Berita

Suku Kei Diminta Tidak Memperkeruh Situasi di Kapiraya

DEIYAI, TOMEI.ID | Konflik antarwarga di Distrik Kapiraya, Kabupaten Deiyai, kembali menjadi sorotan setelah menimbulkan kerugian material dan korban jiwa. Salah satu tokoh gereja, Gembala Ev. Neles Peuki, dilaporkan meninggal dunia, disertai korban luka dalam insiden yang terus berulang.

Tokoh masyarakat Deiyai, Petrus Badokapa, menilai konflik tersebut sarat kepentingan dan menyeret kelompok tertentu dalam eskalasi. Badokapa meminta kelompok yang diidentifikasi sebagai Suku Kei untuk tidak memperkeruh keadaan serta menghentikan tindakan yang memicu ketegangan di wilayah adat Kapiraya.

“Konflik di Kapiraya ini tidak sederhana. Suku Kei harus bertanggung jawab karena selama beberapa waktu terakhir diduga menjadi aktor pemicu pertentangan,” ungkap Badokapa kepada tomei.id, Kamis (27/11/2025).

Mantan Ketua DPRD Deiyai periode 2019–2024 tersebut menjelaskan bahwa sebelum kehadiran kelompok Kei, masyarakat adat, khususnya Suku Mee dan Kamoro yang hidup berdampingan secara damai. Menurutnya, batas tanah adat di Kapiraya sesungguhnya telah lama jelas dan diketahui secara turun-temurun: wilayah Mee ditandai dengan tumbuhnya buah merah, sementara area Kamoro ditandai dengan pohon pinang.

“Anak adat Kapiraya mengetahui batas itu dengan baik. Penanda wilayah sudah ditetapkan para leluhur dan dihormati selama generasi,” tutur Badokapa menegaskan.

Sejalan dengan itu, Badokapa mendesak pihak yang dianggap memicu konflik untuk segera angkat kaki dari Kapiraya dan kembali ke daerah asal sehingga situasi tidak semakin memburuk.

“Suku Kei harus sadar diri. Ini bukan tanah asal mereka. Silakan kembali dan jangan terus memicu konflik,” tegasnya.

Melihat eskalasi yang menimbulkan korban dan ancaman keamanan, Badokapa meminta Pemerintah Kabupaten Mimika dan Pemerintah Kabupaten Deiyai untuk segera mengambil langkah konkret dalam penyelesaian batas wilayah serta pemulihan keadaan di Kapiraya.

“Bupati Deiyai dan Bupati Mimika harus bergerak cepat. Warga ingin hidup damai, terlebih Natal hanya tinggal beberapa hari,” desaknya.

Tokoh ini kemudian mengingatkan bahwa penyelesaian sengketa pernah difasilitasi oleh Tapem Provinsi Papua pada 2021, namun pertemuan pembahasan batal terlaksana karena pihak Mimika tidak hadir. Badokapa mempertanyakan kebijakan terbaru Pemerintah Mimika yang justru menunjuk salah satu warga Kei sebagai Kepala Kampung Wakia sebelum konflik diselesaikan dengan tuntas.

“Ketika masih menjabat di DPRD, kami pernah menunggu Pemda Mimika satu minggu penuh di Jayapura, tetapi pertemuan tak terjadi. Sekarang setelah Johanes Rettob menjadi Bupati, justru muncul penunjukan kepala kampung dari kelompok Kei. Publik patut bertanya, apa dasar kebijakan itu?” ujar Badokapa penuh tanya.

Menutup pernyataannya, Badokapa menegaskan bahwa konflik harus segera dihentikan karena masyarakat tengah mempersiapkan momen Natal yang semestinya berlangsung dalam suasana damai dan aman. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

TPNPB Sebut Paskalis Pogau Warga Sipil, Minta Aparat Hentikan Penangkapan Sewenang-wenang

JAYAPURA, TOMEI.ID | Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM menyatakan seorang warga bernama Paskalis Pogau ditangkap…

1 jam ago

Gubernur Papua Barat Wajibkan ASN, Pegawai BUMN, dan BUMD Gunakan Noken Setiap Kamis

MANOKWARI, TOMEI.ID | Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, mewajibkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN),…

2 jam ago

YKKMP Serahkan Barang Bukti Ledakan Maut ke Polres Lanny Jaya, Desak Pelaku Diungkap

WAMENA, TOMEI.ID | Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) bersama Panitia Khusus (Pansus) Kemanusiaan…

2 jam ago

448 Mahasiswa KKN UNIPA Didorong Perkuat Pemberdayaan Masyarakat di Teluk Wondama

MANOKWARI, TOMEI.ID | Ketua Pengelola Kelas Wondama Universitas Papua (UNIPA), Jhony Aninam, mengajak 448 mahasiswa…

2 jam ago

UNIPA Kirim 448 Mahasiswa KKN ke Teluk Wondama Perkuat Pemberdayaan Masyarakat

MANOKWARI, TOMEI.ID | Universitas Papua (UNIPA) mengirim 448 mahasiswa untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata…

3 jam ago

Disdikbud Papua Tengah Tegaskan Informasi Pengajuan Biaya Akhir Studi yang Beredar di WhatsApp adalah Hoaks

NABIRE, TOMEI.ID | Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Papua Tengah menegaskan bahwa informasi mengenai…

5 jam ago