Mama Lansia Ditembak Polisi di Dogiyai, Mama-Mama Papua Tuntut Aparat Tanggung Jawab

oleh -1468 Dilihat

NABIRE, TOMEI.ID | Dugaan penembakan terhadap seorang mama lansia, Yulita Ester Pigai (60), di Dogiyai yang disebut melibatkan aparat kepolisian memicu gelombang kemarahan publik dan menjadi sorotan serius di Papua Tengah.

Kasus tersebut mengemuka dalam aksi demonstrasi damai yang digelar Front Rakyat Bergerak di Nabire, Selasa (7/4/2026), dengan mama-mama Papua tampil di garis depan menyuarakan tuntutan keadilan.

banner 728x90

Di Pasar Karang Nabire, suara-suara protes menggema. Para peserta aksi menuntut aparat kepolisian tidak menghindar dari tanggung jawab atas insiden yang dinilai sebagai pelanggaran kemanusiaan.

“Saya mewakili mama-mama Papua meminta kepolisian bertanggung jawab atas penembakan terhadap mama Pigai di Dogiyai,” tegas salah satu orator di hadapan massa.

Dalam orasinya, ia menilai tindakan kekerasan terhadap warga sipil, terlebih terhadap perempuan lanjut usia, tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun. Nada suaranya bergetar, mencerminkan duka yang bercampur amarah.

“Manusia yang dibunuh itu bukan milik polisi, tetapi milik Tuhan. Kami ini ibu dari anak-anak Papua. Kami salah apa?” serunya lantang.

Massa aksi menegaskan bahwa aparat penegak hukum seharusnya menjadi pelindung masyarakat, bukan sumber ketakutan. Peristiwa ini dinilai mencerminkan kegagalan dalam memberikan perlindungan terhadap warga sipil, khususnya kelompok rentan seperti perempuan dan lansia.

Desakan pun diarahkan langsung kepada Kapolres Dogiyai untuk memberikan pertanggungjawaban terbuka. Massa menilai tidak boleh ada pembiaran atau upaya menutup-nutupi kasus yang menyangkut nyawa manusia.

Dalam aksi tersebut, peserta juga menyinggung insiden lain di Dogiyai, yakni penembakan terhadap seorang anak berusia 11 tahun, Maikel Pekei. Rangkaian kejadian ini dinilai menunjukkan persoalan serius dalam pendekatan aparat terhadap masyarakat sipil.

“Kalau ini terus terjadi, di mana rasa aman bagi kami?” ujar salah satu peserta aksi, dengan nada cemas yang mencerminkan ketakutan mendalam masyarakat sipil.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan yang disampaikan dalam aksi tersebut.

Peristiwa ini kembali menegaskan tuntutan masyarakat Papua akan keadilan dan transparansi. Tanpa penjelasan terbuka dan langkah hukum yang tegas, kepercayaan publik terhadap aparat dikhawatirkan akan terus tergerus, sementara luka sosial di tengah masyarakat semakin dalam. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.