“Merawat Akar, Menjemput Fajar”: Ziarah Intelektual Frater Yulianus Kadepa Membela Papua Lewat Pena dan Nurani

oleh -11857 Dilihat

JAYAPURA, TOMEI.ID | Dunia literasi dan refleksi intelektual Papua kembali mendapat suntikan karya baru. Frater Yulianus Kebadabi Kadepa kembali menghadirkan buku reflektif berjudul “Merawat Akar, Menjemput Fajar: Rekam Jejak Empat Tahun Mencintai Papua Melalui Kata dan Pena” yang diterbitkan oleh BETA Yogyakarta.

Kehadiran buku tersebut menjadi bagian dari perjalanan intelektual dan pergulatan batin seorang anak muda Papua dalam membaca realitas sosial, kemanusiaan, Gereja, hingga persoalan ketidakadilan yang dihadapi masyarakat Papua melalui tulisan, refleksi, dan puisi.

banner 728x90

Kabar penerbitan buku itu disampaikan dari Kuil Fajar Timur di Bukit Hening Padang Bulan, Jayapura, Senin (26/5/2026). Frater Yulianus Kadepa dikenal sebagai sosok muda Papua yang aktif menulis dan konsisten membangun tradisi literasi kritis di tengah dinamika sosial Papua.

Penulis kata pengantar buku sekaligus rekan seperjalanan akademik Frater Kadepa sejak Seminari Menengah St. Fransiskus Asisi Waena hingga Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur (STFT FT) Abepura menilai Frater Kadepa merupakan figur muda Papua yang memiliki ketekunan kuat dalam proses pembentukan intelektual dan spiritual.

Menurutnya, Frater Kadepa tidak hanya menulis sebagai aktivitas akademik biasa, tetapi menjadikan tulisan sebagai ruang perlawanan nurani dan upaya membela martabat manusia Papua melalui gagasan dan refleksi kritis.

“Saya mengenalnya sebagai sosok yang memiliki semangat belajar dan daya juang yang kuat. Ia membiarkan dirinya dibentuk oleh proses, pengalaman hidup, dan pergulatan panjang hingga akhirnya melahirkan karya-karya reflektif yang berbicara tentang Papua,” tulisnya dalam pengantar buku tersebut.

Ia menilai karya-karya Frater Kadepa merupakan bagian dari perjuangan intelektual generasi muda Papua untuk merebut kembali ruang pengetahuan dan hak kekayaan intelektual Papua yang selama ini banyak dipandang dari sudut pandang luar.

“Frater Kadepa menulis dari pengalaman batin sebagai Orang Asli Papua yang hidup di tengah berbagai realitas ketidakadilan sosial. Tulisan-tulisannya lahir dari pergulatan nurani, lalu menjelma menjadi refleksi yang mencerahkan dan membangkitkan kesadaran,” ungkapnya.

Buku setebal 239 halaman itu terbagi dalam tujuh bagian besar yang memuat refleksi teologis, pastoral, sosial, budaya, ekonomi, politik, hingga kumpulan puisi tentang pengalaman kemanusiaan di Papua.

Bagian pertama mengangkat memori hidup, pendidikan, pembentukan karakter, dan kesadaran sosial dalam kehidupan seminari serta pengalaman keseharian masyarakat Papua. Pada bagian kedua, penulis membahas Gerakan Tungku Api Kehidupan (GERTAK) sebagai model pastoral kontekstual berbasis kerja kebun, spiritualitas ekologis, dan kearifan budaya lokal Papua.

Sementara pada bagian ketiga, Frater Kadepa menghadirkan refleksi tentang teologi pembebasan dan pergulatan sosial Papua melalui pendekatan multidisipliner mulai dari Kitab Suci, filsafat, humaniora, hingga realitas sosial-politik Papua.

Bab berikutnya mengulas pemikiran almarhum Pastor Dr. Neles Kebadabi Tebay terkait pentingnya dialog damai antara Papua dan Jakarta sebagai jalan etis dalam penyelesaian konflik Papua.

Selain itu, buku tersebut juga memuat refleksi tentang pelayanan pastoral Pastor Yance Wadogoubi Yogi di wilayah konflik Intan Jaya, pengalaman misi kemanusiaan di Arso Keerom, hingga kumpulan puisi yang menggambarkan pergulatan iman dan realitas sosial Orang Papua.

MERAWAT AKAR, MENJEMPUT FAJAR merupakan buku karya Yulianus Kebadabi Kadepa dengan kata pengantar ditulis Frater Siorus Ewanaibi Degei, S.S., serta sambutan dari Ben Senang Galus, diterbitkan oleh BETA Yogyakarta dalam cetakan ketiga Oktober 2023 dengan ketebalan 239 halaman yang memuat refleksi teologis, sosial, kemanusiaan, dan pergulatan intelektual Papua melalui pendekatan narasi, opini, serta puisi reflektif.

Melalui karya tersebut, Frater Yulianus Kadepa dinilai sedang merawat akar intelektualitas Papua sekaligus membangun kesadaran baru bahwa tulisan dapat menjadi alat perjuangan moral, ruang refleksi kemanusiaan, dan jembatan harapan bagi masa depan Papua.

Buku “Merawat Akar, Menjemput Fajar” menjadi penegasan bahwa generasi muda Papua terus hadir menyuarakan tanahnya melalui jalan literasi, pemikiran kritis, dan keberanian menjaga nurani di tengah berbagai persoalan kemanusiaan yang masih membayangi Tanah Papua. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.