Berita

Serangan AS–Israel ke Iran Guncang Pasar Minyak, Risiko Lonjakan BBM Hantui Indonesia

JAYAPURA, TOMEI.ID | Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar global setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang target strategis di Iran pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat.

Langkah tersebut memicu gejolak di pasar energi dunia yang sangat sensitif terhadap eskalasi konflik di kawasan penghasil minyak utama serta memicu kekhawatiran serius pelaku pasar dan investor global.

Pemerintah Israel menyatakan operasi militer bertujuan menghambat program nuklir Iran. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut fasilitas strategis, termasuk instalasi pengayaan uranium di Natanz, menjadi sasaran serangan, sebagaimana dilaporkan The Washington Post.

Iran dan Pengaruhnya di Pasar Energi

Di tengah sanksi ekonomi, Iran tetap memegang peran penting dalam pasokan energi global. Data Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) menunjukkan produksi minyak Iran sekitar 3,1 juta barel per hari.

Negara ini memiliki cadangan minyak terbesar keempat di dunia dan biaya produksi relatif rendah, menjadikannya pemasok yang tetap kompetitif saat harga global berfluktuasi.

Risiko Gangguan Selat Hormuz

Kekhawatiran terbesar pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Menurut Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 juta barel minyak per hari melintas melalui jalur tersebut. Gangguan distribusi berpotensi mendorong lonjakan harga minyak mentah global sekaligus meningkatkan biaya logistik dan premi asuransi tanker.
Dampak Langsung bagi Indonesia

Lonjakan harga minyak dunia menjadi risiko nyata bagi Indonesia. Jika harga menembus US$100 per barel, tekanan terhadap APBN berpotensi meningkat melalui kenaikan subsidi energi dan kompensasi harga BBM.

Sebagai negara net importir minyak, Indonesia sangat rentan terhadap volatilitas harga energi global. Kenaikan harga minyak dapat memicu inflasi, meningkatkan biaya logistik, dan menekan daya beli masyarakat.

Analis menilai, jika konflik tidak segera mereda, pasar energi global berpotensi memasuki fase volatilitas tinggi. Investor dan pelaku pasar kini mencermati perkembangan geopolitik karena dampaknya dapat menjalar cepat ke stabilitas ekonomi global dan domestik. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Meki Nawipa Minta OPD Integrasikan Data dan Program untuk Tekan Stunting dan Kemiskinan Ekstrem

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, meminta seluruh perangkat daerah dan pemerintah delapan…

2 jam ago

KLB Campak Manokwari, Pemkab Siapkan ORI 5–17 Oktober

MANOKWARI, TOMEI.ID | Pemerintah Kabupaten Manokwari memperkuat langkah penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak dengan…

2 jam ago

Pemprov Papua Tengah Rekrut Petugas Lapangan, Percepat Verifikasi Data OAP di Delapan Kabupaten

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah akan merekrut petugas lapangan untuk mempercepat pendataan,…

3 jam ago

Kemendagri Apresiasi Kinerja Paniai Perkuat Akses dan Mutu Pendidikan

PANIAI, TOMEI.ID | Komitmen Pemerintah Kabupaten Paniai memperkuat akses dan kualitas pendidikan mendapat apresiasi dari…

3 jam ago

Deinas Geley Terima Penghargaan Terbaik I Program 3 Juta Rumah untuk Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, menerima penghargaan Terbaik I Pemerintah Daerah…

3 jam ago

LBH GIDI Resmi Diluncurkan, Perkuat Akses Bantuan Hukum bagi Masyarakat Rentan

JAYAPURA, TOMEI.ID | Gereja Injili di Indonesia (GIDI) resmi meluncurkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) GIDI…

3 jam ago