membuat keributan, melainkan untuk mengingatkan: luka ini belum sembuh,” ujar seorang mahasiswa dalam orasinya.

Jika dalam waktu dekat pihak kampus tidak menunjukkan tindak lanjut nyata, mahasiswa menegaskan akan melanjutkan aksi dalam berbagai bentuk hingga keadilan ditegakkan. [*]

Redaksi Tomei

Recent Posts

HUT Ke-4 Papua Tengah Resmi Dimulai, Meki Nawipa: Momentum Perkuat Persatuan dan Gerakkan Ekonomi Rakyat

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah resmi memulai rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun…

17 jam ago

Asrama Mahasiswa Yalimo Garap Kebun Produktif, Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Pangan

MANOKWARI, TOMEI.ID | Asrama Mahasiswa Yalimo Kota Studi Manokwari, Papua Barat, memulai pengembangan kebun produktif…

20 jam ago

Gubernur Meki Nawipa Minta Minimal 30 Persen Dana Otsus Pendidikan Mulai 2027 Dialokasikan untuk Dukung SSH dan Peningkatan Mutu Pendidikan

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa meminta pemerintah provinsi dan delapan pemerintah kabupaten…

21 jam ago

Enam Provinsi di Tanah Papua Sepakati 18 Langkah Perbaikan Tata Kelola Dana Otsus, KPK: Jangan Berhenti di Tanda Tangan

JAYAPURA, TOMEI.ID | Enam pemerintah provinsi di Tanah Papua menyepakati 18 langkah strategis untuk memperbaiki…

22 jam ago

Pendidikan Jadi Prioritas, Gubernur Meki Nawipa Minta Lulusan PGSD Siap Mengabdi hingga Pedalaman

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah menegaskan pembangunan pendidikan tetap menjadi prioritas utama…

24 jam ago

PSHT Manokwari Kukuhkan Warga Baru Tingkat I 2026, Tegaskan Komitmen Jaga Persaudaraan dan Lawan Ketidakadilan

MANOKWARI, TOMEI.ID | Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Kabupaten Manokwari, Ranting Manokwari Barat, Sub…

1 hari ago