PANIAI, TOMEI.ID | Departemen Pemuda Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua menggelar longmarch damai di Enarotali, Kabupaten Paniai, dengan membawa pesan tentang pentingnya perlindungan generasi muda dari berbagai persoalan sosial yang dinilai dapat mengancam masa depan mereka, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan tersebut dipimpin Ketua Departemen Pemuda KINGMI di Tanah Papua, Salmon Degei, M.Th., dan diikuti 14 Koordinator Pemuda serta 105 Biro Pemuda dalam lingkup Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua.
Longmarch berlangsung sebagai bentuk penyampaian kepedulian pemuda gereja terhadap penyalahgunaan minuman keras, narkoba dan ganja, seks bebas, HIV/AIDS, kekerasan, serta berbagai perilaku berisiko yang dapat berdampak terhadap kesehatan, pendidikan, kehidupan keluarga, dan masa depan generasi muda.
Salmon Degei menegaskan, pemuda gereja perlu mengambil bagian dalam menghadapi berbagai persoalan sosial tersebut. Menurutnya, generasi muda tidak boleh hanya menjadi kelompok yang menyaksikan persoalan, tetapi perlu membangun kesadaran, menjaga kehidupan, dan mempersiapkan diri menghadapi tanggung jawab di masa depan.
“Kami tidak mau menjadi generasi yang hancur karena penyakit sosial. Kami mau menjadi generasi yang bangkit, hidup dalam kekudusan, berkarya, dan membawa perubahan bagi Tanah Papua,” kata Salmon.
Ia mengatakan masa depan gereja dan Tanah Papua memiliki hubungan erat dengan kualitas kehidupan generasi muda saat ini. Karena itu, pemuda perlu membangun karakter, meningkatkan kemampuan, menjaga pergaulan, serta mempersiapkan diri agar mampu mengambil peran sebagai pemimpin pada masa mendatang.
“Masa depan generasi penerus ada pada generasi muda. Karena itu, pemuda harus menjaga kehidupan, membangun diri, dan mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin di masa depan,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Departemen Pemuda KINGMI di Tanah Papua menyampaikan lima seruan utama yang menjadi perhatian dalam gerakan pemuda di Paniai.
Pertama, pemuda menyerukan penghentian penyalahgunaan minuman keras, narkoba dan ganja. Penyalahgunaan zat-zat tersebut dinilai dapat menimbulkan dampak luas terhadap kesehatan, pendidikan, pekerjaan, hubungan keluarga, serta masa depan generasi muda.
Kedua, pemuda KINGMI menyerukan perlindungan generasi muda dari seks bebas dan perilaku seksual berisiko. Pemuda didorong untuk menjaga kehidupan, bertanggung jawab terhadap diri sendiri, serta menghargai martabat manusia dalam setiap pergaulan.
Ketiga, peran orang tua dan keluarga perlu diperkuat dalam membentuk karakter anak. Orang tua diharapkan tidak hanya menjadi pengawas, tetapi juga pendidik dan teladan yang memberikan perhatian, pendampingan, serta arahan kepada anak-anak sejak dini.
Keempat, gereja, sekolah, pemerintah, dan masyarakat didorong membangun sinergi untuk menciptakan lingkungan yang sehat, aman, damai, dan mendukung pertumbuhan generasi muda. Kolaborasi lintas pihak dinilai penting karena persoalan sosial tidak dapat ditangani hanya oleh satu kelompok.
Kelima, generasi muda diajak mengarahkan masa depan pada Tuhan, pendidikan, pekerjaan, pelayanan, dan pembangunan. Masa muda diharapkan digunakan untuk mengembangkan kemampuan, menghasilkan karya, serta memberikan kontribusi positif bagi gereja dan masyarakat di Tanah Papua.
Setelah longmarch, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ibadah penutupan yang mengangkat tema “Jangan Hancur di Tengah Krisis Zaman, Bangkit dan Hidup dalam Kristus” berdasarkan Efesus 5:14.
Firman Tuhan dalam ibadah tersebut disampaikan Pdt. Marthen Mauri, S.Th. Pesan yang disampaikan menekankan pentingnya peran orang tua dalam menjaga, mendidik, dan membimbing anak agar mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Generasi muda dinilai perlu dipersiapkan sejak sekarang karena mereka akan menjadi bagian dari kepemimpinan gereja, masyarakat, maupun pemerintahan pada masa mendatang. Pendidikan karakter dan pendampingan keluarga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Pesan tersebut diperkuat dengan firman Tuhan dari 1 Tesalonika 5:22:
“Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” Ibadah dan seluruh rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Koordinator Pemuda Paniai, Pdt. Gerar Gobai, S.Th.
Departemen Pemuda KINGMI di Tanah Papua menegaskan, longmarch tersebut tidak hanya menjadi kegiatan berjalan bersama di jalanan Enarotali. Kegiatan itu menjadi ruang penyampaian pesan kepada generasi muda agar lebih waspada terhadap berbagai persoalan sosial, menjaga kehidupan, memperkuat karakter, dan menggunakan masa muda untuk pendidikan, pelayanan, pekerjaan, serta karya yang bermanfaat.
Gerakan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar gereja, keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat mengambil bagian dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan generasi muda. Dengan dukungan berbagai pihak, pemuda diharapkan mampu mempersiapkan diri sebagai generasi penerus yang memiliki tanggung jawab terhadap masa depan gereja, masyarakat, dan Tanah Papua. [*]










