Peringati Harlah Pancasila, Gubernur Meki Nawipa Tegaskan Pancasila sebagai Fondasi Persatuan dan Perdamaian Dunia

oleh -1233 Dilihat

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah menggelar upacara peringatan Hari Lahir (Harlah) Pancasila Tahun 2026 di Halaman Kantor Gubernur Papua Tengah, Senin (1/6/2026). Momentum nasional tersebut dimanfaatkan untuk menegaskan kembali pentingnya Pancasila sebagai fondasi persatuan bangsa sekaligus pijakan Indonesia dalam memperjuangkan perdamaian dunia.

Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, membacakan pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Yudian Wahyudi.

banner 728x90

Dalam amanatnya, Meki Nawipa menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh dimaknai sebagai seremoni tahunan semata, melainkan menjadi ruang refleksi kebangsaan untuk memastikan nilai-nilai Pancasila tetap hidup dan menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Upacara peringatan tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, hari ini adalah momen refleksi untuk memastikan bahwa api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia,” ujarnya.

Tahun ini, peringatan Hari Lahir Pancasila mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.” Tema tersebut menegaskan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi juga menjadi kontribusi nyata Indonesia dalam mendorong terciptanya perdamaian dunia yang berkelanjutan.

Gubernur Meki menegaskan bahwa Pancasila merupakan “bintang penuntun” yang telah teruji dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Di tengah ketidakpastian global, ancaman konflik, dan potensi fragmentasi sosial, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai bangsa yang mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman.

“Pancasila adalah ‘bintang penuntun’ yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau dan ratusan etnik dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan,” kata Meki.

Lebih lanjut, Pancasila disebut sebagai “jangkar moral” bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik internasional. Indonesia juga dinilai memiliki tanggung jawab konstitusional untuk turut menjaga ketertiban dunia sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

“Pancasila adalah fondasi dari kebijakan luar negeri kita yang bebas aktif. Nilai musyawarah dan mufakat yang kita anut adalah instrumen diplomasi yang sangat dibutuhkan dunia saat ini untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik,” lanjutnya.

Menurutnya, komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia telah diwujudkan melalui berbagai kontribusi nyata, termasuk keterlibatan pasukan perdamaian Indonesia di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), peran dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi memperjuangkan keadilan bagi bangsa-bangsa yang masih mengalami penjajahan.

“Kontribusi pasukan perdamaian Indonesia di bawah bendera Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), peran kita dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi kita dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa terjajah adalah pengejawantahan dari sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Meki Nawipa juga mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi dan kemajuan teknologi harus tetap berpijak pada nilai-nilai moral bangsa. Ia mengajak generasi muda untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup dan terus relevan dalam menghadapi perubahan zaman.

“Jangan biarkan nilai-nilai luhur ini hanya menjadi hiasan di dinding kantor atau teks di buku sejarah,” tegasnya.

Pesan khusus juga disampaikan kepada para menteri, kepala daerah, serta seluruh penyelenggara pemerintahan agar setiap kebijakan publik yang dihasilkan benar-benar berorientasi pada keadilan sosial, melindungi kelompok masyarakat rentan, dan memastikan tidak ada warga negara yang merasa ditinggalkan.

Selain itu, seluruh elemen bangsa diajak untuk terus menjaga persatuan serta melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang berpotensi mengancam harmonisasi kehidupan berbangsa.

“Mari kita teguhkan kembali komitmen kebangsaan kita. Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi religiusitas dengan semangat persatuan dan kuat karena nilai-nilai kemanusiaannya,” kata Meki.

Ia menutup amanatnya dengan menegaskan bahwa selama semangat kebangsaan tetap terpelihara, Pancasila akan terus hidup sebagai jiwa dan pemersatu bangsa Indonesia.

“Selama darah Indonesia masih mengalir di tubuh kita, Pancasila akan senantiasa hidup dalam setiap denyut nadi seluruh anak bangsa di Republik yang kita cintai,” pungkasnya. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.