TPNPB Klaim Tembak Sopir di Trans Wamena-Nduga, Korban Disebut Aris Sanda

oleh -1170 Dilihat

WAMENA, TOMEI.ID | Kelompok yang menamakan diri Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengklaim bertanggung jawab atas penembakan seorang sopir di ruas Trans Wamena–Nduga, Papua Pegunungan, Selasa (15/9/2026).

Korban dalam sejumlah laporan disebut bernama Aris Sanda, seorang sopir yang sedang membawa penumpang dari Wamena menuju Mbua sekitar pukul 09.25 WIT.

banner 728x90

Klaim tersebut disampaikan Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, melalui siaran pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB yang diterima media pada Selasa (15/9/2026).

Sebby menyebut laporan kejadian berasal dari Panglima TPNPB Kodap III Ndugama Darakma, Egianus Kogoya.

Menurut Sebby, korban dituduh sebagai agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang bekerja sebagai sopir. Tuduhan tersebut merupakan klaim dari pihak TPNPB dan belum dapat diverifikasi secara independen.

Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi yang secara lengkap mengonfirmasi tuduhan tersebut maupun keseluruhan kronologi kejadian.

“Manajemen markas pusat Komnas TPNPB telah menerima laporan resmi dari panglima TPNPB Kodap III Ndugama Derakma, Brigjend Egianus Kogeya pada hari ini bahwa kami bertanggungjawab atas penembakan terhadap agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang berprofesi sebagai sopir di jalur trans Wamena-Nduga,” kata Sebby.

Informasi yang beredar menyebut Aris Sanda saat kejadian mengemudikan kendaraan jenis Toyota Hilux berwarna merah dari arah Wamena menuju Mbua dengan membawa sejumlah penumpang. Peristiwa disebut terjadi di kawasan tanjakan Gunung Boy. Informasi mengenai identitas korban dan detail kejadian masih menunggu konfirmasi dari sumber berwenang.

Sejumlah laporan media juga menyebut kendaraan tersebut dihentikan oleh kelompok TPNPB-OPM. Para penumpang kemudian disebut diperintahkan turun dari kendaraan, sementara Aris tetap berada dalam penguasaan kelompok tersebut. Rangkaian informasi ini belum memperoleh konfirmasi resmi yang lengkap dari aparat keamanan.

Nama penumpang yang beredar antara lain Pendeta Tomi Gwijangge (38), Nos (23), Penias (32), Sare (26), Yapet (18), Gier (11), Serminca (13), serta dua penumpang lain yang disebut bernama Didi dan Selti. Daftar tersebut masih merupakan informasi yang beredar dan belum dikonfirmasi secara resmi.

Dalam perkembangan berikutnya, beredar sebuah rekaman video yang memperlihatkan seorang pria yang disebut sebagai Aris berada bersama sejumlah orang bersenjata. Dalam rekaman tersebut, pria itu diminta menyampaikan pernyataan mengenai Papua merdeka.

Salah satu bagian pernyataannya berbunyi: “Saya kasih tahu, memang Papua memang harus merdeka.”

Pria dalam rekaman tersebut juga menyebut dirinya telah bekerja sebagai sopir di Papua sejak 2013 hingga 2026. Ia menyampaikan sejumlah kritik terhadap pemerintah Indonesia serta menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Papua.

Rekaman itu kemudian beredar di media sosial dan menjadi bagian dari informasi yang muncul setelah insiden di jalur Trans Wamena–Nduga. Namun, isi pernyataan dalam rekaman tersebut perlu ditempatkan dalam konteks dugaan penahanan dan tekanan bersenjata.

Karena itu, pernyataan yang disampaikan seseorang ketika berada dalam penguasaan kelompok bersenjata tidak dapat langsung diperlakukan sebagai pernyataan politik yang dibuat secara bebas.

Setelah rekaman tersebut beredar, sejumlah media melaporkan bahwa Aris kemudian ditembak dan kendaraan yang digunakannya dibakar. TPNPB juga mengklaim bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Namun, sampai berita ini disusun, keterangan resmi aparat mengenai kondisi korban, proses evakuasi, serta kronologi lengkap kejadian belum tersedia secara lengkap.

Dalam siaran persnya, TPNPB juga menyampaikan peringatan kepada warga pendatang yang bekerja sebagai sopir taksi dan pengemudi ojek agar menghentikan aktivitas di sejumlah ruas transportasi yang mereka sebut sebagai wilayah konflik.

Jalur yang disebut antara lain Wamena–Nduga, Wamena–Tolikara, Wamena–Yalimo, hingga Wamena–Jayapura. Pernyataan tersebut juga mencakup kawasan Wamena, Habema, Nduga hingga Mumugu.

“Warga imigran Indonesia yang bekerja sebagai tukang ojek dan sopir taksi di jalan trans Wamena-Nduga, Wamena-Tolikara, Wamena-Yalimo, Wamena-Jayapura, dan seterusnya agar hentikan aktivitasnya,” ujar Sambom.

Sebby mengatakan kelompoknya menganggap aktivitas sebagian warga pendatang di kawasan tersebut berkaitan dengan operasi intelijen militer Indonesia. Pernyataan tersebut merupakan posisi yang disampaikan TPNPB dan tidak disertai bukti independen dalam informasi yang tersedia.

“Oleh sebab itu, kami sampaikan kepada warga imigran Indonesia yang bekerja sebagai tukang ojek, sopir taksi dan ASN agar hentikan aktivitasnya sebelum terjadi,” katanya.

TPNPB juga menyatakan aparat keamanan Indonesia dapat melakukan evakuasi terhadap korban dan kendaraan yang disebut telah dibakar. Kelompok tersebut sekaligus meminta warga Papua, termasuk anggota TNI dan Polri yang disebut dalam pernyataannya, agar tidak terlibat dalam proses evakuasi.

Di sisi lain, beredarnya foto dan video terkait insiden tersebut menambah informasi yang beredar di tengah masyarakat. Namun, materi visual yang beredar di media sosial tidak dengan sendirinya dapat menjadi dasar untuk memastikan seluruh kronologi, identitas korban, maupun pihak yang bertanggung jawab tanpa verifikasi dari sumber yang berwenang.

Hingga berita ini diterbitkan, tim redaksi tomei belum memperoleh keterangan resmi secara lengkap dari aparat keamanan mengenai kronologi penembakan, identitas korban, kondisi seluruh penumpang, proses evakuasi, maupun langkah hukum terhadap pihak yang diduga terlibat. Media yang memberitakan kejadian tersebut juga mencatat belum adanya konfirmasi resmi lengkap dari TNI maupun Polri terkait insiden ini.

Karena itu, informasi mengenai Aris Sanda, dugaan penyanderaan, isi rekaman, penembakan, pembakaran kendaraan, serta klaim tanggung jawab TPNPB masih perlu dibaca secara hati-hati sampai terdapat keterangan resmi yang dapat memverifikasi rangkaian kejadian tersebut.

Peristiwa ini sekaligus menempatkan kembali keselamatan warga sipil sebagai perhatian utama dalam situasi keamanan di jalur Trans Wamena–Nduga. Para pengemudi, penumpang, maupun masyarakat yang bergantung pada jalur tersebut berada pada posisi yang membutuhkan kepastian keamanan dan akses transportasi yang terlindungi.

Dengan demikian, redaksi tomei.id terus berupaya memperoleh konfirmasi dari aparat keamanan dan pihak terkait mengenai identitas korban, kondisi para penumpang, kronologi kejadian, serta proses penanganan kasus tersebut. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.