Pelabuhan Feri Air Mandidi: Antara Jejak Transportasi dan Potensi Wisata yang Terabaikan

oleh -1153 Dilihat

NABIRE, TOMEI.ID | Waktu seakan berhenti di Pelabuhan Feri Kampung Air Mandidi, Nabire, Papua Tengah. Dermaga yang dulunya ramai oleh aktivitas kapal perintis kini sunyi, nyaris terbengkalai, menyisakan jejak fungsi lama yang perlahan dilupakan. Namun di balik kesunyian itu, tersimpan potensi wisata alam yang justru belum tersentuh secara serius.

Bentangan pesisir di kawasan ini menghadirkan lanskap yang utuh: pepohonan rindang tumbuh alami di daratan, sementara deretan pohon kelapa berdiri seolah menjadi penjaga garis pantai. Angin laut berhembus tenang, menyatu dengan suara ombak yang memecah pelan di bibir pantai.

banner 728x90

Dari titik pelabuhan, pandangan terbuka ke arah Tanjung Boratei, sebuah lekukan daratan yang menjadi pemisah visual antara Kota Nabire dan kawasan Pelabuhan Samabusa. Di sisi kanan, aktivitas pelabuhan utama Samabusa tetap berjalan, menghadirkan kontras antara ruang yang hidup dan ruang yang ditinggalkan.

“Ini pelabuhan feri yang sekarang tidak dipakai lagi,” ujar Mama Maria, warga Kampung Air Mandidi, kepada redaksi, Rabu (15/4/2026).

Ia mengisahkan, pelabuhan ini dulunya melayani rute strategis kapal perintis menuju Biak, Waropen, Serui, Wasior hingga Manokwari. Namun, perubahan kondisi alam, khususnya sering surutnya air laut membuat operasional tak lagi memungkinkan, hingga akhirnya dipindahkan ke Pelabuhan Samabusa.

“Setelah tidak difungsikan, semua pindah ke pelabuhan sebelah,” katanya.

Meski kehilangan fungsi utamanya, kawasan ini tidak sepenuhnya mati. Justru, dalam kesederhanaannya, Pelabuhan Feri Air Mandidi menjelma menjadi ruang alternatif bagi masyarakat untuk menikmati keindahan alam terutama saat senja.

Cahaya matahari sore memantul di permukaan laut, menciptakan gradasi warna yang dramatis. Siluet perahu di kejauhan, garis pantai yang tenang, serta langit yang perlahan berubah jingga menghadirkan suasana yang bukan sekadar indah, tetapi juga menenangkan.

“Kalau sore, banyak yang datang di sini untuk foto-foto,” ungkap warga setempat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa daya tarik tempat tersebut tumbuh secara alami, tanpa intervensi besar. Namun di sisi lain, kondisi ini juga menjadi cerminan dari belum hadirnya keseriusan dalam pengelolaan potensi wisata lokal.

Padahal, dengan posisi geografis yang strategis dan lanskap yang kuat, kawasan ini berpeluang besar menjadi salah satu ikon wisata baru di Nabire. Sayangnya, hingga kini belum terlihat langkah konkret untuk menata, melindungi, dan mempromosikan kawasan tersebut secara berkelanjutan.

Pelabuhan Feri Air Mandidi kini berada di persimpangan: tetap menjadi ruang yang perlahan dilupakan, atau dihidupkan kembali dengan wajah baru sebagai destinasi wisata berbasis alam dan budaya.

Di tengah keterbatasan itu, masyarakat telah lebih dulu “menghidupkan” tempat ini dengan cara sederhana datang, menikmati, dan mengabadikan momen. Sebuah isyarat bahwa potensi itu nyata, hanya menunggu untuk diseriusi.

Bagi siapa pun yang ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk, tempat ini menawarkan ketenangan yang jujur. Di sini, senja tidak sekadar peristiwa harian, tetapi pengalaman yang meninggalkan kesan.

Dan mungkin, dari tempat yang nyaris dilupakan ini, harapan baru tentang pariwisata Nabire justru bisa dimulai. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.