MANOKWARI, TOMEI.ID | Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Kabupaten Manokwari, Ranting Manokwari Barat, Sub Rayon Asrama Jayawijaya mengukuhkan sekaligus menggelar Syukuran Warga Baru Tingkat I Tahun 2026 di Jalan Tugu Jepang, Manokwari, Minggu (19/7/2026). Momentum tersebut dimanfaatkan untuk menegaskan komitmen organisasi dalam memperkuat persaudaraan, menjunjung keadilan, dan menjaga perdamaian di Tanah Papua.
Mengusung tema “Lawan Ketidakadilan, Bersuara, Menjunjung Tinggi Nilai-Nilai Persaudaraan”, kegiatan itu dihadiri jajaran pengurus cabang, ranting, rayon, warga PSHT, serta para Warga Baru Tingkat I yang baru disahkan.
Ketua Panitia, Petro Wanimbo, mengatakan syukuran tersebut merupakan wujud rasa syukur atas pengesahan warga baru sekaligus menjadi awal pengabdian mereka kepada organisasi dan masyarakat.
Ia juga mengapresiasi seluruh panitia, pengurus, dan warga PSHT yang telah bekerja sama sehingga seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman, dan lancar.
Ketua Sub Rayon Asrama Jayawijaya, Yekson Edi Itlay, menegaskan bahwa status sebagai warga PSHT bukan sekadar pengakuan organisasi, melainkan amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Ia mengajak seluruh warga baru menjadikan ajaran Setia Hati Terate sebagai pedoman hidup, menjaga nama baik organisasi, serta memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Papua.
Pengurus Ranting Manokwari Barat, Rianto Huby, menekankan pentingnya disiplin, loyalitas, dan kekompakan sebagai fondasi membangun organisasi yang kuat dan bermartabat.
Ia berharap seluruh warga baru mampu menjaga marwah PSHT, menghormati sesama warga, serta terus membangun hubungan harmonis dengan masyarakat.
Dalam sambutannya, Ketua Cabang PSHT Kabupaten Manokwari, Mas Hendra, menegaskan bahwa PSHT tidak hanya mengajarkan pencak silat, tetapi membentuk manusia seutuhnya melalui lima ajaran dasar, yakni persaudaraan, olahraga, bela diri, kesenian, dan kerohanian.
Menurutnya, persaudaraan merupakan pondasi utama yang harus dipegang setiap warga PSHT.
“Sebelum menjadi pendekar, seseorang harus mampu menjadi saudara yang menghargai sesama tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan,” tegas Mas Hendra.
Ia menambahkan, ilmu bela diri harus digunakan untuk melindungi yang lemah, menjaga kehormatan, dan menegakkan kebenaran, bukan menjadi alat untuk mencari permusuhan.
Mas Hendra juga mengingatkan seluruh warga agar mengamalkan Tri Bakti PSHT, yakni berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbakti kepada orang tua, serta berbakti kepada guru dan pelatih.
“Ilmu tanpa bakti hanya menjadi kepandaian, sedangkan ilmu yang disertai bakti akan menjadi keberkahan bagi diri sendiri maupun masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Rayon Amban Mazmur, Melli Hubi, mengajak seluruh warga baru untuk tetap rendah hati, menjaga persaudaraan, menghormati para senior, serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia berharap seluruh warga PSHT mampu menjadi pelopor perdamaian sekaligus terus membawa nama baik organisasi di mana pun berada.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah sebagai ungkapan syukur atas pengesahan Warga Baru Tingkat I PSHT Tahun 2026. Melalui momentum tersebut, seluruh warga menegaskan komitmen untuk menjaga nilai-nilai persaudaraan, keadilan, dan kedamaian sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat di Tanah Papua. [*].










