DOGIYAI, TOMEI.ID | Setelah puluhan tahun mengabdi sebagai guru di Omakapau Diyoudimi, Cesilius Tekege akhirnya menyaksikan sendiri perjuangan pendidikan yang dahulu dijalani dalam keterbatasan mulai membuahkan hasil nyata bagi generasi muda di kampung tersebut.
Kini, SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia telah hadir di kampung tersebut, sementara pembangunan asrama mulai berjalan setelah Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa melakukan peletakan batu pertama pada Senin (7/9/2026).
Bagi Cesilius, perkembangan itu bukan sekadar pembangunan sebuah sekolah. Ia melihat kembali perjalanan panjang masyarakat Diyoudimi yang sejak puluhan tahun lalu bergotong royong mempertahankan pendidikan anak-anak mereka di tengah keterbatasan guru, fasilitas, dan akses pendidikan.
Momen tersebut membuat Cesilius terharu. Guru yang pernah mengabdikan diri di SD YPPK Santo Yoseph Omakapau Diyoudimi itu kini menyaksikan anak-anak yang dahulu dididiknya tumbuh dewasa, berhasil menempuh berbagai profesi, bahkan salah satunya dipercaya menjadi kepala sekolah di SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia.
“Saya sangat terharu dan bangga. Dulu kami berjuang dengan keadaan yang terbatas. Sekarang sudah ada SMP, dan Gubernur datang langsung untuk meletakkan batu pertama pembangunan asrama,” ungkap Cesilius kepada media ini, Selasa (8/9/2026).
Pendidikan Diyoudimi Berakar Sejak 1956
Perjalanan pendidikan di Omakapau Diyoudimi ternyata jauh lebih panjang daripada masa pengabdian Cesilius. Sekolah rakyat atau Doorps School di wilayah tersebut telah beroperasi sejak 1956 dengan Guru Katakis Nataniel Waiku dari Mimikawee sebagai salah satu guru yang mengawali pendidikan.
Pada 1962, SD Missi Omakapau mulai mendapat subsidi pemerintah. Guru Eria dari Bintuni kemudian datang dan menjadi kepala sekolah pertama. Setelah itu, sejumlah guru datang silih berganti memperkuat pendidikan di kampung tersebut.
Dari generasi ke generasi, sekolah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai urusan sekolah, tetapi sebagai jalan untuk membuka masa depan anak-anak Diyoudimi.
Ketika anak-anak harus melanjutkan pendidikan kelas lima dan enam ke Timeepa atau Bomomani, masyarakat bergotong royong membantu biaya pendidikan.
Dukungan serupa diberikan ketika anak-anak melanjutkan sekolah ke jenjang SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.
“Kalau ada anak pergi sekolah, masyarakat sama-sama bantu. Kami buat ebamukai untuk biaya anak itu,” cerita Cesilius.
Menurut Cesilius, keberhasilan seorang anak dahulu tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga. Seluruh masyarakat ikut merasa memiliki keberhasilan tersebut.
“Satu anak pergi sekolah itu jadi kebanggaan kami. Dari dulu masyarakat Diyoudimi memang bersatu dan fokus bagaimana menghasilkan SDM anak-anak mereka,” tuturnya.
Bertahan Saat Guru Sangat Terbatas
Semangat masyarakat itulah yang kemudian dijalani Cesilius ketika mengabdikan diri di SD YPPK Santo Yoseph Omakapau Diyoudimi pada 1989. Ia bertahan hingga 2002, sekitar 12 tahun, ketika sekolah masih menghadapi kekurangan tenaga guru.
“Waktu itu kami tiga guru. Dua guru kelas, saya guru agama,” kenangnya.
Kondisi semakin berat setelah dua guru lainnya dipindahkan. Cesilius kemudian tinggal bersama Petrus Magai untuk menangani pendidikan anak-anak. Sekolah memiliki empat kelas, sementara tenaga guru sangat terbatas.
Bahkan, sekolah sempat tidak memiliki kepala sekolah. Ketika pihak sekolah meminta Cesilius mengambil posisi tersebut, ia memilih tetap berada di depan kelas sebagai guru.
“Saya tidak mau jadi kepala sekolah. Saya mau mengajar saja,” katanya.
Kekurangan tenaga membuat Cesilius mengajar berbagai kelas dan mata pelajaran agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Pengabdiannya juga tidak berhenti di ruang kelas.
Sebagai guru agama, ia ikut melayani kehidupan gereja dan masyarakat. Ia membantu mempersiapkan anak-anak menerima Komuni Pertama, mendampingi pelayanan perkawinan, memimpin doa, hingga terlibat dalam pelayanan pemakaman.
“Selain mengajar, saya juga ikut pelayanan. Hari Minggu kami bergantian,” tuturnya.
Kedekatan tersebut membuat hubungan Cesilius dengan anak-anak tidak sebatas hubungan antara guru dan murid.
“Mereka anggap kami para guru adalah bapak mereka,” ujar Cesilius.
Guru Keras, Tetapi Mendorong Bakat Anak
Di sekolah, Cesilius dikenal tegas. Ia mengaku keras dalam mendidik, tetapi mengatakan tidak pernah memukul murid. Ia juga berusaha mengenali dan mengembangkan bakat anak-anak melalui kegiatan sekolah, gereja, dan olahraga.
Kemampuan menggambar dan mengukir yang dimilikinya digunakan dalam berbagai kegiatan. Ia juga mendorong anak-anak mengikuti perlombaan agar berani menunjukkan kemampuan.
Salah satu murid yang masih diingatnya adalah Mathias Butu. Mathias pernah mengikuti lomba menggambar hingga meraih juara tingkat distrik dan membawa pulang piala.
“Saya bangga sekali. Anak didik Mathias yang kecil pulang bawa piala juara I waktu itu,” ceritanya.
Cesilius juga membentuk kelompok sepak bola bersama anak-anak muda, antara lain Tunas Kacang dan Teu Banjir.
“Selain belajar di dalam kelas, saya juga poles bakat dan minat mereka lewat olahraga sepak bola. Kami bentuk tim Tunas Kacang dan Teu Banjir waktu itu,” ceritanya.
Guru Bertahan, Masyarakat Menjadi Penopang
Keterbatasan fasilitas menjadi bagian dari keseharian para guru. Cesilius pernah tinggal bersama Modestus Wakei dan Raimund Wakei dalam satu rumah guru. Ketika Matias Magay datang membantu mengajar, keterbatasan tempat tinggal membuatnya harus pulang-pergi dari Kampung Megaikebo setiap hari.
“Rumah guru hanya satu. Jadi Matias datang pagi mengajar, selesai sekolah dia kembali ke Kampung Megaikebo,” tutur Cesilius.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan pendidikan. Masyarakat justru menjadi salah satu penopang utama keberlangsungan sekolah dan kehidupan para guru.
“Guru-guru itu masyarakat sangat hormati. Kebutuhan guru, dari bahan makanan kebun sampai urusan dapur, masyarakat perhatikan,” katanya.
Dukungan masyarakat membuat para guru merasa dihargai dan mampu bertahan menjalankan tugas pendidikan di tengah keterbatasan.
Pergi dalam Tangis, Kembali Melihat Murid Berhasil
Setelah bertahun-tahun mengabdi, Cesilius akhirnya meninggalkan Diyoudimi. Ia bahkan tidak sempat memberitahukan kepergiannya kepada masyarakat.
Ketika warga mendatangi rumah guru dan mendapati tempat tersebut sudah kosong, suasana berubah menjadi haru.
“Laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua semua menangis. Mereka datang, tetapi rumah guru sudah kosong,” kenangnya.
Tahun-tahun berlalu. Anak-anak yang dahulu duduk di depan kelasnya tumbuh dewasa dan menempuh jalan hidup masing-masing. Sebagian menjadi guru, pegawai pemerintahan, hingga anggota DPR.
Pada 2021, ketika Cesilius sedang sakit di Nabire, sejumlah mantan muridnya datang menjenguk. Mereka membawa buah, makanan, minuman, pakaian, serta bantuan sekitar Rp70 juta.
Namun, bagi Cesilius, yang paling menyentuh bukan nilai bantuan tersebut. Ia justru tersentuh oleh ucapan para mantan murid yang mengingat jasa gurunya.
“Bapak, kalau dulu bapak tidak ajar kami baik-baik, mungkin kami tidak seperti ini,” tuturnya, menirukan ucapan mantan muridnya.
Momen itu membuat Cesilius menangis. Baginya, air mata tersebut menjadi gambaran kebahagiaan seorang guru ketika melihat anak didiknya berhasil melewati perjalanan hidup.
Tanah Diberikan Gratis untuk Pendidikan
Perjuangan masyarakat Diyoudimi tidak berhenti pada pembiayaan pendidikan anak. Dalam pembangunan SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia, masyarakat juga secara sukarela memberikan tanah untuk pembangunan sekolah dan asrama tanpa meminta pembayaran.
Bagi Cesilius, keputusan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan telah menjadi kepentingan bersama yang dijaga lintas generasi.
“Tanah ini masyarakat kasih untuk pendidikan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat memang dari dulu punya komitmen untuk sekolah anak-anak. Mereka tidak hitung soal tanah, yang mereka pikirkan bagaimana anak-anak bisa sekolah,” ungkapnya.
Ia mengatakan guru juga memiliki tempat khusus dalam kehidupan masyarakat karena tidak hanya datang mengajar, tetapi ikut membentuk masa depan anak-anak.
“Guru-guru itu masyarakat sangat hormati. Karena guru datang untuk mendidik anak-anak mereka. Jadi masyarakat juga merasa punya tanggung jawab membantu guru dan sekolah,” tuturnya.
Kini SMP Berdiri di Kampung Sendiri
Perjuangan panjang tersebut memasuki babak baru. Salah satu mantan murid Cesilius kini dipercaya menjadi kepala sekolah di SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia.
Anak yang dahulu duduk sebagai murid kini berdiri sebagai pemimpin sekolah dan meneruskan tugas mendidik generasi berikutnya.
Pada tahun ajaran 2026/2027, SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia untuk pertama kalinya menerima siswa baru.
Bagi masyarakat Diyoudimi, kehadiran SMP tersebut bukan sekadar berdirinya bangunan sekolah.
Kehadirannya menjadi kelanjutan dari perjalanan pendidikan yang telah dimulai sejak 1956.
Anak-anak yang dahulu harus pergi ke Timeepa atau Bomomani untuk melanjutkan pendidikan kini memiliki kesempatan belajar di jenjang SMP di wilayah sendiri.
Gubernur Datang, Cesilius Kembali Terharu
Harapan masyarakat semakin nyata ketika Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa hadir di Kampung Omakapau Diyoudimi pada Senin (7/9/2026) dan melakukan peletakan batu pertama pembangunan asrama SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia.
Bagi Cesilius, kedatangan Gubernur ke kampung tempat ia pernah mengabdi menghidupkan kembali ingatan tentang masa ketika dirinya bersama guru-guru lain bertahan dengan fasilitas seadanya.
Kini, kampung itu memiliki SMP. Murid-murid baru mulai belajar. Mantan muridnya menjadi kepala sekolah. Masyarakat memberikan tanah untuk pendidikan. Pembangunan asrama pun mulai berjalan.
“Saya sangat terharu. Dulu kami berjuang dengan keadaan yang terbatas. Sekarang sudah ada SMP, dan Gubernur datang langsung untuk meletakkan batu pertama pembangunan asrama,” ungkapnya.
Menurut Cesilius, semua perkembangan itu tidak lahir secara tiba-tiba.
“Kehadiran SMP dan Gubernur ini adalah buah dari persatuan masyarakat Omakapau Diyoudimi. Dari dulu masyarakat bersatu untuk pendidikan anak-anak,” katanya.
Ia berharap hadirnya SMP dan pembangunan asrama menjadi awal bagi peningkatan kualitas pendidikan di Mapia. Ia juga berharap anak-anak tidak lagi berhenti sekolah karena keterbatasan sekolah maupun tempat tinggal.
“Harapan saya, pendidikan di Mapia harus terus maju. Jangan sampai anak-anak kita berhenti hanya karena tidak ada sekolah atau tempat tinggal. Kalau fasilitas pendidikan sudah ada, guru juga harus diperhatikan dan anak-anak harus didorong untuk terus sekolah sampai perguruan tinggi,” harapnya.
Ia meminta pemerintah, gereja, guru, orang tua, dan masyarakat terus berjalan bersama untuk memastikan anak-anak Mapia mendapatkan pendidikan yang layak.
“Kalau semua bersatu, saya yakin anak-anak Mapia bisa bersaing dan menjadi orang-orang yang berguna bagi masyarakat, daerah dan bangsa,” ujarnya.
Dari Ebamukai hingga Asrama SMP
Perjalanan pendidikan Diyoudimi kini memasuki babak baru. Dahulu masyarakat mengumpulkan dukungan melalui ebamukai agar anak-anak dapat bersekolah. Guru-guru bertahan mengajar meski kekurangan tenaga dan fasilitas. Anak-anak juga harus meninggalkan kampung untuk melanjutkan pendidikan.
Kini, SMP hadir di kampung mereka. Tanah diberikan masyarakat untuk kepentingan pendidikan. Asrama mulai dibangun. Anak-anak pun memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan tanpa harus jauh meninggalkan kampung sejak usia dini.
“Dari generasi ke generasi, perjuangan itu terus berpindah tangan. Dari guru kepada murid. Dari orang tua kepada anak. Dari masyarakat kepada generasi berikutnya. Semua proses ini saya bangga, terharu dan apresiasi,” tuturnya.
Bagi Cesilius, pengabdian seorang guru tidak pernah benar-benar berakhir. Ia pernah datang ketika sekolah kekurangan guru, mengajar berbagai kelas, melayani masyarakat dan gereja, hingga meninggalkan Diyoudimi dalam suasana tangis.
Puluhan tahun kemudian, ia kembali dan melihat murid-muridnya berhasil. Salah satunya bahkan menjadi kepala sekolah. Ia melihat masyarakat tetap mempertahankan semangat pendidikan dengan memberikan tanah untuk pembangunan sekolah dan asrama.
Pada akhirnya, perjalanan panjang itu membawa Cesilius pada satu kesimpulan sederhana: keberhasilan murid menjadi kebanggaan terbesar seorang guru, “Saya bangga”. [*].
WAMENA, TOMEI.ID | Kekeringan ekstrem melanda kawasan Kuyawagi dan sejumlah wilayah sekitarnya di Papua Pegunungan…
JAKARTA, TOMEI.ID | Pendefinisian dan pemaknaan Orang Asli Papua (OAP) kembali menjadi pembahasan pemerintah, Direktorat…
DEIYAI, TOMEI.ID | Anggota DPR Papua Tengah, Daerah Pemilihan (Dapil) 8 Deiyai, Maximus Takimai, mengapresiasi…
MANOKWARI, TOMEI.ID | Mahasiswa Yalimo di Kota Studi Manokwari memperkuat persatuan dan solidaritas melalui ibadah…
DOGIYAI, TOMEI.ID | Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kabupaten Dogiyai mendorong seluruh elemen daerah memperkuat dukungan…
DOGIYAI, TOMEI.ID | Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Dogiyai menggelar layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi…