TIMIKA, TOMEI.ID | Sebanyak delapan pemuda Orang Asli Papua (OAP) dari Kampung Ayuka dan Kampung Tipuka, wilayah pesisir Kabupaten Mimika, Papua Tengah, resmi lulus dari Program Apprentice Hospitality angkatan pertama Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) dan kini siap memasuki dunia kerja di sektor perhotelan dan industri hospitality.
Kelulusan para peserta diumumkan dalam kegiatan penutupan pelatihan yang berlangsung di Gedung Serba Guna IPN, Kuala Kencana, Timika, Senin (27/4/2026).
Program tersebut menjadi bagian dari pengembangan sumber daya manusia Papua di sekitar wilayah operasional PT Freeport Indonesia.
Salah satu peserta pelatihan, Lukas Taote, mengaku program tersebut memberikan pengalaman dan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah mereka dapatkan.
“Kami jadi punya harapan baru setelah belajar bagaimana memberikan pelayanan secara profesional yang belum pernah kami dapatkan sebelumnya di bidang hospitality. Saya merasa jauh lebih percaya diri untuk masuk ke dunia kerja di industri perhotelan,” ujar Lukas Taote dalam keterangan yang diterima tomei.id di Nabire, Selasa (12/5/2026).
Selama mengikuti pelatihan intensif selama 3,5 bulan, para peserta mendapatkan pembelajaran mengenai keterampilan pelayanan profesional, etika kerja, komunikasi pelanggan, hingga praktik teknis di bidang hospitality.
Selain itu, peserta juga dibekali kemampuan sebagai petugas pelayanan hotel, camp attendant, dan mess attendant yang dibutuhkan dalam industri perhotelan maupun fasilitas akomodasi perusahaan di Timika.
Senior Vice President Community Relations PT Freeport Indonesia, Nathan Kum, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kapasitas generasi muda Papua, khususnya masyarakat di sekitar area operasional perusahaan.
Menurut Nathan, peserta pelatihan angkatan pertama berasal dari wilayah Ayuka dan Tipuka di sekitar area Portsite dan Cargodock.
“Program ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia Papua di area sekitar operasi Freeport. Saat ini sudah dipersiapkan anak-anak muda pesisir untuk pelatihan tahap kedua dan semuanya tidak dipungut biaya. Mereka datang, belajar, praktik lapangan, hingga siap kerja,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kampung Tipuka, Paulus Polce Muka, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program pelatihan tersebut dan mengaku bangga terhadap capaian para pemuda dari kampungnya.
“Terima kasih atas pelatihan intensif dan kepercayaan yang diberikan kepada anak-anak kami. Semoga mereka semakin percaya diri, memperoleh pekerjaan, dan terus mendapatkan perhatian sehingga dapat meraih keberhasilan,” ujarnya.
Ia berharap para pemuda di wilayah pesisir Mimika dapat memanfaatkan peluang pelatihan kerja tersebut untuk meningkatkan kemampuan profesional dan memperluas kesempatan kerja di luar sektor pertambangan.
Institut Pertambangan Nemangkawi merupakan lembaga pelatihan kerja yang didirikan oleh PT Freeport Indonesia sebagai bagian dari investasi sosial perusahaan dalam meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal Papua agar lebih siap bersaing di dunia kerja.
Saat ini IPN memiliki dua program utama, yakni pelatihan teknis dan nonteknis. Program teknis mencakup jurusan mekanik alat berat, pengelasan, electrician, operator alat berat, operator pabrik, mekanik pabrik, hingga pekerja tambang bawah tanah.
Sementara program nonteknis yang mulai dibuka pada 2026 difokuskan pada pelatihan hospitality untuk mendukung kebutuhan tenaga kerja di sektor perhotelan, katering, dan fasilitas akomodasi perusahaan maupun industri pendukung lainnya.
Sebagai perusahaan tambang mineral terintegrasi terbesar di dunia, PT Freeport Indonesia terus mendorong pengembangan SDM Papua melalui pendidikan, pelatihan kerja, dan peningkatan keterampilan berbasis kebutuhan industri.
Operasi pertambangan PTFI berada di kawasan Grasberg, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, sementara fasilitas pemurnian mineral perusahaan berada di Gresik, Jawa Timur, sebagai bagian dari program hilirisasi industri mineral nasional.[*].









