Berita

TPNPB Desak Presiden Prabowo Buka Fakta Kematian Aparat dan Warga Sipil di Papua

NABIRE, TOMEI.ID | Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap III Ndugama Derakma mendesak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk membuka secara transparan informasi terkait kematian aparat militer Indonesia dalam konflik bersenjata di Papua, serta kematian warga sipil yang diklaim terjadi akibat pengungsian paksa dari wilayah Yuguru.

Desakan tersebut disampaikan melalui Siaran Pers Kedua Manajemen Markas Pusat Komando Nasional (KOMNAS) TPNPB, tertanggal Jumat, 6 Februari 2026, berdasarkan laporan resmi Komandan TPNPB Kodap III Ndugama Derakma Batalyon Yuguru, Mayor Yibet Gwijangge.

Dalam siaran pers tersebut, Mayor Yibet Gwijangge menyatakan bahwa pemerintah Indonesia diminta untuk tidak menutup-nutupi fakta kepada publik nasional dan internasional terkait jumlah serta identitas aparat militer Indonesia yang dilaporkan tewas dalam sejumlah kontak senjata antara TPNPB dan aparat keamanan di Kabupaten Nduga dan wilayah konflik bersenjata lainnya di Tanah Papua.

TPNPB juga menyampaikan keterangan terkait peristiwa kematian warga sipil di Kali Soro pada 1 November 2025. Berdasarkan klaim TPNPB, korban merupakan pengungsi asal Yuguru yang meninggalkan kampung halaman akibat operasi militer dan meninggal dunia karena hanyut akibat banjir atau bencana alam, bukan sebagai akibat langsung dari keterlibatan dalam konflik bersenjata.

Dalam pernyataan yang sama, TPNPB mengonfirmasi bahwa tiga dari korban yang meninggal dunia merupakan anggota TPNPB. Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menyampaikan duka cita atas wafatnya seluruh korban, baik warga sipil maupun anggota TPNPB yang meninggal akibat bencana alam.

TPNPB menegaskan bahwa hingga saat pernyataan tersebut diterbitkan, tidak terdapat anggota Batalyon Yuguru yang gugur dalam pertempuran. TPNPB juga menyatakan bahwa sejumlah penangkapan dan penembakan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, berdasarkan klaim organisasi tersebut, menimpa warga sipil yang tidak terlibat dalam struktur maupun aktivitas TPNPB.

Atas dasar itu, TPNPB menyebut Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, bertanggung jawab atas jatuhnya korban sipil yang diklaim sebagai dampak dari operasi militer di wilayah Nduga dan sekitarnya.

Lebih lanjut, TPNPB menuduh aparat militer Indonesia melakukan tindakan yang dikategorikan sebagai pelanggaran hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional. Tindakan tersebut, menurut klaim TPNPB, meliputi pembunuhan warga sipil, pembakaran rumah penduduk, gereja, gedung sekolah, serta pengambilan hewan ternak milik warga. TPNPB menyebut tindakan-tindakan tersebut sebagai kejahatan kemanusiaan dan kejahatan perang.

Sehubungan dengan situasi tersebut, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menyerukan kepada komunitas internasional dan lembaga-lembaga hak asasi manusia internasional untuk mendesak pemerintah Indonesia membuka akses kemanusiaan di Tanah Papua. Seruan tersebut ditujukan guna menjamin keselamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi internal, khususnya bayi, anak-anak, perempuan, lanjut usia, serta warga yang membutuhkan layanan medis.

TPNPB juga menyampaikan kekhawatiran atas pengambilalihan fungsi-fungsi sipil, termasuk pendidikan dan layanan kesehatan, oleh aparat militer di wilayah konflik. Menurut pernyataan TPNPB, kondisi tersebut memperburuk trauma pengungsi dan membatasi akses terhadap bantuan kemanusiaan, yang berdampak pada meningkatnya angka kematian di lokasi pengungsian.

Melalui siaran pers ini, TPNPB mendesak Presiden Republik Indonesia untuk mengembalikan fungsi-fungsi sipil, termasuk sekolah, rumah sakit, rumah ibadah, dan rumah warga, yang diklaim masih digunakan sebagai pos militer di wilayah konflik Papua.

Siaran pers resmi tersebut ditandatangani oleh Sebby Sambom, Jubir TPNPB OPM, serta penanggung jawab nasional KOMNAS TPNPB-OPM: Jenderal Goliath Tabuni (Panglima Tinggi), Letjen Melkisedek Awom (Wakil Panglima), Mayor Jenderal Terianus Satto (Kepala Staf Umum), dan Mayor Jenderal Lekagak Telenggen (Komandan Operasi Umum). [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Musa Boma Serahkan Pernyataan Sikap SIMAPITOWA kepada Menteri HAM, Soroti Pemasangan Papan Nama di Siriwo

NABIRE, TOMEI.ID | Front Peduli Manusia dan Alam Meepago Wilayah SIMAPITOWA Kabupaten Nabire menyampaikan pernyataan…

11 jam ago

FIM-WP Manokwari Soroti Pendidikan di Papua, Dorong Pendidikan Gratis dan Kritik Program MBG

MANOKWARI, TOMEI.ID | Forum Independen Mahasiswa West Papua (FIM-WP) Komite Pimpinan Kota (KPK) Wilayah Manokwari…

12 jam ago

HUT ke-81 RI, Rektor UNIPA Tegaskan Kampus Harus Hasilkan Riset dan Inovasi Berdampak

MANOKWARI, TOMEI.ID | Universitas Papua (UNIPA) menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan…

12 jam ago

Dana Otsus Belum Cair, Sejumlah Program Papua Barat Cerdas Menunggu Kepastian

MANOKWARI, TOMEI.ID | Sejumlah agenda pendidikan dalam program Papua Barat Cerdas masih menunggu kepastian pencairan…

12 jam ago

Pemprov Papua Tengah Daftarkan 50.000 Warga ke JKN, Perluas Akses Kesehatan hingga Kampung

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah terus memperluas jaminan kesehatan masyarakat dengan mendaftarkan…

13 jam ago

Wagub Papua Tengah Tampilkan Identitas Lani dalam Upacara HUT ke-81 RI di Nabire

NABIRE, TOMEI.ID | Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, tampil mengenakan busana adat Suku Lani…

14 jam ago